“Cepat keluar!”
"Kami akan segera bakar rumah ini!”
“Kenapa kalian melakukannya?! Di mana keadilan?!”
"Perintah Raja Xenon harus dilaksanakan. Tak boleh ditentang, semuanya harus menurutinya.”
Teriakan Felis mengawali paginya, terbangun dengan mata melotot. Dia mengatur napasnya sejenak, memandang ke arah kasur di sebelahnya. Beruntung teman-temannya tak ada yang terusik oleh teriakan itu, masih berkelana dalam dunia mimpi.
“Kau memimpikan masa lalumu, ya? Apa kau baik-baik saja?” tanya Kanmaki.
“Sebenarnya itu bukan masalah. Sudah lama aku tak memimpikannya. Jadi ketika melihat wajah biabad itu kembali dalam mimpiku, emosiku tersulut,” jelas Felis.
Menyadari dirinya terlalu pagi untuk bangun, Felis kembali merebahkan diri. Matahari sudah terbit, tapi dia enggan membuka jendela.
“Mengingat wajah raja itu lagi membuatku muak.” Felis asal bicara, memejamkan mata untuk menjernihkan pikirannya.
"Hei, Felis. Kenapa kau sembunyikan hal itu dari teman-temanmu? Soal identitas aslimu,” tanya Kanmaki, “kau melenyapkannya bukan karena keinginanmu, kan? Melainkan karena kau bertemu dengan mereka.”
Kedua tangan Felis dilipat ke belakang sebagai tumpuan kepala, selagi matanya menatap langit-langit kamar. “Mereka itu hanya sekumpulan remaja biasa—dengan satu bocah. Hidup mereka memang tidak beruntung, tapi mereka tak punya kisah sekelam diriku. Meski mereka mencuri dan merampok, mereka tak pernah membunuh seseorang. Bagi mereka, itu adalah hal yang tak bermoral.”
“Yang membuatku heran, kenapa kau membiarkan mereka bergabung denganmu?” Kanmaki bertanya lagi. “Jika kau menolak mereka, kau tak perlu menyembunyikan identitas, kan?”
Felis terdiam cukup lama kali ini. Matanya melirik ke arah Riisa yang tertidur di kasur tak jauh dari miliknya. “Mencari sekutu itu penting, Kanmaki. Seperti dirimu yang membutuhkan seorang pengguna. Tanpa sekutu, tujuan kita tak akan tercapai.”
“Aku menyembunyikannya hanya sebatas untuk mendapatkan kepercayaan mereka. Mereka hanyalah rekan bagiku, rekan untuk membantuku agar aku bisa mencapai tujuanku. Itulah kenapa aku menjaga identitasku selama ini. Aku tak bisa membunuh, karena mereka terus ada bersamaku.”
“Apa kau ada niat untuk berkata jujur pada mereka?”
Gadis itu mengangguk kecil, mengalihkan pandangannya kembali pada langit-langit. “Dulu aku hanya akan mengatakannya saat tujuanku sudah tercapai. Tapi sekarang, jika mereka tahu soal ini tanpa kuceritakan sendiri, itu tak masalah.”
“Karena aku sudah tak butuh bantuan mereka sekarang.”
--
Sebuah brankas kecil berbentuk kubus ditutup dan dikunci dengan sandi yang diketahui seluruh anggota perampok. Felis mengangkatnya, lalu memindahkannya ke atas meja pengumpulan-hasil-rampokan. Hobart yang sedang duduk di bangku itu mengetuk-ngetuknya.
“Berapa isinya?” tanyanya.
“Makin meningkat. Sekarang cukup untuk makan sebulan. Atau bahkan lebih,” jawab Felis.
Levie datang dan ikut melihat-lihat brankas yang berisi banyak uang itu, “Kau habis merampok dalam jumlah yang besar, kan, kemarin? Itulah kenapa kita bisa punya sebanyak ini. Dengan ini, kita bisa mengurangi jatah merampok jadi seminggu tiga kali saja.”
“Tak kekurangan, tuh?” tanya Hobart pada Levie.
“Kau kira kita perampok amatir? Walau merampok seminggu sekali pun, kita tetap berkecukupan,” jawab Levie membanggakan kelompok perampok, “beberapa dari kita juga sempat mendapat hasil yang sangat besar."
"Beli barang baru, yuk! Radio, radio!” Deka muncul begitu mendengar yang lain sedang membicarakan uang, lalu melompat-lompat kegirangan.
Kara menjitak kepala Deka, “Dasar rakus! Kalau beli radio, timbunan kita untuk sebulan langsung habis!”
“Kalau begitu, kamera,” kata Deka.
“Sama saja mahalnya!” Kara kembali memukul bocah itu, kini lebih pelan. “Kau tak pernah lihat harga dulu, ya?”
“Tapi banyak orang yang memilikinya,” rengek Deka.
“Uang ini bukan milikmu seorang, tahu,” ujar Kara sambil menatap sinis.
Felis menempelkan sebuah kertas di bagian atas brankas. Semuanya mendekat, melihat isi brankas yang ditulis rapi itu.
“Sandi brankas?” tanya Riisa memastikan.
Felis mengangguk, “Aku memang sudah memberitahu kalian, tapi tak ada yang menjamin orang seperti kalian bisa terus mengingatnya. Ambil saja uangnya kalau kalian butuh sesuatu, tapi gunakan secukupnya. Kalau suatu saat kutemukan brankas itu kosong...”
Tangan Felis meraih pedang kayu yang disandarkan di tembok, lalu mengayunkannya di depan kelima perampok lainnya, “...aku akan membuat kalian memar merah sekujur tubuh sampai sekarat.”
Semuanya—kecuali Levie, tentunya—bergidik mendengar ancaman ketua mereka.
“Coba saja kalau bisa menggebukku,” gumam Levie tanpa rasa takut sedikit pun—lantaran umurnya lebih tua dari si ketua.
Felis mengangkat pedang kayunya ke atas pundak dan tangan kirinya masuk ke saku celana. “Aku pergi dulu.”
“Kau mau ke mana?” tanya Riisa, “bukannya kau sudah merampok tadi?”
Dengan pintu yang sudah terbuka, Felis terdiam sejenak, sebelum dia menengok ke arah Riisa dan berkata, “Ada sesuatu yang harus kuurus.”
Riisa hendak bertanya lagi, tapi Felis sudah menutup pintu lebih dulu. Meninggalkan kekhawatiran dalam diri Riisa.
“Apa dia akan baik-baik saja? Nada suaranya kurang meyakinkan, dia terlihat menyembunyikan sesuatu,” gumam Riisa.
Levie menepuk-nepuk pundak kawannya, “Tenang saja, tenang. Percayalah pada Felis. Ketua kita selalu kembali dengan selamat, kan? Lagipula...”
"... ada Kanmaki bersamanya.”
--
Kejadian kemarin hanyalah perdebatan kecil yang tak berkepanjangan, tapi tak bisa lepas dari pikiran Aleart dengan mudah. Selama bekerja kemarin, dia tak henti-hentinya melamun dan meratapi kata-kata yang dilontarkan Yuuji padanya. Wajahnya pun tanpa sadar sedikit memucat karena terlalu banyak memikirkan hal itu. Pengawal lain sampai mengkhawatirkan dirinya sakit dan menyuruhnya pulang ke rumah—berhubung jadwal pulangnya masih ada
Sampai malam pun, Aleart tak bisa tidur karena hal itu. Begitu berhasil memejamkan mata, mimpinya hanya mengulang kejadian siang itu, membuatnya terbangun pada tengah malam dengan mata membelalak lebar.