Cahaya matahari mulai memerah, menunjukkan waktu sore hampir berakhir. Sebagian penduduk Negeri Utara sudah masuk ke dalam rumahnya. Meskipun daerah penduduk mulai sunyi, semua pegawai kerajaan masih sibuk di area kerajaan.
“Bagaimana, Chester?” Sorie datang di depan kastil, berdiri di samping Chester.
“Regu satu sudah siap untuk berangkat menemani Anda,” jawab Chester.
“Kalau Pemburu Kerajaan?” tanya Sorie lagi.
“Sepertinya ayahku sebentar lagi akan siap.”
Chester menengok ke arah Pemburu Kerajaan yang sedang berkumpul bersama dua orang lainnya. Ketiga orang yang merupakan keluarga itu sepertinya sedang melepaskan kepergian salah satu dari mereka.
“Apa Ayah akan baik-baik saja?” Seorang gadis berambut hitam disanggul itu menatap ayahnya dengan tatapan khawatir. “Biarkan aku ikut!”
“Ave, ini hanya misi menjelajah, jadi Perawat Kerajaan tidak perlu turun tangan. Lagipula, kalaupun perang, kau belum bisa ikut karena belum mendapat kekuatan kerajaan,” kata ibunya, sang perawat kerajaan. Wanita berambut hitam yang terurai panjang itu berusaha menenangkan anaknya.
Ayahnya yang berada di antara mereka tersenyum, “Itu benar—”
“Slaine.” Tanpa disadari, Sorie sudah berada di hadapan keluarga pegawai kerajaan itu. “Sudah siap untuk pergi?”
Pria berusia 42 tahun itu mengangguk sambil memegang erat busur panahnya. Rambut hitamnya yang panjang sebahu itu sebagian ditarik dan diikat ke belakang.
“Tentu. Hanya saja, Ave memaksakan dirinya ikut. Padahal tidak boleh, kan? Mia sebagai Perawat Kerajaan saja tidak ikut,” jawab Slaine.
Sorie tertawa kecil, menengok ke arah Ave, “Jangan terlalu serius. Ini bukan peperangan. Ayahmu pasti akan kembali, Ave.”
Ave bersembunyi di balik Mia ketika mendengar namanya disebut oleh sang raja.
“Kenapa dia selalu menghindar? Apa aku menyeramkan?” desah Sorie.
“Mungkin itu karena ekspresi Anda yang selalu serius.” Slaine terkekeh.
“Bisa jadi. Ayo, semuanya sudah siap.” Sorie lebih dulu berjalan menuju pasukannya.
“Tenang saja,” kata Slaine saat melihat putrinya kembali menolak dia pergi, “umurmu sekarang lima belas tahun. Satu tahun lagi kau bisa ikut misi sepertiku, sebagai Perawat Kerajaan.”
Setelah mengelus rambut Ave, Slaine ikut bergabung dengan pasukan misi.
“Harmonis sekali keluargamu, ya, Slaine,” ujar Raven yang juga datang.
“Begitu caramu bicara kepada orang yang lebih tua?” tanya Slaine.
“Umurmu memang 23 tahun lebih tua dariku, tapi pangkatku di sini lebih tinggi,” jawab Raven.
“Itu hanya berlaku pada raja dan bawahannya. Tak apa Yang Mulia Sorie menyebut langsung namaku, tapi kalau kau, aku tak terima,” tukas Slaine.
“Oh, begitukah?” balas Raven.
“Sudahlah, Ayah. Raven hanya iri karena keluarganya tidak seperti kita,” timpal Chester.
“Apa?!” bentak Raven, “kalian tidak terlihat seperti satu keluarga, tahu. Coba kalau kalian berada di satu kubu, sama-sama menjadi perawat kerajaan misalnya.”
“Aturan di sini hanya memperbolehkan satu orang dalam satu jabatan, kau tahu itu, kan? Mana bisa aku dan keluargaku memiliki jabatan yang sama. Ave memang akan menjadi perawat kerajaan seperti ibuku, tapi dia belum mendapat kekuatan kerajaannya. Selain itu, ayahku menjabat sebagai pemburu karena turunan dari kakekku. Seharusnya aku menggantikan ayahku menjadi pemburu beberapa tahun lagi.
“Tapi menteri sebelumnya tidak memiliki keluarga yang bisa menggantikannya, karena itu aku diminta mengambil peran ini. Keluarga kami adalah keluarga yang paling dekat dengan keluarga raja. Itulah mengapa hampir sebagian jabatan kelas atas diberikan pada kami,” jelas Chester, “kau mau menjadi keluarga terdekat raja juga? Tapi, aku tak sudi menjadi saudaramu.”
“Siapa juga yang mau menjadi saudaramu,” cibir Raven, “aku sudah punya, jadi tak butuh lagi.”
“Bukannya kau anak tunggal?” tanya Slaine.
“Aku ini kan, hanya anak angkat keluarga penasihat kerajaan. Kau lupa, ya? Aku punya keluarga asli di luar sana, dengan seorang adik perempuan,” jawab Raven, kemudian menyadari Sorie tengah melambai padanya. “Ah, Raja Sorie sudah menunggu, tuh.”
Slaine yang baru ingat bahwa Raven bukan anak kandung dari keluarganya sekarang, ingin bertanya lebih banyak. Namun, dia terpaksa harus mengurungkan niatnya karena misi akan dimulai. Semua yang ikut misi berkumpul di halaman depan kastil yang luas, berdiri berdampingan membentuk lingkaran.
“Hari ini, tepat saat matahari terbenam, kita akan menjalani misi menuju daerah buram di sebelah selatan yang telah diselidiki oleh Tim Penjelajah. Semua sudah siap?” kata Sorie. Walau tubuhnya kecil, suaranya tetap terdengar tegas.
“Semuanya siap, Raja Sorie!” jawab semua yang ada di sana.
“Bagus,” ujar Sorie. “Oh, ya, Raven. Bagaimana dengan Laura?”
Raven yang berada di sebelah Sorie menajwab, “Putri Laura baik-baik saja di istana. Meskipun kuberitahu ada misi bersama raja, tetap saja dia tidak mau ikut.”
“Sudahlah, biarkan saja dia.”
Sorie kembali berteriak, “Semuanya! Peganglah tangan orang yang berada di samping kanan-kiri kalian! Pastikan erat sehingga tidak ada yang tertinggal saat aku mulai mengaktifkan kekuatan teleportasiku.”
Orang-orang yang ikut misi pun mengerjakan perintah Sorie. Mereka semua memegang erat tangan orang sebelahnya. Sorie juga memegang tangan Chester dan Raven yang berada di kanan-kirinya. Setelah semuanya siap, Sorie bersiap mengaktifkan kekuatannya.
“Aku, sang Raja Utara, Sorie, memanggil kekuatanku untuk misi. Kyouran!”
Bandul kalung Sorie bersinar tepat setelah dia mengucapkan mantra pemanggilnya. Garis putih bercahaya melingkar di sekeliling pasukan, membatasi mereka layaknya pagar.
“Kubawa orang-orang ini ikut bersamaku menuju daerah buram bagian selatan Negeri Utara. Sikki, Kesshen!”
Api biru muncul dari garis putih yang mengelilingi mereka, membentuk pagar tinggi sampai menutupi tubuh. Meskipun api, hawanya sama sekali tidak panas. Justru hawa sejuk petang yang melewati tubuh mereka. Kehadiran api biru itu disertai angin kencang yang membuat rambut dan pakaian mereka serasa mau terbang.
Tak lama, lingkaran api biru itu mengecil, ruang bebas di area itu pun makin sempit. Namun, orang-orang itu tetap diam di tempatnya. Hingga akhirnya api biru itu melewati tubuh mereka. Bukannya terbakar, tubuh mereka menghilang seperti ditelan api tersebut. Lingkaran itu menyusut dengan cepat, lalu lenyap dari halaman kastil.
Bersama orang-orang yang ada di dalamnya.
“Mereka benar-benar berangkat, ya.” Aleart berbicara di depan gerbang istana, menyaksikan perginya beberapa pegawai kerajaan untuk misi.
“Kau tidak ikut, Aleart? Kau masuk regu pertama, kan?” Seorang rekan pengawalnya bertanya.
“Aku ada misi tersendiri,” ujar Aleart yang melenggang pergi sambil menguap, “hei... gantikan aku, ya.”
Rekannya itu tersentak, “Hah?! Enak saja! Ini giliranmu, kan?!”
“Tapi aku ngantuk,” rengek Aleart.
“Kenapa Negeri Utara punya calon Altamis seperti ini, sih?! Kau kira hanya—”
“Aleart!” Pengawal lain memanggil Aleart dengan keras.
Tak menghiraukan rekan pengawalnya sebelumnya, Aleart bertanya, “Ada apa?”
Pengawal yang memanggilnya menujuk ke luar istana, “Seseorang menunggumu.”
Kepala Aleart menoleh ke arah gerbang yang sedikit terbuka karena seseorang datang. Lelaki berambut merah ikal dan berkacamata sedang berdiri di sana, melambai-lambaikan tangannya pada Aleart.