Ketukan sepatu kaca Laura yang menginjak lantai terdengar di tengah-tengah keheningan istana. Dia menyusuri koridor setelah latihan tombak di halaman belakang. Tak ada orang lain di sekitarnya. Cukup membuatnya heran karena biasanya istana ramai.
“Semuanya menyebar ke seluruh istana! Jangan sampai tidak ada pengawal satu pun dalam jarak tiga meter!”
Pikiran Laura tentang istana yang sepi langsung hilang begitu semua pengawal berbondong-bondong memenuhi koridor. Setiap tiga meter diisi satu pengawal. Mereka berbaris seperti mau perang. Semua tatapan pengawal itu sangat serius, hampir tak ada yang berkedip sama sekali.
Ada apa ini? Keputusan perang? Kenapa di dalam istana? gumam Laura dalam hati.
“Apa ada sesuatu di sini?” tanyanya pada seorang pengawal.
“Seorang musuh besar telah masuk lingkup istana. Jadi, Raja Sorie langsung memerintahkan kami untuk membuat pertahanan ganda di luar dan di dalam. Api biru pun sudah dinyalakan di sekeliling istana, agar kerusakannya tidak sampai menganggu warga. Kami harus terus bersiaga, karena tak ada yang tahu kapan dia menyerang,” jelas pengawal itu dengan nada sopan.
Mata Laura pun tertuju pada gerbang istana di depan sana. Benar saja. Lapisan yang terbuat api biru menjulang tinggi di sekitarnya, sampai bangunan dan rumah warga di luar tak terlihat lagi. Laura tak pernah peduli dengan urusan Sorie semacam ini, tapi dia tahu situasinya sedang gawat. Kalau api biru Sorie yang bisa melumpuhkan segala kekuatan kerajaan sudah digunakan sebagai pertahanan seperti ini, musuh yang dihadapinya bukan musuh biasa.
“Memang musuh macam apa yang akan datang?” Laura bertanya lagi. “Tak mungkin kelompok perampok itu sampai membuat kalian sewaspada ini, kan?”
Pengawal itu bicara tanpa sekalipun melunakkan wajahnya yang datar, “Anda tentu tahu untuk apa Raja Sorie mengirim Anda bersama yang lain untuk menyelidiki para warga tempo hari, kan?”
Laura terkesiap. Dia sebenarnya tak begitu paham soal asap hitam yang kini menjadi buah bibir seisi istana. Yang dia tangkap hanyalah asap itu sudah merasuki seseorang, lalu Sorie menyuruhnya untuk ikut mencari orang itu. Tentang seperti apa wujudnya dan kekuatannya, Laura sama sekali tak ada bayangan.
Dengan puluhan pertanyaan yang kembali menetas di kepalanya, Laura berlari kencang melewati barisan pengawal itu. Langkahnya terhenti di ruang rapat yang terbuka, menampakkan sosok kembarannya dan para pegawai tingkat atas di sana. Mereka tidak duduk rapi berjajar di kursi masing-masing selayaknya rapat, tapi bergerombol mengelilingi sesuatu.
Tanpa basa-basi, Laura berteriak keras, “Apa benar manusia asap itu akan kemari?!”
Mendengar suara yang tak biasanya berkeliaran di sekitar sini, semuanya terperanjat. Sorie membelalakkan mata melihat Laura berdiri di ambang pintu ruang rapat.
“Laura, kenapa kau di sini?” tanyanya.
“Ini istana tempatku tinggal, wajar saja aku di sini, kan?!” jawab Laura sewot, “jawab pertanyaanku! Apa benar jiwa berasap itu—”
Chester memotong, “Iya, iya. Berisik sekali, sih. Situasinya sedang genting, tahu.”
Sorie terburu-buru mendekati Laura, “Kembali ke kamarmu sekarang! Kau bisa terkena dampaknya kalau berada di sini!”
“Jangan usir aku!” tukas Laura, “apa itu artinya aku bisa melihat wujudnya sekarang? Apa aku bisa bertemu dengannya?”
“Kau kira Kanmaki itu mainan?! Kanmaki itu musuh bebuyutan kerajaan! Makhluk supernatural yang sangat kuat dan mengerikan!” bentak Chester, geram melihat sikap Laura, “jangan samakan dengan burung gagak dari tombakmu!”
Laura balas membentak, “Jangan tinggikan suaramu di depanku, Menteri!"
“Ya ampun...” Sorie mendesah panjang sambil memegangi telinganya yang terganggu suara nyaring Laura.
Sang Raja pun akhirnya berdiri di hadapan sang Putri, memegang kuat pundak kembarannya. “Dengarkan aku, Laura. Kanmaki itu musuh besar yang tak bisa dilawan oleh kekuatan kerajaan apa pun kecuali air milik Raven. Dia sangat berbahaya. Jadi tolong kembali ke kamarmu, kunci dan berlindung di sana.”
“Kenapa kau buru-buru seperti itu?” dengus Laura, tak suka setiap Sorie bicara padanya.
“Kristal panah Slaine berkedap-kedip sangat cepat dari beberapa menit lalu, menandakan Kanmaki sudah masuk area istana. Dalam waktu dekat, dia akan menerobos masuk. Segeralah berlindung sebelum dia datang.”
Sorie mendorong Laura, berniat menggiringnya sendiri ke kamar, “Kalau tidak, aku akan mengantarmu.”
Sontak Laura menepis tangan Sorie dari pundaknya, lalu menukas, “Tak perlu! Aku akan ke kamar sendiri! Kau kira kau ibuku?!”
Aku kembaranmu, kau tahu itu, kan, batin Sorie sambil mendesah.
Laura membalikkan badan, melangkah menjauh dari ruang rapat tanpa berhenti menggerutu. Sikapnya benar-benar merepotkan kembarannya sendiri, bahkan seisi istana sampai ikut repot.
Sorie menghela napas panjang, menggeleng-gelengkan kepala meratapi sikap saudarinya sebelum kembali masuk ke dalam. Dia kira Chester yang selalu jengkel dengan sifat Laura sedang mencibirnya tak suka. Tapi nyatanya, menteri itu sudah tak peduli lagi. Bukan hanya dia, ternyata semuanya memang tak memerhatikan kepergian Laura. Perhatian para pegawai tingkat atas itu sedang tertuju pada Slaine yang memegang busurnya.
“Ada apa?” tanya Sorie heran.
“Tak mungkin…. Ini artinya…” Slaine tak lanjut bicara, melotot melihat busurnya.
Kristal panah Slaine telah berhenti berkedap-kedip. Sekarang benda itu menyala terang sekali. Sorie berhenti melangkah, matanya melebar perlahan. Dia sadar dan mengerti apa yang sedang terjadi, walau terlambat.
“Yang Mulia, cepat berlindung!” teriak Slaine.
Di balik kaca jendela dinding istana yang besar, Slaine bisa melihat sesuatu bergerak di sana. Berwarna hitam, berwujud gas. Kanmaki memenuhi halaman luar istana, menampakkan diri lewat jendela, dan mulai meretakannya.
Sorie menengok ke belakang—
Kaca pecah dan Kanmaki menyembur masuk ke dalam istana. Gelombang udara menghempaskan seluruh pengawal yang berjajar tanpa sempat memberi perlawanan. Mereka semua tumbang sebelum bisa menyentuh Kanmaki dengan pedangnya.
Bukan hanya para pengawal, pecahan kaca juga terbang kemana-mana akibat gelombang udara. Ruang rapat yang terbuka membuat gelombang udara masuk dan menimpa Sorie yang berdiri tepat di depan pintu. Tubuhnya terhempas dengan cepat, menabrak Raven yang hendak melindunginya, melempar keduanya ke dinding.
Pegawai kerajaan tingkat atas pun ikut terhempas. Mereka semua terbawa gelombang udara dan bernasib sama seperti rajanya, tak bisa bangkit untuk mencegat Kanmaki. Jangankan mencegat, untuk berdiri saja, butuh waktu lama karena udara kencang tak berhenti mengguncang mereka.
“Slaine!” Mia teringat sesuatu, “Ave! Dimana dia sekarang? Dia tidak mempunyai perlindungan apa-apa, sedangkan Kanmaki memenuhi seluruh istana!”
“Tenang saja. Dia belum keluar kamar dari tadi. Anak itu akan baik-baik saja,” jawab Slaine.
Terdengar suara jeritan perempuan dari luar ruangan. Semuanya sontak menajamkan telinga, memastikan suara milik siapa itu.
“Apa itu... Ave?” Bibir Mia gemetar.
Raven menyahut, “Bukan, itu—”
“Laura!” Sorie lebih dulu menyebut nama kembarannya sebelum Raven selesai berkata.
Dengan segenap kekuatannya, Sorie berusaha melawan gelombang udara kencang ini. Tapi setiap langkahnya selalu gagal. Dia selalu terhempas kembali menabrak dinding, padahal baru melangkahkan kaki sekali.
“Sialan...” decak Sorie.
Walaupun Laura memang menjengkelkan, gadis itu tetap saudari kembarnya. Tetaplah keluarganya yang berharga baginya, bahkan satu-satunya yang masih hidup. Tentu dia mengkhawatirkannya sekarang.
Terbesit di benaknya Kanmaki menangkap Laura dan dijadikan sandera. Kalau sampai makhluk itu membunuh kembarannya...
Gelombang udara tiba-tiba berhenti, membuyarkan lamunan Sorie. Langsung saja semuanya berdiri dan keluar ruangan rapat. Keadaan istana jadi berantakan. Pengawal-pengawal terkapar di lantai, beberapa dari mereka merintih kesakitan. Patung-patung dan vas bunga yang ditaruh di pojok koridor sebagai hiasan jatuh dan pecah. Jendela sudah bolong, kacanya hancur.
Meski berantakan seperti ini, tak ada tanda-tanda keberadaan Kanmaki—lebih tepatnya, orang yang menggunakan Kanmaki.
“Laura!” Sorie berteriak memanggil, melihat kesana kemari. “Gawat...”
Tanpa mengatakan apa pun pada pegawainya, Sorie melesat begitu saja meninggalkan mereka, mencari keberadaan Sang Putri. Terkejut melihat rajanya tiba-tiba lari menyusuri koridor sendirian, Raven sontak berseru.
“Raja Sorie!”
Raja Utara tak memiliki kemampuan bertarung. Dia mungkin bisa memukul orang, tapi lawannya ini adalah musuh dengan kekuatan dua sayap hitam. Menghampirinya tanpa senjata apa pun di tangannya sama saja menjemput maut.
Raven segera menyusul rajanya, memacu kakinya cepat. Berharap semoga bisa sampai tepat waktu.
---
“Serang dia—akh!”