Seekor kumbang badak berjalan menyusuri kayu-kayu yang dipakai sebagai kios jualan di pasar, tanpa ada yang memperhtikan. Berlanjut ke gang kecil yang becek, bertemu dengan semut-semut kecil yang juga lewat.
Hingga di ujung gang, si kumbang beralih dari jalanan yang kotor ke tangan seorang gadis.
“Bagaimana, Kara?”
Kara tak menggubris pertanyaan Felis, dia mendekatkan kumbang ke telinganya, “Ada toko emas di seberang jalan ujung gang ini. Seorang wanita sedang membeli perhiasan dan dompetnya dia bawa di tangan.”
“Target yang bagus,” kata Felis yang langsung tersenyum lebar.
“Tapi, Kak Felis,” Kara membiarkan kumbangnya hinggap di bahunya, “orang yang berkumpul cukup banyak.”
Felis tetap teguh dengan pilihannya, “Kau kira aku tak mampu? Aku sering mengalaminya waktu kita di Negeri Timur. Aku akan pergi, kau cari target lain atau ikut yang lainnya.”
“Baik. Hati-hati, Kak,” ucap Kara.
Felis berlari dengan cepat menyusuri gang tersebut. Toko emas tepat berada di depan gang sehigga dia langsung melesat menyebrang. Tanpa bersuara, gadis selincah kucing itu melewati orang-orang dan mendekati wanita yang baru membeli perhiasan. Langkahnya melambat, Felis berjalan saat akan mengambil dompet yang dipegang si wanita di tangan. Tak sampai satu detik, dompet sudah berpindah tangan.
Sontak si wanita berteriak, “Perampok!”
Barulah saat itu Felis berlari kencang kembali. Beberapa orang encoba menangkapnya, tapi dia berhasil menghindar. Dia naik ke atap dan merogoh dompet yang baru dirampoknya.
Setelah mengambil sepertiga dari harta yang ada di dalam dompet itu, Felis melemparnya kembali ke bawah. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu berusaha menaiki atap untuk menangkap Felis. Gadis perampok yang sudah menunjukkan wajahnya itu sengaja berdiam diri di tempatnya, sengaja menantang orang-orang agar naik.
Namun, ternyata dia tak bisa berlama-lama di sana.
Ada seseorang yang melempar kembang api kerlip biru. Benda itu meledak di langit, menciptakan percikan api yang terang. Dengan diledakkannya kembang api itu, prajurit kerajaan akan datang dalam beberapa detik saja. Langsung saja Felis kabur, berlari cepat meninggalkan kerumunan orang itu.
Felis turun dari atap dan beralih ke jalan lain yang tidak begitu banyak orang berkumpul. Dia berlari tanpa melihat jalan dengan benar. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah menghindar sejauh mungkin dari tempat di mana prajurit kerajaan akan datang. Pandangannya terus tertuju ke belakang, khawatir ada prajurit yang tiba-tiba mengejarnya.
Setelah dirasa cukup jauh, Felis mengurangi kecepatannya. Sambil menghela napas, dia memasang pandangan kembali ke depan—
“Aduh!”
—lalu dia menabrak seseorang.
Tubuh Felis terkapar di tanah gara-gara menabrak seorang lelaki yang tetap berdiri tegak walaupun ditabrak olehnya.
“Hei, kalau lari lihat jalan, dong,” kata lelaki itu.
Felis bangkit, membersihkan baunya yang terkena tanah. Dia menatap lelaki yang ditabrak olehnya. Postur yang lumayan tinggi, rambut seputih salju, mata biru laut, dan...
... seragam pengawal kerajaan dengan pedang di punggungnya.
Gawat! Prajurit kerajaan! decak Felis dalam hati.
Aleart menyapa kembali Felis yang terus menatapnya dengan tatapan syok, “Hoi, kau baik-baik saja?”
Bukannya menjawab pertanyaan Aleart, Felis malah pergi, berlari kembali meninggalkan Aleart yang menatapnya heran.
“Gadis aneh,” gumam Aleart, melanjutkan perjalanannya menuju istana.
---
“Itu calon Altamis-nya Negeri Utara,” kata Levie setelah mendengar cerita ketuanya.
“Sungguh?!” Felis terkejut. “Dia terlihat seperti pengawal amatir, tahu.”
“Jangan nilai orang dari sampulnya, Felis,” balas Levie.
Felis menatap langit-langit, “Ngomong-ngomong, Altamis itu apa?”
Levie yang sedang mengasah pedang pendeknya terlonjak, “Kenapa kau bertanya?! Bukannya di Negeri Timur juga ada?!”
“Aku tahu, aku tahu. Nama lainnya panglima, kan? Tapi, aku tak terlalu paham kenapa ada perbedaan antara Altamis dan Pengawal Senior,” ujar Felis.
“Jangan samakan Altamis dan Pengawal Senior, dong. Mereka beda tingkat,” tukas Levie, “di aliansi ini, pegawai kerajaan dibagi dua antara tingkat atas yang punya kekuatan dan pengawal, kan? Tapi ada pengawal yang bisa naik tingkat, kedudukannya bisa sama seperti menteri dan jajarannya. Itulah Altamis. Tentu saja yang dipilih bukan sembarang pengawal. Dia adalah pengawal terbaik di antara yang terbaik, dipilih berdasarkan kemampuan bertarung dan misi yang diselesaikan selama tiga tahun menjabat. Artinya, butuh tiga tahun masa jabatan dulu baru bisa dicalonkan menjadi Altamis.”
Felis ber-oh pendek, lalu bertanya lagi, “Yang kutabrak tadi baru calon, kan? Lalu Altamis yang sekarang siapa?”
“Altamis bukan jabatan bergilir seperti menteri dan yang lain, Leader.” Riisa yang datang dengan membawa cokelat panas ikut menimpali. “Aku tak paham bagaimana cara mereka memilihnya, tapi tak setiap tahun ada yang namanya Altamis.”
“Hah? Apa? Bagaimana...” Bukannya membuat ketuanya paham, jawaban Riisa justru membingungkannya.
Levie menampar pundak Riisa, “Kau kurang detail.”
“Begini, Felis,” kata Levie yang akhirnya bangkit dari duduknya, mendekati sang ketua, “kalau menteri atau penasihat, setiap ada yang pensiun, pasti langsung ada orang lain yang menjabat setelahnya, kan? Nah, Altamis itu berbeda. Dia hanya akan ada beberapa tahun sekali. Itu karena persyaratan Altamis tidak hanya pengawal terbaik biasa. Calon Altamis harus punya perbedaan yang tinggi dengan pengawal lain.”
Untuk kedua kalinya, Felis ber-oh pendek. “Kalau begitu, sekarang tidak ada Altamis?”
“Menurut data yang dikumpulkan Kara dan Deka, yang terakhir itu sekitar dua puluh tahun yang lalu.”
“Yang benar?!” Kali ini, Felis yang terlonjak. “Selama itu?!”
Riisa menghela napas, “Sudah dibilang kan tadi, persyaratannya sangat tinggi.”
“Lalu... kenapa pengawal yang itu bisa sampai dicalonkan?! Dia—”
“Kubilang jangan menilai orang dari luarnya saja,” potong Levie, “selama tiga tahun ini, nyaris semua misi diselesaikan olehnya. Hanya satu-dua saja yang tidak.”
“Mungkin kasus kita juga akan selesai di tangan calon Altamis itu,” ujar Riisa.
Felis terhenyak mendengar ucapan terakhir Riisa, mengingat dia sempat bertatapan dengan pengawal super itu. “Kalau begitu, bisa ga—”
Braakk!!
Pintu markas mereka dibuka dengan kencang dan keras oleh seseorang, memotong pembicaraan ketiga orang tadi. Hobart sampai di markas dengan napas terengah-engah, terlihat habis lari jarak jauh.
“Ketua, sketsa wajahmu ada di seluruh penjuru kerajaan,” kata Hobart.
“Hah?!” Felis langsung bangkit dari duduknya.
Riisa juga ikut kaget, bahkan dia sempat tersedak minumannya, “Bagaimana bisa?!”
“Kau menunjukkan wajah di hadapan banyak orang, ya?” tanya Hobart pada Felis.
“Iya, sih. Tadi,” jawab Felis enteng.
“Pantas saja!” tukas Hobart, “para warga ternyata pandai dalam menggambar wajah seseorang.”
Felis penasaran, “Memangnya bagaimana? Sangat mirip, ya?”
“Lumayan, sih. Kurasa mereka bisa menemukanmu hanya dengan bermodalkan sketsa itu.” Hobart mencoba mengingat-ingat.
“Sepertinya kau tak bisa keluar lagi, Felis,” ujar Levie, “biarkan saja kami yang bekerja, ya.”
Felis kesal mendengarnya, “Aku akan tetap keluar. Ini satu-satunya pekerjaanku. Lagipula, aku perlu mencari makhluk itu.”