Felis merayap di tembok rumah dan naik ke atap, beristirahat di sana dengan meluruskan kakinya. Keringat dingin tampak membekas di wajahnya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Kanmaki.
“Ya,” jawab Felis, “aku hanya kaget tiba-tiba Perdana Menteri datang mengecek setiap rumah. Sepertinya raja mulai mengambil tindakan.”
“Apa perlu kubunuh mereka sekarang? Lelaki itu orang yang menemukanmu di hutan kemarin, kan? Tak kusangka dia sudah bisa berjalan hari ini, padahal baru kemarin kuporak-porandakan hutan menimpa dirinya,” kata Kanmaki.
Felis duduk berlutut, menengok kondisi masyarakat di bawah dari atas atap, “Jangan. Simpan dulu itu untuk nanti. Aku sudah tentukan waktu kapan kita akan menyerang istana."
“Lalu, apa yang mau kau lakukan hari ini?”
“Melakukan pekerjaanku tentu saja. Merampok seperti biasa.”
“Kau mau memakaiku untuk merampok para warga?” Kanmaki terdengar kesal.
"Siapa yang bilang mau memakaimu?” balas Felis, ikutan ketus, “aku tak butuh sayap itu kalau hanya urusan merampok.”
Mengerti apa maksud lanjutan dari perkataan rekan barunya, Kanmaki mendesah, “Artinya kekuatanku akan menganggur sampai tiba waktunya, ya. Membosankan sekali.”
“Tenanglah, kau akan kuajak menggila lagi besok,” ujar Felis.
Felis melompat dari atap yang dipijaknya ke atap sebelahnya, mencari-cari target. Matanya menelusuri orang-orang dengan seksama. Dia memfokuskan pandangan ke ebebrapa orang yang terlihat kaya dan dompetnya terlihat. Penglihatannya yang jernih sangat membantunya dalam mencari target rampasan.
Di sela-sela mencari, Felis tiba-tiba teringat sesuatu. Hal yang mengganjalnya sejak Kanmaki ada di tubuhnya, tapi baru sempat dia tanyakan. “Kanmaki, jika aku tak mampu melawan pengguna kekuatan lainnya.... bagaimana?”
“Kau mendadak bertanya seperti itu, padahal kemarin sangat percaya diri begitu mendapat kekuatanku. Kenapa kau jadi ragu begini?” Kanmaki malah balik bertanya.
Felis mengelak, “Aku tak ragu! Tapi, apa saja mungkin terjadi, kan...”
“Yah, kalau kau tak bisa mencapai tujuan kita dengan sayap hitam, aku yang akan melakukannya,” kata Kanmaki.
“Melakukan?” tanya Felis tak paham.
“Wujudku sekarang memanglah sebuah kekuatan, tapi jangan lupa masih ada jiwaku di sini. Jika kau gagal nanti, kita akan bertukar peran. Aku yang akan mengendalikan tubuhmu dan menggunakan sayap hitam.” Kanmaki menjelaskan. “Daripada kau, aku lebih berpengalaman memakai kekuatanku. Jadi, kemungkinan diriku berhasil lebih tinggi.”
Otak Felis agak susah membayangkan apa yang dikatakan Kanmaki, tapi setidaknya dia paham garis besarnya. “Kalau kau memakai tubuhku artinya... aku mati?”
Gadis itu mendadak panik.
“Tidak, bukan seperti itu,” sanggah Kanmaki langsung, “kau akan tertidur panjang sampai aku menyelesaikan semuanya.”
“Ah, seperti koma, ya.”
Felis manggut-manggut, menghembuskan napas lega setelah Kanmaki menjelaskan semuanya. Itu artinya, dia harus menyerahkan semuanya pada Kanmaki ketika dia gagal di tengah jalan. Menunggu dalam tidurnya yang panjang, lalu terbangun setelah tujuan mereka tercapai.
Baginya, itu seperti jalan pintas. Hanya dengan mengandalkan usaha Kanmaki. Namun, rasanya ada yang kurang kalau tak berjuang dengan diri sendiri.
Semoga saja aku bisa mencapai semua itu dengan tangannya sendiri, tanpa perlu Kanmaki turun tangan.
“Hei, apa kau jadi merampok?”
Suara Kanmaki membuyarkan lamunan Felis. Ketua perampok itu segera menatap jalanan, fokus kembali pada pekerjaannya. Beberapa detik memantau, dia berseru kecil.
“Itu dia.”
Matanya menangkap target yang sangat menjanjikan. Seorang pria dengan jas hitam layaknya pejabat atau orang besar lainnya, baru saja memasuki sebuah rumah dengan membawa tas kotak hitam. Tas yang biasa digunakan untuk menyimpan uang.
Senyumnya melebar mengira-ngira betapa banyak uang yang akan dia dapatkan kalau merampok tas itu. Sepertiganya saja sudah jauh lebih banyak daripada hasil hariannya.
Tak mungkin dia melewatkannya.
“Hei, Kanmaki. Lihatlah kemampuan murniku ini, ketika aku tak mengandalkan kekuatanmu.”
Dengan mantap, Felis terjun ke jalanan. Kakinya menapak di tanah, mengakhiri pendaratannya yang mulus. Gadis itu langsung melesat menerobos kerumunan orang, melalui celah-celah kecil antara satu orang dengan yang lain. Padatnya jalan sama sekali tak menjadi penghalang bagi tubuhnya yang lincah.
Setelah terbebas dari kerumunan, Felis melompat dengan kaki terangkat, menendang keras kaca jendela rumah targetnya. Bunyi kaca yang pecah tentu mengagetkan orang di sekitar dan segera mengundang perhatian. Sebelum yang lainnya sadar apa yang sedang terjadi, Felis harus cepat-cepat merampas tas itu dan pergi.
Tas hitam tergeletak di atas meja, berada tepat di hadapan Felis begitu dia masuk. Semua orang yang ada di dalam meringkuk di bawah meja karena terkejut dengan pecahnya jendela. Felis menyambar tas itu secepat kilat, lalu menghampiri jendela lain. Merasa ada langkah kaki yang melewati mereka, lima orang yang bersembunyi itu bangkit dan melihat gadis perampok telah memecahkan jendela mereka yang lainnya. Beserta tas hitam di dekapannya.
Sontak, secara bersamaan mereka berteriak keras dan tergopoh-gopoh mengejar Felis. Di tengah-tengah larinya, Felis membuka tas hitam tersebut. Senyuman puas terlihat di wajahnya begitu mengetahui betapa besarnya nominal uang yang berhasil dia rampok. Jari-jarinya mulai menghitung jumlah uang, kemudian mengambil sepertiga dari seluruhnya. Ternyata jumlahnya lebih banyak dari yang Felis bayangkan, membuat seringainya bertambah lebar.
“Hahaha!!” Felis tertawa puas seraya bersorak di sepanjang jalan. “Keberuntungan telah datang! Baru kali ini aku merampok sebesar ini!”
“Tak kusangka kau bisa berlari secepat itu tadi, Felis. Tanpa kekuatan dariku, rupanya kemampuanmu hebat juga, ya.”
“Tentu saja, dong!” seru Felis, perhatiannya tertuju pada tas hitam di tangannya, “lalu, bagaimana aku mengembalikan sisanya, ya?”
“Kenapa dikembalikan? Kau hanya meminjam?” tanya Kanmaki.
“Asal kau tahu, kami anggota perampok sepakat hanya mengambil seperti harta orang yang kami rampok,” jelas Felis.