ALTAMIS : REVIVAL

Disha Kei
Chapter #9

BAB 8 : Sekutu

Kesunyian hutan ditambah mendungnya langit menusuk hati Felis, memaksanya untuk berjalan pelan-pelan. Beberapa kali dia berencana menghentikan perjalanan melihat kondisi hutan bagian selatan. Tapi, dia sudah bersusah payah mencari jalan menuju hutan ini tanpa informasi dari siapapun—karena para warga akan menangkapnya jika dia menampakkan diri. Dia bahkan sempat nyasar ke hutan lain. Butu waktu lebih setengah hari untuk menemukan hutan tempat asap hitam disegel.

Sudah hampir dua jam Felis menjelajah hutan, tapi tidak ada tanda-tanda sesuatu yang disegel di sana. Dia sempat berpikir kalau Hobart sengaja memberikan informasi palsu karena ingin menjahili ketuanya. Daun-daun gugur yang dia lewati bahkan mendengar kata-kata kutukan untuk Hobart keluar dari mulutnya. Peluh sudah memenuhi wajahnya dan akkinya mulai meronta minta berhenti digerakkan.

Felis hampir menyerah dan berniat balik, sampai dia menemukan cahaya terang di tengah-tengah hutan. Dengan perlahan, dia mendekati sumber cahaya. Matanya melebar saat mendapatkan apa yang dicarinya.

“Ini gila...,” kata Felis.

Dia area hutan yang mulai Felis pijak, terdapat segel berisi asap hitam. Asap itu menggumpal seperti bola dan melemparkan dirinya ke seluruh sisi tameng segel. Dia berusaha menghancurkannya, tapi percuma. Begitu gumpalannya menyentuh salah satu isi tameng, dia langsung memantul lalu kembali ke bentuk aslinya, sebuah asap. Erangan berat terdengar merambat melalui udara sampai terlipat Felis berdiri.

“Dasar kerajaan sialan...,” gerutu Kanmaki yang terus-terusan mencoba menembus segel, “padahal aku baru saja bangkit—”

“Permisi, Tuan Asap,” panggil Felis.

Kanmaki tak memiliki mata, tapi dia bergerak dan menjawab Felis sehingga gadis itu tahu panggilannya telah direspon. Felis berjalan maju mendekati Kanmaki. Tak ada rasa takut sedikit pun dalam dirinya. Dia justru merasa takjub dengan apa yang dilihatnya.

“Seorang gadis? Kenapa ada makhluk sepertimu di hutan kosong seperti ini?” tanya Kanmaki.

“Aku datang karena keinginanku sendiri. Kau tahu, sudah lama aku mencarimu, akhirnya kutemukan juga,” jawab Felis yang berkacak pinggang.

Kanmaki terheran, “Mencariku? Gadis kecil sepertimu?”

“Aku bukan gadis kecil!” bentak Felis, “aku sudah 18 tahun!"

Seolah mata Kanmaki beradu dengannya, Felis tak mengalihkan pandangannya sedikit pun. “Waktu aku masih singgah di Negeri Timur beberapa minggu lalu, aku melihatmu. Kumpulan asap terbang mungkin tampak biasa saja. Tapi, yang kulihat ini membentuk tangan. Aneh, bukan?”

"Aku yakin itu bukan asap biasa. Makanya aku kemari. Entah makhluk macam apa kau, aku yakin kau menyimpan kekuatan yang luar biasa. Apakah itu benar?” tanya Felis.

Kanmaki tak langsung menjawab. Dia terdiam sebentar, menganalisa apakah Felis ini berniat buruk padanya atau tidak. Siapa tahu dia adalah suruhan istana yang hendak mengedok informasi.

“Ya,” jawab Kanmaki akhirnya.

“Seberapa besar?”

“Lebih kuat dari kekuatan kerajaan.”

“Siapa kau sebenarnya?”

Sudah pasti, Felis bukan orang istana jika bertanya seperti ini. Kanmaki yakin Raja Utara akan mencari tahu tentangnya lewat para koleganya, sehingga tak mungkin repot-repot mengirim utusan kemari hanya untuk mewawancarainya langsung.

“Kau sendiri, siapa dan untuk apa kemari?” Kanmaki justru balik bertanya.

Felis menginjakkan kaki geram, “Hei, jawab dulu pertanyaanku!”

“Raja kecil itu sangat ketakutan waktu bertemu denganku, tapi kau sama sekali tak merasa terancam. Bahkan sengaja mendatangiku. Siapa kau?”

Tak suka didesak seperti ini, Felis tak punya pilihan lain selain mengalah. “Baik, aku akan perkenalkan diri lebih dulu.”

Gadis itu menaruh tangannya di dada, mengungkapkan siapa dirinya, “Aku adalah ketua kelompok perampok yang datang ke negeri ini demi menemukanmu.”

“Atas dasar apa kau mencariku?”

“Ada tujuan yang harus kucapai, jadi aku butuh kekuatanmu.”

“Kekuatan besar sepertiku dibutuhkan hanya untuk kepentingan perampok? Lucu sekali.”

Felis mendelik begitu Kanmaki berkata seperti itu, balas menukas, “Memangnya kau siapa?! Siluman? Sebesar apa kekuatanmu, hah?!”

“Aku bukan siluman, aku manusia! Aku Kanmaki, pemilik kekuatan yang setara dengan para leluhur kerajaan, kekuatan besar yang jauh lebih kuat dari para pegawai kelas atas sekarang,” cerita Kanmaki, “hanya saja aku dikutuk bersatu dengan kekuatanku, kemudian disegel. Setelah ratusan tahun akhirnya aku bisa terbebas dari segel itu, kini aku bisa membalas dendam atas perlakuan para leluhur kerajaan ini padaku.”

"Aku akan menghancurkan semuanya... semua kerajaaan yang telah mereka bangun selama ini!”

Nada suara Kanmaki yang tiba-tiba meninggi cukup mengagetkan Felis. Setelah memastikan makhluk itu tenang kembali, Felis bertanya, “Jika kau berniat seperti itu, kenapa kau membujuk sang Raja kemarin?”

Kanmaki menukas, “Kau tidak tahu istilah ‘menusuk dari belakang’?”

“Kenapa kau tak menyerang saja dari kemarin? Mereka tak bisa mengalahkanmu, kan?”

“Kau lihat apa yang ada di depanmu?” Kanmaki mulai hilang kesabaran, meladeni pertanyaan-pertanyaan Felis yang dia anggap tak berguna. “Aku yang sekarang hanyalah kekuatan bebas tanpa tubuh, jadi kekuatanku hanya bisa terpakai dua puluh persen. Itu tak cukup kuat untuk menembus tameng segel ini, meski sifatnya sementara.”

“Jadi begitu, ya. Kekuatanmu akan mencapai maksimal jika ada manusia lain yang menggunakannya,” ujar Felis, senyum kemenangan di wajahnya terlihat, “beruntung kau bertemu denganku di sini.”

“Karena kita punya tujuan yang sama.”

Kanmaki tampak heran, “Sama? Apa aku terlalu meremehkan kelompok perampok?”

“Maaf saja, tapi ini bukan kepentingan kelompokku. Ini kepentingan pribadiku.”

Felis melipat kedua tangannya di dada, “Aku juga punya alasan tersendiri... yang membuatku ingin menghancurkan negeri ini.”

Sebelumnya, Kanmaki tak terlihat tertarik dengan sosok perampok di hadapannya. Tapi kali ini, Kanmaki tertegun. Dia tahu yang dikatakan gadis itu bukanlah sebuah kebohongan. Dari sorot matanya, Kanmaki bisa merasakan ada sesuatu di balik itu semua.

Sesuatu yang sama seperti yang ada di tatapan Kanmaki sekarang. Sebuah perasaan yang kuat, besar, dan tak bisa hilang meski sudah bertahun-tahun lamanya. Yang membuat keduanya mau melakukan apa saja, tak peduli apa pun resikonya.

“Kau...” Kanmaki bicara kembali. “... memiliki dendam pada siapa?”

Tanpa berpikir dua kali, Felis menjawab langsung. “Raja. Penguasa mana pun itu, beserta seluruh hal yang dia cintai... akan kumusnahkan.”

Kanmaki terpaku mendengarnya. Dia sama sekali tak menyangka gadis sepertinya menyimpan dendam yang sama besarnya seperti dirinya.

Sebuah kesalahan telah meremehkan ketua perampok satu ini.

Felis terkekeh melihat Kanmaki terdiam cukup lama. Dia kemudian mengulurkan tangan pada Kanmaki. Jarinya kini hanya terpaut beberapa senti dari tameng segel.

“Berkerja samalah denganku, Kanmaki. Kau butuh seorang pengguna, seperti halnya aku butuh kekuatan. Kita capai tujuan itu bersama-sama, dan negeri ini akan hancur di tangan kita.”

Tawa Kanmaki terdengar setelahnya. “Kau pintar negosiasi juga, ya, Gadis Kecil.”

“Namaku Felis. Tolong ingat itu,” dengus Felis, “jadi? Apa kau menerimaku sebagai sekutumu?”

Kata-kata Felis sangat meyakinkan, membuat Kanmaki tak punya alasan untuk menolaknya. Dialah pengguna yang dia cari selama ini, yang dapat membantunya melampiaskan dendamnya.

Mereka bertemu bukan karena kebetulan, tapi takdir yang menuntun keduanya.

Asap Kanmaki bergerak setelah sekian lama terdiam selama pembicaraan mereka berlangsung. Sebuah tangan terbentuk, terulur pula ke arah Felis.

“Raih tanganku,” kata Kanmaki.

Felis terkesiap, “Tapi... lapisan ini—”

“Segel ini akan langsung hancur begitu kau meraih tanganku. Jika kau bergerak cepat, kau hanya akan tersengat beberapa detik.”

Keraguan muncul di hatinya ketika Felis melihat aliran listrik yang tampak di lapisan segel tersebut. Bagaimana rasanya, dia tak tahu.

Felis menarik napas, kemudian menggerakkan tangannya cepat. Begitu jari-jarinya menembus tameng segel, listrik menyengatnya tanpa ampun. Rasanya sakit, tapi itu tak membuat dia berhenti. Dia harus melakukannya demi mendapat kekuatan yang dia inginkan.

Demi memenuhi ambisi dan dendamnya yang telah menyesakkan hatinya sejak dulu.

Tangan Kanmaki memang berwujud asap, tapi ketika Felis menggenggamnya, rasanya seperti menyentuh benda padat. Kanmaki menyambut tangan Felis, balas menggenggamnya kencang.

Pada saat itulah, seluruh kekuatan yang telah hilang dari diri Kanmaki, kembali berpihak padanya.

Lapisan tameng segel pecah dan menjadi abu begitu Felis berhasil meraih tangan Kanmaki. Gelombang udara besar muncul, menumbangkan pohon-pohon di sekitar mereka. Felis menutup matanya, tak mau tertusuk serpihan kayu yang beterbangan. Rambut cokelat tuanya pun berkibar layaknya bendera perang. Tubuhnya nyaris terjengkang jika kakinya tak mampu bertahan di tengah angin kencang ini.

Asap hitam melesat masuk ke tubuh Felis dengan cepat, bersamaan dengan meredanya gelombang udara. Gadis itu langsung terlonjak. Rasanya seperti diberi kejut jantung dalam keadaan sadar atau tersengat listrik ratusan volt. Tak sanggup berdiri, dia jatuh terduduk dengan napas terengah-engah. Tangannya memegang dadanya yang seketika merasa sakit. Dia tak bisa bicara, napasnya belum normal sampai satu menit berlalu.

“Bagaimana rasanya? Itulah yang dialami para pengguna kekuatan saat mendapatkan kekuatannya.” Kanmaki bersuara di pikirannya.

Lihat selengkapnya