Aleart menatap sketsa wajah Felis di tembok rumah rakyat. Dia terdiam selama beberapa detik tanpa berbicara apa-apa.
“Aleart?” panggi Yuuji di sebelahnya, “ada apa dengan foto perampok itu?”
“Sepertinya dia orang yang menabrakku kemarin,” jawab Aleart, tampak berpikir sejenak, “tak tahu, ah. Aku sudah agak lupa.”
“Itu artinya, kau pernah bertemu dengan salah satu perampok?” Yuuji tersentak.
Aleart beranjak pergi dari poster pengumuman perampok itu, berjalan-jalan kembali di pemukiman warga, “Ya, tapi waktu itu ana aku tahu kalau dia perampok.”
“Sudah dua hari sejak kau ditugaskan, kan? Dan kau belum dapat menangkap siapapun. Apa Raja Sorie menerimanya?” tanya Yuuji.
“Santai saja. Menangkap perampok yang belum diketahui identitasnya secara lengkap itu butuh proses. Raja Sorie pasti mengerti itu,” jawab Aleart enteng.
“Kalau kau butuh bantuan, aku bisa membantumu,” tawar Yuuji mengikuti langkah Aleart.
Kaki Aleart berhenti bergerak. Dia berdiri tegak dan menatap Yuuji yang sedikit lebih pendek darinya. Tangan Aleart menepuk kepala Yuuji, berlanjut mengacak-ngacak rambutnya. Seperti orangtua mengelus anaknya.
“Kau sudah banyak membantu, terima kasih,” kata Aleart kemudian.
Yuuji menepis tangan Aleart, “Jadi kau tak butuh?”
“Walau aku bilang tak butuh, kau akan tetap membantuku, kan?” ujar Aleart.
Cowok yang Aleart ajak bicara itu tidak menjawab. Dia mendengus kecil dan memalingkan muka dari Aleart. Aleart pun tak merespon keheningan yang diciptakan Yuuji. Dia lanjut berjalan kembali dan Yuuji tanpa bersuara mengekor di belakangnya.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan muncul dari dua sahabat karib itu. Posisi mereka pun bertahan. Mereka tetap berbaris, tidak berjalan berdampingan. Hingga teriakan terkejut datang dari belakang Aleart. Persis di belakangnya.
“Kurang ajar!” teriak Yuuji.
Aleart menghentikan langkahnya, hendak menengok ke belakang. Belum sempat matanya menangkap apa yang terjadi, seorang bocah dengan penutup mata menabraknya. Aleart diam melihat Deka yang lewat dan menabrak tanpa bilang apapun setelah itu. Tidak mengejar atau apa, Aleart tetap bergeming di tepatnya. Baru saat Deka menjauh dan mulai menghilang, Yuuji menampar pundaknya.
“Apa, sih?” protes Aleart pada Yuuji yang tadinya diam tapi tiba-tiba menepuknya keras.
Yuuji menunjukkan saku celananya yang kosong, “Kau tak sadar?! Dia itu sudah merampok dompetku! Dia perampok, Aleart!”
Mata Aleart membuka jauh lebih lebar dari sebelumnya. Dengan tampang terkejut luar biasa, dia langsung melesat lari mengejar Deka, meninggalkan Yuuji yang seedang panik.
“Tenang saja!” Aleart menengok ke belakang di sela larinya, “aku akan membawa dompetmu kembali, Yuuji!”
“Hei! Aku ikut!” seru Yuuji yang kemudian ikut berlari.
Aleart terus melangkahkan kakinya, tidak menghiraukan Yuuji yang mengikutinya. Deka bergerak makin jauh. Saat sadar Aleart mengejarnya, dia langsung merogoh dompet Yuuji dan mengambil beberapa lembar uang di dalamnya. Deka menengok ke belakang lalu melempar dompet ke arah Aleart. Cowok prajurit yang sedang serius mengikuti Deka terkejut saat dompet melayang ke arahnya, membuatnya kehilangan konsentrasi dan tertinggal oleh Deka.
Kerumunan orang yang lalu lalang membingungkan Aleart. Dia kehilangan jejak bocah perampok dompet Yuuji. Helai rambut kuningnya bahkan tak terlihat. Aleart mendecak, berniat kembali ke tempat Yuuji semula. Tapi saat dia baru berbalik, Yuuji sudah berada di depannya.
“Aku dapat kembali dompetmu.” Aleart menyerahkan dompet kembali ke pemiliknya.
“Lalu si perampok?” tanya Yuuji.
“Dia berhasil kabur,” jawab Aleart.
Yuuji kembali menampar pundak Aleart, “Kau ini bagaimana, sih? Padahal sudah berhasil menemukannya!”
“Aku lebih mementingkan dompetmu—”
Grataakk!!
Terdengar bunyi kotak-kotak kayu yang terjatuh. Aleart dan Yuuji pun tersentak, langsung berpikir kalau itu bunyi dari langkah bocah perampok yang barusan kabur. Tanpa hitungan mundur, keduanya berlari ke sumber suara. Berharap bisa bergerak cepat tak terhambat, banyaknya orang yang beraktivitas justru memupuskan harapan mereka.
“Kurang ajar kau!”
Terdengar suara bentakan dan tamparan saat Aleart dan Yuuji mendekat. Seseorang yang mengenakan tudung berwarna hitam sedang terduduk di tanah, dimarahi oleh pedagang yang sepertinya dagangannya berantakan karena dia. Wajah si tudung tak terlihat karena dia terus menunduk. Aleart menyesal saat tahu dia mengejar orang yang salah. Merasa tidak tertarik dengan peristiwa yang dia lihat, Aleart beranjak pergi dari sana.
“Ah, kau, Pengawal Kerajaan!”
Kaki Aleart berhenti melangkah bersamaan dengan decakan kesal dari mulutnya. Remaja dengan pedang di punggungnya itu menyesal untuk yang kedua kalinya. Dia baru sadar kalau dia keliling pemukiman masih dalam misi dan memakai seragam. Dan dia akan menjadi yang dibutuhkan saat ada keributan antar warga.
“Apa?” jawab Aleart malas.
Si pedagang menarik orang bertudung itu agar berdiri lalu menyerahkannya kepada Aleart, “Dia sudah mebuat keributan. Bawa dia ke istana dan ber konsekuen—”
“Aku seorang pengelana, Pak,” bela Si Tudung itu, “ada yang harus kukerjakan, jadi tadi aku tak sengaja dan sedang buru-buru.”
“Jangan mengelak! Kau terlihat sangat main-main dan sengaja menabrak kiosku! Kau harus dituntut!” bentak pedagang itu.
Kesal dengan perdebatan tersebut, Aleart terpaksa menimpali, “Tenang, Pak. Baik, usulanmu akan kuterima. Akan kubawa orang ini ke istana.”
Pedagang itu memberi anggukan kepada Aleart sebagai jawaban. Aleart pun menggiring Si Tudung melewati jalan menuju istana. Tentu saja Si Tudung tidak terima dengan perlakuan Sang Pengawal terhadapnya. Dia terus meronta minta dilepaskan.
“Diam dulu!” kata Aleart, “tunggu sampai lumayan jauh dari sini, lalu aku akan melepaskanmu.”
Si Tudung langsung berhenti meronta.
“Kau pasti mau melepaskannya karena malas mengurusinya. Iya, kan?” tanya Yuuji.
“Jangan membaca pikiranku,” tukas Aleart.
Yuuji membantah, “Aku tidak membaca pikiranmu. Kepribadianmu memang seperti itu.”
“Aku sudah dibebani misi perampok, jadi aku tak perlu mengurusi yang satu ini. Mau dia pengelana atau memang warga, aku tak peduli.”
Aleart memperlambat langkahnya. Di jalan yang lumayan sepi itu Aleart melepaskan giringannya.
“Sana pergi,” katanya.
“Terima kasih,” ucap Si Tudung yang tidak langsung pergi, “aku sangat terbantu denganmu. Aku pengelana yang baru datang tadi malam, dan aku sedang mencari penginapan dari tadi. Bisa kau beritahu aku di mana penginapan berada?”
Aleart mendesah, “Untuk seseorang yang bicara tanpa melepas tudungnya?”
Mendengar ucapan Aleart, lelaki itu melepaskan tudungnya. Rambut cokelat tuanya yang digulung ke atas dan ikat kepala yang menutupi sebagian poninya pun terlihat oleh Aleart. Matanya yang dihiasi bulu mata umayan lentik menyiratkan kekhawatiran dan kebingungan. Mungkin terpikir olehnya di mana dia akan tidur nanti.
“Dengar ya, Orang Asing. Maaf, ini mungkin terdengar mengesalkan dan kau akan menganggapku sebagai sosok yang jahat. Aku tak mau membantu orang yang menghambat misiku tanpa bayaran.” Aleart melipat tangannya di dada.
“Meminta suap sekecil apapun akan diberi hukuman lima tahun penjara, Aleart,” kata Yuuji.
“Aku tidak menyuap, hanya menawarkan negosiasi,” elak Aleart.
“Akan kulaporkan pada raja langsung, lho, nanti.”
“Akan kubawa orang ini sebagai pembelaku”
“Memaksa seseorang menjadi pengikutmu akan dikenai hukuman—”
“Sudah, ah!” Aleart jengkel, membuat Yuuji terkikik. “Jangan halangi aku—”
Si Tudung menyela pembicaraan, “Aku akan memberikan apa yang kau mau, Pengawal.”
Aleart dan Yuuji diam menatap ke arah lelaki yang masih lebih pendek dari Yuuji. Wajahnya menyiratkan keseriusan sekarang. Serius bahwa dia mau melakukan apa saja unuk Aleart demi mendapatkan penginapan.
“Kau serius?” tanya Aleart.
“Apa kau sedang misi yang sulit?” Si Tudung malah bertanya balik, tak peduli dengan pertanyaan Aleart.
“Yah, lumayan, soal perampok,” jawab Aleart tanpa tedeng aling-aling.
Seketika, Si Tudung tersenyum lebar, lalu berkata, “Kalau soal itu, aku tahu beberapa.”
“Hah, serius?!” Mata Aleart berbincar, “Tapi kau pengelana, bukan warga.”
“Pengelana yang sudah keliling ke beberapa negeri tentu beda dengan pengelana amatir. Telinga kami selalu sensitif dengan percakapan warga di sekitar, makanya tahu soal apa yang sedang terjadi di negeri ini. Tak ada satu pun dari mereka yang tak bicara tentang perampok itu. Jarang ada yang membicarakan tentang penginapan, atau apa, makanya aku kurang informasi kalau soal itu.” Si Tudung sedikit menyombongkan diri.
Yuuji berkomentar, “Kau lebih memilih mencuri dengar daripada bertanya, ya.”
“Oke, beritahu aku semua yang kau tahu dan aku akan mengantarkanmu ke penginapan paling bagus di sini,” kata Aleart.
Si Tudung mengangguk, “Setelah aku diantar ke penginapan.”
Aleart menolak, “Kau bisa menjebakku nanti. Beritahu aku dulu.”
“Kukira aku akan percaya kau akan langsung mengantarku?” bantah Si Tudung.
“Akan kulaporkan kau ke istana kalau tidak memberitahu—”
“Baik akan kami antar kau ke penginapan, Pengelana Bertudung.”
Alis Aleart naik, dahinya berkerut ke arah Yuuji. Lelaki dengan rambut merah ikalnya yang tersentuh angin pagi itu menarik tangan Si Tudung dan mengajaknya pergi.
“Tunggu, Yuuji! Mau ke mana?” tanya Aleart.
Yuuji menengok ke belakang sambil tetap berjalan, “Mengantar Si Pengelana.
“Tapi, dia belum memberiku informasi!” Aleart berteriak.
“Orang luar yang berada di dalam wilayah Utara pastilah sudah mendapatkan izin dari raja. Benar, kan?” Yuuji bertanya, diikuti anggukan kepala dari pengelana itu. “Dia tamu negeri ini yang telah diakui oleh raja, Aleart. Jangan jadikan dia sanderamu.”