Cahaya biru menerangi seluruh hutan, kemudian menghilang dan menyisakan puluhan orang di hutan tersebut. Sorie memimpin pasukannya menyusuri hutan yang merupakan daerah buram kerajaan.
Tumbuhan hijau dan pohon-pohon tumbuh tinggi dengan subur. Daun-daunnya yang lebar membentuk kanopi, menutupi jalan setapak hutan dari sinar bulan purnama. Alhasil, pasukan kerajaan agak sulit melihat arah.
“Seharusnya kita bawa lentera, ya,” keluh Slaine.
“Kita bisa membuat obor,” ujar Sorie, “aku datang dengan empat puluh prajurit, satu obor mampu menerangi delapan orang, maka kita butuh lima obor.”
“Enam untuk menerangi kita berempat—aku, Slaine, Chester, dan Raja Sorie,” tambah Raven.
“Oke, enam obor. Raven dan Chester, aku butuh bantuan kalian,” pinta Sorie.
“Baik, Yang Mulia,” jawab Raven dan Chester bersamaan.
Chester menyuruh semua orang agar mundur menjauh darinya, menyisakan tanah yang cukup lapang di depannya. Dia merogoh kantong kecil seukuran dompet yang menggantung di pinggangnya. Kantong itu memiliki banyak sekat di dalamnya, berisi masing-masing bibit tanaman yang berbeda. Chester mengambil satu bibit dari salah satu sekat, lalu menjatuhkannya ke tanah. Tanganya dihempaskan ke atas dan seketika tumbuh batang pohon yang besar dari bibitnya, dengan ranting-ranting yang cukup panjang tanpa ada daun atau bunga. Tampak seperti pohon gundul.
Satu bibit yang berbeda dia jatuhkan ke tanah lagi, kemudian muncul rumput-rumput hijau panjang yang menjalar di tanah. Raven membantu Chester mencabuti ranting pohon tersebut dan dibagikan ke lima orang acak.
“Lilitkan seperempat bagian atas batang kayu itu dengan rumput yang kutumbuhkan!” Chester memberi perintah.
Lima orang yang mendapatkan batang kayu itu segera melakukan apa yang dikatakan menteri mereka. Raven juga melakukannya untuk menerangi pegawai kelas atas dan rajanya.
“Lalu Raven.” Chester berkata lagi. “Beri apimu untuk menghidupkan obornya.”
Setelah menyerahkan batang kayu yang dipegangnya pada Slaine, Raven mengambil tabung silinder yang dibawa di pinggangnya. Tabung itu memiliki dua tutup, atas dan bawah. Di dalamnya ada sekat yang membagi tabungnya menjadi dua bagian. Bagian atas berisi korek api, sementara yang bawah berisi air. Persediaan air yang dia bawa memang sedikit, tapi kekuatan Raven dapat memperbesar volumenya. Selama air di tangannya belum hilang sepenuhnya, dia tak membutuhkan tetes air baru.
Korek api dinyalakan oleh Raven, memunculkan api kecil yang hanya bisa menerangi dirinya sendiri. Dengan kekuatannya, api dari korek berpindah ke tangannya, menjadi besar dalam sekejap. Raven mendekati wajahnya ke tangannya—di mana api berkobar di sana— kemudian ditiupnya api itu. Langsung saja api yang sebelumnya hanya terpusat pada satu titik, menyebar ke setiap batang kayu yang dipegang.
Hutan langsung menjadi terang dengan menyalanya obor tersebut. Raven mengatupkan tangan untuk menghilangkan apinya setelah semua obor menyala cukup besar.
“Bagi yang memegang obor, menyebarlah hingga seluruh pasukan dapat melihat jalan dengan jelas!” seru Sorie, “ayo kita lanjutkan perjalanannya.”
Pasukan kerajaan berjalan menjelajah hutan, melihat rimbunnya hutan yang bisa dijadikan komoditas utama untuk meningkatkan kekayaan negara. Beberapa hewan buruan seperti rusa sempat lewat di depan Sorie dan pasukannya. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya Sorie menemukan bekas galian Tim Penjelajah yang menemukan bahan tambang. Raja kecil itu melongokkan kepalanya, melihat berlian dan batu-batu mulia mengkilap di dalamnya.
“Maksudmu ini, Chester?” tanya Sorie.
“Iya. Kalau digali lebih dalam, kita akan lebih banyak mendapatkan komoditas ekspor berupa berlian ini, dan kekayaan negara akan meningkat,” jawab Chester, “rakyat pun akan memperoleh pendapatan lebih banyak.”
“Oke, akan kukirim Tim Penjelajah untuk menggali tempat ini lebih dalam dan kubuka wilayah ini untuk umum agar warga pun bisa mendapat buruan lebih banyak,” ujar Sorie, “Raven, bagaimana menurutmu?”
Raven menjawab, “Itu ide yang bagus, Raja Sorie. Dengan begitu, kesejahteraan warga akan meningkat.”
“Baiklah. Kalau begitu, kita kembali—”
Suara gemuruh terdengar di telinga Sorie, membuatnya berhenti berbicara. Dia menyadari sesuatu yang aneh terjadi. Setelah suara gemuruh mengheningkan suasana, hutan menjadi remang-remang padahal obor masih menyala dan tidak mengecil.
Raven menyalakan api besar di tangannya, mencoba menerangkan pandangan. Namun, tak ada gunanya. Ini bukan awan biasa yang menutupi cahaya bulan, yang nantinya akan hilang. Dalam beberapa menit, keadaan hutan yang remang-remang tidak membaik, malah makin buruk.
“Yang Mulia!” terdengar suara dari arah belakang, “di mana Anda?!”
Sorie menengok ke belakang, mencari prajurit yang memanggilnya. Namun, yang didapatinya hanyalah Raven, Chester, dan Slaine. Tidak terlihat prajurit lain selain mereka karena sesuatu telah mengelilingi mereka, menyebabkan jarak pandang mereka menyempit.
Asap berwarna hitam pekat bergerak pelan memenuhi hutan. Teriakan dari panggilan prajurit yang tak terlihat sosoknya terus terdengar selama asap itu berkembang semakin tebal.
“Apa ini?” tanya Chester, melihat sekelilingnya penuh dengan asap hitam, “kita seperti dibawa ke dunia lain.”
“Aku tak pernah melihat asap setebal ini.” Raven terbatuk-batuk.
“Tenang dulu. Panah Slaine mungkin bisa menerangkan ini,” kata Sorie, “Slaine?”
Tak ada jawaban di sekitar Sorie. Dia baru sadar, Slaine juga tak tampak karena tertutup asap. Di sekitarnya, kini hanya ada Raven dan Chester.
Chester terkesiap mendapati ayahnya ikut menghilang, “Ayah! Kau di mana?!”
“Chester! Yang Mulia Sorie!” Suara Slaine terdengar seperti berpuluh-puluh meter dari tempat berdirinya Chester.