Pagi yang baru. Sebenarnya tak bisa dikatakan pagi karena matahari sudah muncul sejak lima jam yang lalu. Jalanan tentu sudah ramai, dipenuhi aktivitas para warga. Kantor-kantor sudah dipenuhi orang bekerja, begitu pula pasar dan sekolah. Suasana di seluruh rumah pun sepi, lantaran semua anggotanya pergi untuk bekerja ataupun belajar.
Sama seperti yang terjadi di rumah Aleart. Sunyi, tak ada suara apa pun. Si kakek sudah berangkat ke perkebunan sejam setelah matahari terbit, meninggalkan rumah yang hanya dihuni oleh dirinya seorang.
Namun, hari ini berbeda. Sang cucu mendapat jadwal pulang tadi malam. Rumah yang biasanya kosong kini masih menyisakan satu orang di dalamnya.
“Sejak kapan sudah terang begini?”
Aleart duduk di kasurnya, memandang jam arloji yang ada di meja sebelahnya. Rambutnya yang memang tak rapi tampak lebih berantakan, sedangkan matanya belum terbuka sepenuhnya. Raut mukanya pun terlihat sekali baru bangun tidur.
Sebelum kakeknya berangkat tadi, dia sudah bangun untuk sarapan. Begitu melihat hari masih sangat pagi, dia memutuskan untuk kembali tidur sejenak. Sama sekali tak terpikir olehnya dia akan kelewatan tidur seperti ini. Kasur di rumahnya benar-benar punya daya tarik yang berbeda dengan yang ada di barak.
“Aku pasti akan diceramahi oleh pengawal senior lagi kalau berangkat sekarang,” ujar Aleart pada dirinya sendiri, “lebih baik aku tak datang sekalian. Besok bilang saja aku sakit.”
Lelaki itu langsung merebahkan tubuhnya kembali ke kasur, menyembunyikan dirinya di balik selimut sambil bergumam, “Jarang sekali aku tidur panjang seperti ini! Kakek sudah pergi, tak ada yang akan mengecek seperti waktu di barak! Aku bebas!”
Mata Aleart terpejam, dalam hitungan detik dirinya sudah masuk ke dunia mimpi barunya. Baru saja dia menjelajahi mimpi kurang dari semenit, suara pintu yang digedor dengan keras membuatnya membuka mata kembali.
“Siapa....?”
Pintu kamar Aleart digedor-gedor dari luar, bersamaan dengan seruan seorang lelaki yang sangat dikenalnya.
“Cepat keluar, Aleart! Kau sudah telat dari jam kerja, tahu!” Suara Yuuji mengiang di setiap sudut kamar Aleart. “Jangan coba-coba manfaatkan jadwal pulangmu!”
Gawat... batin Aleart dalam hati.
Pasti kakeknya yang menyuruh cowok itu memantau Aleart selama di rumah. Walau dirinya jarang di rumah, kakeknya tahu betul kebiasaan cucunya yang selalu kumat setiap dia pulang.
Selama setahun terakhir ini, Aleart sering sekali bolos. Entah itu bolos patroli atau menjaga gerbang. Sering sekali Yuuji menemui Aleart yang sengaja mampir ke rumah, atau singgah di suatu tempat sampai waktu tugasnya berakhir.
Sampai dia memanfaatkan jadwal pulangnya. Kepulangan para pengawal bukan berarti hari libur. Mereka tetap bekerja seperti biasa. Hanya saja, berangkatnya dari rumah, bukan barak. Mereka mendapat jatah bermalam dua hari dalam sebulan di rumah masing-masing, sehingga bisa menghabiskan waktu bersama keluarga mereka selepas bekerja.
Aleart tak jarang menggunakannya sebagai hari libur. Melewatkan absen yang seharusnya dia lakukan setelah kepulangan, baru kembali ke istana pada sore hari.
Sebenarnya, isu ini sudah tak asing lagi di kalangan pengawal. Bahkan pegawai kelas atas mengetahui soal itu. Hanya saja, memecat Aleart adalah suatu kerugian. Sikapnya memang tak patut dicontoh akhir-akhir ini, tapi dia selalu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Kemampuan bertarungnya yang sangat tinggi mampu membuat musuh-musuh dari luar trauma datang kembali ke Negeri Utara.
Mana mungkin mereka membuang prajurit hebat sepertinya, setelah kehilangan Yuuji dari barisan pengawal.
Aleart tak menjawab panggilan Yuuji yang tak kunjung berhenti itu. Dia menutup telinganya dan meringkuk di dalam selimutnya. Namun, suara Yuuji makin lama makin keras, membuat tebalnya bantal tak lagi mampu mencegah suara itu masuk ke telinganya.
“Jangan malas-malasan, Aleart!” teriak Yuuji.
Aleart pun membuka mulut—dengan telinga masih tertutup bantal, “Aku sedang tak enak badan!”
Yuuji tambah membentak mendengar alasan Aleart yang dibuat-buat, “Jangan kira kau bisa membohongiku, hoi! Seorang Aleart tak pernah sakit apa pun selain demam karena melihat serangga!”
“Misiku sudah ada kemajuan, tahu! Aku sudah bekerja dengan baik!” pekik Aleart.
“Tapi bukan berarti kau libur!” Yuuji menendang pintu kamar.
“Aku butuh istirahat!”
“....”
Hening. Tak ada jawaban seperti sebelumnya. Tangan Aleart melepas bantal yang menutupi kepalanya. Dia merangkak perlahan menuju pintu, dengan selimut masih melekat di tubuhnya. Diintipnya sela bawah pintu. Seketika, dia lega karena tak ada bayangan kaki orang seperti sebelumnya.
Aleart menghela napas, “Dia sudah pergi—”
Brakk!
Jendela kamarnya yang terpasang tepat di samping ranjang tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Begitu kaca jendelanya terdorong ke atas, tampak sosok Yuuji yang menyeringai lebar ke arahnya. Aleart langsung bungkam. Tak berhasil menerobos lewat depan, rupanya Yuuji memilih masuk lewat belakang.
“Beruntung kau tak mengunci jendelamu,” ujar Yuuji.
Melihat Yuuji hendak masuk lewat jendelanya, Aleart spontan berlari ke arahnya, berniat mendorongnya keluar. Sayangnya, Yuuji masuk lebih dulu, berguling di kasur Aleart, kemudian menarik paksa selimut yang melekat di tubuh Aleart. Gerakannya sangat cepat, seolah hanya sekejap kedipan mata bagi Aleart yang belum sepenuhnya terbangun.
Yuuji tersenyum penuh kemenangan, “Skakmat.”
Aleart ambruk di kasurnya, meratapi selimutnya yang sudah luput darinya. Tak ada lagi harapan baginya untuk bolos hari ini. Seorang pengawas telah datang untuk menuntunnya ke jalan yang benar.
“Sana kerja,” kata Yuuji sambil menampar punggung Aleart.
Bukannya bangkit, Aleart malah naik kembali ke kasurnya.
“Cepat ganti baju dan berangkat!” Yuuji menarik tubuh Aleart, membiarkannya jatuh dari kasur.
Lengkingan tinggi keluar dari mulut Aleart. Rasa nyeri merasuki setiap ruas tulang punggungnya. Tak peduli Aleart meringis kesakitan sambil memegangi punggungnya, Yuuji menarik tangannya dan menyeretnya keluar kamar.
“Yuuji, kau bilang akan bertanding melawanku lagi, kan? Ayo kita lakukan sekarang,” kata Aleart.
“Jangan kira aku mau terperdaya olehmu. Aku tahu kau hanya mencari alasan untuk libur,” tolak Yuuji mentah-mentah, “lagipula, ini masih hari kerjaku.”
“Kalau begitu, sana berangkat kerja. Nanti telat, lho.”
Yuuji tambah muak mendengar Aleart yang selalu menyanggah, “Aku yang harusnya ngomong begitu kepadamu, tahu.”
Beberapa detik kemudian, terdengar jeritan Aleart yang menggema sampai luar, lantaran dikenai hukuman fisik agar mau kerja. Tak lama, sosok Aleart muncul di depan pintu dengan seragam pengawal rapi, tapi wajahnya menampakkan memar merah di pipinya—bekas tamparan Yuuji.
“Datang ke istana lho, ya.” Yuuji masuk ke rumahnya setelah memastikan Aleart berjalan menjauh dari rumah.
Sambil menggerutu kesal, Aleart melangkahkan kaki gontai menyusuri deretan rumah. Yuuji menyuruhnya ke istana, tapi dia pikir dia akan mendapat perilaku tak menyenangkan jika datang sekarang. Entah ini sudah yang keberapa, seniornya kemungkinan besar tak akan memberi ampun kali ini.
Matahari berada hampir di atas kepalanya, langsung terbesit di pikirannya berapa jam dia tidur tadi setelah bangun tiga puluh menit untuk sarapan.
Langkah Aleart akhirnya menyimpang belok dari jalur menuju istana. Pilihannya mantap untuk menentang Yuuji, ingin berjalan-jalan santai. Jalur melewati pasar dan rumah-rumah berganti menjadi jalan penuh kafe dan restoran. Butik-butik berjajar rapi di kanan-kirinya. Dia telah memasuki area pertokoan yang juga sering disebut “Surga Kerajaan”.
Lonceng pintu kafe berdentang saat Aleart membuka pintunya. Dia telah memasuki suatu kafe, meninggalkan kewajibannya. Kafe ini adalah tempat singgah satu-satunya yang Aleart sukai. Dia tak pernah ke tempat lain selain langganannya ini. Sebagai calon Altamis, tentu dia akan menarik perhatian jika ke mana-mana. Karena itulah dia lebih memilih kafe yang sepi dan tak terlalu terkenal.
Salah satu pelayan yang kenal cukup dekat dengan Aleart melambaikan tangan. Aleart balas melambai sambil mendekat, lalu berbisik kepadanya, “Minuman biasanya, ya.”
Si pelayan pun mengangguk. Tak ada satu pun pelayan yang tak tahu tentang menu langganan Aleart di kafe ini. Setelah pelayan itu masuk dapur, dia segera mencari tempat duduk.
“Aleart! Aleart, kan?”
Aleart memusatkan pandangan pada meja di hadapannya. Teiber berbalut jubah hitamnya dan pedang kayu di atas meja melambai ke arahnya.
“Kau?” tanya Aleart, “kenapa kau di sini? Bukannya kau bilang waktumu tak banyak?”
“Memang tak banyak, tapi aku tak bisa pergi tanpa mencicipi hal-hal menyenangkan di negeri ini,” jawab Teiber, “tenang saja, aku akan pulang dua hari lagi. Kau tak perlu cemas.”
Bangku di depan Teiber ditarik dan diduduki Aleart, “Kupikir kau bukan tipe orang yang suka mendatangi tempat seperti ini. Kau tampak tertutup dengan jubahmu.”
“Jangan nilai orang dari luarnya saja, dong. Lagipula, aku tak selamanya menutup kepalaku dengan tudung.”