Sorie melepas mahkotanya dan meletakkannya di meja kamarnya. Sinar matahari yang datang melewati kaca jendela terpantul di kristalnya. Pandangannya terpaku pada patung burung hantu di mejanya, teringat pada perjalanan menuju Negeri Barat kemarin.
Kedatangannya tidak disambut oleh hal meriah apapun. Namun begitu pulang, tangannya penuh sampai Raven dan Chester terpana melihat oleh-oleh yang dibawanya.
Kazuo dan Zena memberikan barang khas daerah masing-masing yang jumlahnya tidak sedikit—di antaranya patung maskot negara mereka, burung hantu dan phoenix, yang kemudian Laura mengambil salah satunya. Mereka mungkin berniat menghibur Sorie agar dia tenang, padahal dirinya tak butuh semua itu. Hanya dengan membicarakannya dengan mereka, itu sudah membuatnya lebih tenang.
Setelah melepas atribut raja dari tubuhnya, Sorie yang kini hanya memakai seragam biru tua dan celana hitam layaknya para pegawai langsung merebahkan diri di kasur. Dua hari berselang dari kejadian asap hitam itu, dan dia belum menemukan jalan keluarnya. Selama sehari ini pula, laporan tentang perampok di negaranya belum mereda. Mengingat masalah yang satunya itu, dia baru ingat kalau Aleart mendatanginya tadi pagi untuk melapor.
Sambil berbaring, Sorie mengangkat kertas putih yang berisi tulisan Aleart tentang komplotan perampok. Tertulis di sana mereka tinggal di daerah pojok kerajaan, di dalam hutan dan terpisah dari pemukiman warga. Selain itu, anggota mereka rupanya kurang dari sepuluh. Di bawah semua informasi itu—di pojok bawah kertas—tertulis : BERDASARKAN INFORMASI YANG DIBERIKAN PENGELANA-BARU-KUKENAL-TAPI-LANGSUNG-MINTA-DICARIKAN-PENGINAPAN.
Kalimat itu Aleart tulis dengan huruf besar, menandakan tegasnya tulisan itu. Di bawahnya lagi, dia membubuhkan tanda tangannya sebagai bukti kalau dia sendiri yang menulis.
“Dia benar-benar bisa diandalkan.” Sorie bangga dengan apa yang sudah dilakukan Aleart. “Kurasa aku tak perlu khawatir soal yang satu ini.”
Tubuh mungil Sorie—yang bahkan lebih pendek satu sentimeter dari Laura—bangkit dari rebahnya, beranjak menyimpan informasi dari Aleart. Seketika pupilnya bergerak melihat buku sejarah aliansi di mejanya. Kazuo dan Zena menyuruhnya untuk membaca-baca dan kembali disimpan di Negeri Barat saat pertemuan selanjutnya.
Sorie menghembuskan napas, bingung mau menindaklanjuti masalah yang mana dulu, perampok atau Kanmaki. Mereka sama-sama berbahaya. Para rakyat sudah merasa tidak aman dengan komplotan perampok berkeliaran di sekitar mereka—bahkan katanya ada yang menyamar menjadi warga, beraktivitas seperti yang lainnya, lalu tiba-tiba tetangganya dirampok dan dia pergi dari rumah itu. Karenanya, perampok harus ditumpaskan.
Namun, Kanmaki juga berbahaya. Jika kerajaan terlalu fokus dengan perampok dan meluupakan Kanmaki, dia bisa-bisa sudah bebas dari segelnya. Zena sendiri yang mengatakan segel Pemburu Kerajaan tak sanggup terus-terusan menyegelnya. Dia harus menemukan cara untuk memusnahkan Kanmaki.
Sejak kemarin dia terus memikirkan bagaimana memusnahkan sebuah kekuatan kerajaan yang berupa kemampuan. Berbeda halnya jika kekuatan Kanmaki adalah sebuah alat, dia bisa dengan mudah menghancurkannya.
Ratusan tahun lalu, kekuatan Kanmaki bisa tersegel oleh kekuatan kerajaan lainnya, milik leluhur Selatan. Dari sana dia paham bahwa segel bukan sesuatu yang bisa dipelajari siapa saja, tapi itu adalah kemampuan yang tersimpan dalam beberapa kekuatan kerajaan.
Artinya, yang bisa memusnahkan Kanmaki hanyalah pengguna kekuatan kerajaan. Masalahnya, kekuatan kerajaan mana yang bisa memusnahkan kekuatan lainnya?
“Yang Mulia.” Terdengar suara Slaine dari luar.
Sorie seketika teringat pesan Zena begitu Slaine datang padanya. Dia tak sendirian. Jika dia tak tahu bagaimana cara menyelesaikannya, para pegawainya mungkin bisa menemukan jalan keluar.
Slaine kembali mengetuk pintu kamar, membuat Sorie buru-buru membukanya. Sebelum membuka pintu saja, Sorie merasa ada yang janggal. Tak biasanya ada pegawainya yang mendesaknya seperti ini. Seolah ada peristiwa darurat yang terjadi.
Benar saja. Ekspresi wajah Slaine tak seperti biasanya begitu pintu terbuka.
“Ada apa, Slaine?” tanya Sorie, sadar pemburunya itu sedikit panik.
“Anda harus melihat busur panahku,” jawab Slaine, meminta Sorie untuk langsung mengikutinya tanpa sempat memakai mahkota dan jubahnya.
Slaine membawa Sorie menuruni tangga dan masuk ke ruangannya. Di dalam, Chester duduk di depan meja di mana busur panah Slaine tergeletak di sana. Busur itu bergerak-gerak kencang, tapi sulur-sulur tanaman Chester menghambatnya. Chester berusaha mengendalikan tanamannya agar bisa menahan busur panah Slaine lebih lama. Namun, busur itu bergerak hiperaktif, hingga mampu memutuskan beberapa sulur.
“Lihat ini, Yang Mulia.” Slaine menunjuk bagian tengah busur panahnya. Terdapat kristal berwarna merah yang tertempel di sana. Sebenarnya, kristal itu murni berwarna putih berkilau. Hanya saja, warnanya bisa berubah dalam keadaan tertentu.
Sekarang, warna kristalnya menjadi merah pekat seperti darah. Busurnya pun tak berhenti bergerak seiring memekatnya warna kristal itu. jika saja warnanya bukan merah yang berarti penanda buruk, Slaine tak akan khawatir.
“Gawat,” decak Sorie, sadar firasat buruk sudah menjalar ke pikirannya.
Slaine menanggapi, “Ini berhubungan dengan segelnya. Jika busurnya sudah seperti ini, maka ada sesuatu yang terjadi dengan segel asap hitam.”
“Kanmaki,” gumam Sorie cukup keras.
“Hah?” Chester yang belum tahu apa sebenarnya asap hitam itu pun bingung—begitu pula Slaine.
“Oh, maaf. Kalian belum kuberitahu. Aku dapat informasi dari buku aliansi yang diberikan Kazuo dan Zena. Seperti kata Slaine, asap itu adalah jiwa seseorang. Namanya Kanmaki, musuh bebuyutan keempat leluhur aliansi ini. dia dikutuk oleh leluhur Selatan sehingga jiwanya menyatu dengan kekuatannya,” jelas Sorie.
Slaine mendesah, “Sudah kuduga ini masalah yang besar.”
“Terlalu besar,” timpal Chester.
“Sepertinya kita harus ke hutan itu lagi.” Sorie menatap kalungnya yang tak pernah dia lepas kecuali saat tidur. “Ayo.”
Tanpa mahkota dan jubah, Sorie tak ragu untuk berteleportasi sekarang juga. Dia mengulurkan tangan, menyuruh keduanya saling berpegangan tangan.
Tak lama, cahaya biru teleportasinya muncul, terlihat sampai luar ruangan, melewati sela-sela pintu dan ventilasi. Menghentikan langkah Raven yang kebetulan sedang melewati ruangan itu.
Terbesit di pikirannya ke mana Sorie pergi tanpa mengajak dirinya, tapi kemudian dia teringat sesuatu yang telah menimpa mereka kemarin. Asap hitam. Mereka pergi untuk memeriksanya, artinya ada masalah dengan makhluk berasap itu.
“Raja ke mana lagi, tuh?”
Jantung Raven berdegup lebih cepat saat mendengar suara Aleart tiba-tiba masuk ke telinganya.
“Jangan bikin kaget, dong!” tukas Raven sambil menjitak kepala Aleart.
“Kenapa, sih? Biasa saja, ah! Kau kira kau sendirian di istana besar ini?” balas Aleart.
“Jangan tepat di telingaku!” bentak Raven, “suaramu itu bikin tuli, tahu!”
Aleart bersungut, “Tidak sopan! Raja mau ke mana tadi?”
“Memeriksa segel asap hitam,” jawab Raven.
“Hah?” Aleart menelengkan kepalanya. Dia tak mengerti apa yang dibicarakan Raven karena dia tidak ikut misi dan tak mendengar desas-desus apapun.
“Oh, iya, ya. Kau tak ikut misi malam itu.” Raven baru sadar. “Pantas tak tahu apa-apa.”
“Aku ada misi tersendiri kemarin. Memang apa yang terjadi pada waktu itu?” tanya Aleart.
Raven menghela napas, “Yah, rasanya tak mungkin orang yang nyaris penting sepertimu tidak tahu tentang apapun yang terjadi pada waktu misi. Pasang telingamu baik-baik, Aleart. Aku akan menjelaskan padamu.”
“Tentang asap hitam.”