ALTAMIS : REVIVAL

Disha Kei
Chapter #10

BAB 9 : Langkah Awal

“Tolong dokumen itu dibawa kemari!”

Hiruk piruk suasana kantor cukup membisingkan, tapi seluruh jurnalis di sana tetap berusaha fokus pada pekerjaannya. Suasana ini tak asing lagi bagi Yuuji, sebagai jurnalis surat kabar yang hampir setiap harinya berkutat di depan mesin ketik.

Kantor Yuuji adalah sebuah penerbit surat kabar dan majalah paling besar di kerajaan. Tak heran ada banyak orang yang bekerja di dalamnya, yang pastinya membuat suasana menjadi ramai. Orang-orang berlalu lalang di depan dan belakang, tak sedikit mengganggu konsentrasi. Walau begitu, Yuuji beruntung masih bisa mengerjakan tugasnya dengan baik.

“Yuuji, bisa kau kerjakan yang ini?” Rekan sekantornya yang duduk tepat di depannya menyerahkan beberapa lembar kertas. “Maaf, seharusnya ini bagianku. Tapi, ada tugas yang lebih penting yang mesti kukerjakan. Aku khawatir tidak bisa menyelesaikan yang ini.”

Yuuji menerima lembaran kertas itu, “Tak masalah. Kebetulan tugasku sebentar lagi selesai. Aku punya waktu untuk membantumu.”

“Terima kasih,” ucap rekannya, “kau ini memang pekerja keras, ya. Tak heran kau merupakan calon Altamis sebelumnya.”

Meski rekan kantornya barusan memujinya, Yuuji tak menjawab apapun. Dia cukup terkejut gelar itu disebut lagi di hadapannya. Sejak dia mengundurkan diri, sudah tak banyak yang menyinggung hal itu dengannya.

Rekannya itu berkata lagi, “Kau mungkin bisa jadi jurnalis paling hebat juga di sini.”

“Jurnalis dan pengawal itu sesuatu yang beda, tahu,” ujar Yuuji sambil tertawa pelan, “aku saja masih belum terlalu mahir dalam hal ini, meski hanya ini yang bisa kulakukan.”

“Yuuji!”

Pekerja lain datang menemui Yuuji, menyerahkan sebuah lipatan kertas kepadanya.

“Apa ini?” tanya Yuuji.

“Temanmu itu barusan kemari. Si calon Altamis itu. Sepertinya, dia ingin menemuimu, tapi tahu kalau jadwal jurnalis itu padat. Jadi, dia hanya titipkan itu,” jelas orang itu sebelum pergi kembali ke pekerjaannya.

Yuuji membatin, Aleart? Jarang sekali dia mengirim seperti ini. Apa ada sesuatu yang penting?

Segera dia buka lipatan kertasnya, lalu membaca deretan kata di baris pertama itu. Maaf, Yuuji. Aku benar-benar minta maaf. Teiber sangat penasaran dengan siapa dirimu sejak pertarunganmu kemarin dan dia tak akan berhenti bertanya sebelum aku menjawab. Jadi, aku memberitahu tentangmu, soal calon Altamis itu.

Yuuji tersentak setelah membacanya. Memang selama ini dia selalu menghindari perbincangan soal Altamis di mana-mana dan Aleart tahu itu. Itulah mengapa Aleart selalu berhati-hati jika bercerita soal misi yang dikerjakannya.

Namun, sudah setahun lewat sejak dia resmi melepas jabatan pengawalnya. Tidak ada artinya kalau dia terus kepikiran soal itu. Dia tak mungkin mengulang waktu, harapannya menjadi Altamis pun tak akan pernah tercapai.

Setelah menghela napas panjang, Yuuji kembali membaca lanjutan surat dadakan yang dikirim Aleart.

Hei, tak kusangka kau masih menyinggung soal itu, Yuuji. Sudah lama kau tak membicarakan hal itu denganku, tapi sepertinya kau mulai menerima takdirmu, ya. Jika kau tak keberatan, aku senang sekali bisa mengobrol denganmu lagi soal Altamis.

Tadi aku mengajari Teiber dengan latih tanding. Kau tahu, kemampuan Teiber itu ternyata cukup hebat, berada di atas rata-rata. Tapi tetap saja, dia masih belum sebanding denganmu, satu-satunya yang kuperbolehkan untuk memakai pedang istimewaku. Bertanding melawannya membuatku ingat masa-masa itu, Yuuji. Di saat aku masih sering latih tanding denganmu,

Aku sangat terkejut saat melihatmu masih bisa melawan para perampok itu. Kurasa, saat kau sedang dalam kondisi sehat, kau bisa melakukannya, ya. Teknik-teknik itu masih tersimpan di dalam dirimu.

Karena itu, kalau kau sedang dalam kondisi prima, sekali lagi, bertandinglah denganku.

Jika saja yang membaca surat ini adalah Yuuji setahun lalu yang masih sakit hati menerima kenyataan, suratnya sudah pasti dia robek. Namun, sekarang dia sudah bertekad. Memang susah sekali untuk bisa melupakan hal menyedihkan itu, tapi kalau dia terus-terusan terpuruk karena hal yang tak bisa dia lakukan lagi, hidupnya tak akan pernah membaik.

--

Kristal panah Slaine berkedip-kedip. Di sampingnya, sang pemilik sedang mengotak-atiknya. Dari tadi pagi, panah itu terus mengeluarkan cahaya biru yang nyala-mati tanpa henti. Dari tadi pula, Slaine tak bisa menghentikannya. Tak ada yang bisa membantunya.

Di istana, sekarang hanya ada dirinya seorang. Yang lainnya sedang menjalani tugas dari Sorie yang diluncurkan tadi malam, saat rapat pegawai kerajaan tingkat atas. Begitu tahu Kanmaki berkeliaran di antara penduduk dengan menggunakan tubuh seseorang, Sorie sadar waktu yang dimilikinya tidaklah banyak.

Para pegawai tingkat atas beserta Laura ditugaskan untuk mencari Kanmaki. Susah memang, mencari seorang di antara ribuan populasi. Tapi, Sorie masih ingat identitas Pengguna Kanmaki—alias Felis. Dia hanya menangkap kalau orang yang diincar itu gadis berambut cokelat dikuncir rendah. Selain itu, Sorie juga masih ingat pakaian yang dikenakannya saat itu. Namun, bukan artinya mereka bisa langsung menemukannya. Di kerajaan ini, terdapat beberapa orang yang berciri sama.

Karena itu, Sorie memerintahkan mereka untuk mencatat orang-orang yang mirip dengan gadis perampok itu. Dari sana, dia bisa meminimalkan objek intaiannya. Setelah menemukan orang-orang itu, Sang Raja akan mengutus mata-mata untuk mengintai masing-maisng orang. Tanpa butuh waktu lama, Sorie akan menemukan siapa pengguna Kanmaki itu.

Pola pembangunan Negeri Utara sangat memudahkan mereka untuk membagi tugas. Tidak seperti kerajaan lain yang rumah-rumahnya berada di samping toko maupun kantor, Negeri Utara membagi areanya sendiri-sendiri—area perumahan, pabrik, maupun toko ada sendiri-sendiri. Raven kini sedang mencari di tengah pemukiman, bersama dengan satu regu pengawal. Sedangkan Chester berkutat di sekitar perkantoran, Laura di deretan toko dan pasar, dan Mia di areal pabrik sekaligus persawahan dan kebun yang berada di dekat hutan. Slaine tak ikut karena ditugaskan menjaga istana selama yang lain pergi. Sorie pun pergi ke Negeri Timur untuk membicarakan masalah ini pada Kazuo.

Mereka pergi ke titik tugas mereka dengan kekuatan teleportasi Sorie. Ketiga kelopak di bandul Sorie dilepas dan dibagi pada Raven, Mia, dan Chester, sementara lingkarannya dibagi dua agar Laura pun dapat bagian. Dengan begitu, Sorie bisa meneleportasi orang-orang dengan tujuan yang berbeda dalam satu waktu. Mereka diteleportasi bersamaan dengan perginya Sorie, maka mereka akan kembali ke istana tepat saat Sorie juga kembali.

Sejak yang lain berangkat, Slaine hanya berdiam di ruangannya, terkadang keliling istana menegur pengawal yang malas-malasan. Dia kenal beberapa pengawal yang bisa diajak bicara sehingga dia tak merasa bosan.

Aleart termasuk salah satu pengawal yang Slaine kenal—tentu saja, remaja itu adalah calon Altamis, tak mungkin tak ada yang mengenalnya. Slaine sudah menemui selurh pengawal, tapi batang hidung Aleart tak terlihat. Curiga kalau Aleart bolos—karena isu itu sudah sering beredar di lingkungan istana—Slaine hendak menanyakan pada seorang pengawal, tapi tertunda oleh seruan para penjaga gerbang.

“Mereka datang!”

Slaine merapat ke jendela koridor, melihat ke arah halaman depan istana. Segerombolan pengawal muncul di sana dengan api biru bersama pegawai tingkat atas beserta raja dan putrinya. Mereka tampak berbincang-bincang sebentar, lalu beranjak masuk istana.

“Regu Tiga tak ada!” teriak seorang pengawal setelahnya, menghentikan langkah sang raja.

Terlihat dari atas Sorie yang bergegas mendatangi pengawal itu, dengan kaki masih sedikit pincang karena luka akibat Kanmaki sebelumnya. Perbincangan muncul di antara mereka. Walaupun jaraknya jauh, pendengaran Slaine sangat tajam dan suara Sorie lumayan keras sehingga bisa terdengar.

“Siapa yang bertanggung jawab atas Regu Tiga?” tanya Sorie tegas.

“Aku Regu Satu,” kata Raven.

“Regu Empat.” Mia menimpali.

“Dua.” Chester menjawab sambil mengacungkan kedua jarinya.

Tinggal satu orang yang belum menunjukkan suaranya, yaitu Laura. Dia—biang keladi di istana—sedang memegang badan kucing dengan posisi terbalik. Kucing itu menggapai-gapai jari Laura yang didekat-jauhkan dari wajahnya. Putri itu terus terkikik melihat reaksi kucing yang entah dia dapat dari mana.

“Laura.”

Sang Putri berhenti mempermainkan kucing saat Sorie memanggilnya. Dia berpindah tatap dari kucing ke Sorie dengan wajah biasa saja, tak ada penyesalan sama sekali. padahal dia melewatkan hal yang penting.

“Kau penanggung jawab regu tiga, kan?” tanya Sorie.

Laura mengangguk tak peduli, “Memang kenapa?”

Lihat selengkapnya