ALTAMIS : REVIVAL

Disha Kei
Chapter #15

BAB 14 : Kekuatan dan Dendam

Sinar matahari siang ini cukup terik, membuat Riisa yang bertengger di salah satu atap rumah warga itu tak henti-hentinya mengeluh.

“Hei, kapan kita akan merampok?” tanya Riisa, “panas sekali di sini, tahu.”

Levie menjawab sambil mengasah pedang pendeknya, “Tunggu sebentar. Aku belum selesai mengasahnya.”

“Apa tak bisa pindah ke tempat yang lebih teduh?” Riisa bertanya lagi, menyikut Levie yang bersandar di punggungnya.

“Hutan jauh dari pemukiman. Sulit mendapat korban nanti.”

“Apa tak ada yang bisa kulakukan sekarang?”

Levie menengok ke arah Riisa dan menyerahkan pedang pendeknya, “Bantu aku saja, nih.”

Riisa mendengus kesal sambil menggeleng. Dia menghela napas berat, lalu melipat kedua tangannya. “Apa Felis baik-baik saja, ya?”

“Dari tadi kau menanyakan itu terus. Sudah kubilang dia pasti akan kembali,” tukas Levie, “kau terlalu khawatir.”

Berkali-kali Levie menenangkannya agar tidak mencemaskan ketua mereka, tapi semua itu tidak berguna. Firasat Riisa justru makin memburuk, membuatnya terus-terusan gelisah.

Tak jarang pula dia memandang istana megah di kejauhan. Entah apa yang sebenarnya Felis lakukan, Riisa merasa ada hubungannya dengan orang-orang istana.

Sudah lebih dari satu jam lalu mereka berdua bertengger di sekitar perumahan, berusaha tak terlihat oleh para warga. Seharusnya mereka sudah merampok sedari tadi, tapi Levie tak mau turun sebelum senjatanya sempurna. Selain itu, Riisa yang diminta mencari target oleh kawannya belum menemukan siapa pun yang cocok untuk menjadi target.

“Levie, lihat, lihat.”

Setelah keheningan melanda mereka beberapa menit, Riisa akhirnya bicara kembali. Levie meresponnya dengan gumaman, mengira gadis itu akan mengeluhkan rasa bosannya lagi. Namun, gadis itu menyikutnya lebih keras setelahnya, menandakan ada sesuatu yang memang penting sekali untuk dilihat.

“Apa, sih?” tanya Levie, matanya bergerak ke bawah.

Riisa menunjuk seseorang di jalanan sana, “Itu, ada si calon Altamis.”

Tak jauh dari rumah tempat mereka singgah, seorang pengawal berambut putih berjalan di tengah lalu-lalang masyarakat, bersama seorang rakyat dengan rambut merah.

Levie terkesiap, “Lelaki itu... dia yang mampu menumbangkan Hobart tempo hari.”

“Oh, yang kau ceritakan waktu itu?” ujar Riisa, “bagus kan, kita bertemu dengan dua orang yang pandai bertarung.”

Kemunculan Aleart dan Yuuji membuat jiwa perampok Riisa bergejolak, tak sabar ingin menyerang mereka.

 "Yah, kita memang beruntung hari ini. Aku bisa melanjutkan pertarunganku dengan Altamis itu yang sempat tertunda.” Levie mengangkat kedua pedangnya, sama tak sabarnya seperti gadis itu. “Tepat sekali senjataku sudah selesai diasah lebih tajam.”


 

“Sudah kubilang, ini hanya kebetulan!” kata Aleart sambil tetap melanjutkan langkahnya, “Teiber mungkin memutuskan tidak tinggal di penginapan.”

“Lalu apa? Mau bilang dia tinggal di tempat saudaranya lagi? Kutegaskan ya, dia itu pengelana. Orang asing di negeri ini,” bantah Yuuji.

“Tapi, tak mungkin dia orang jahat seperti yang kau bayangkan barusan! Dia juga membantumu kemarin, kan?”

“Kemungkinan apa yang lebih tepat dari itu, Aleart? Raja Sorie selalu mempersilahkan dan memberi tempat bagi para pengelana dari luar, jika mereka datang dengan meminta izin. Kalau Teiber sampai tak ada di mana-mana, berarti dia bukan pendatang legal! Bisa jadi dia salah satu anggota perampok yang datang tanpa izin itu!”

Jeritan nyaring dari arah depan sana mengalihkan perdebatan Aleart dan Yuuji, memaksa keduanya menatap ke sumber suara. Mata mereka sama-sama menangkap orang yang sama. Seorang lelaki dan seorang gadis yang dua-duanya berambut hitam, sedang berlari meninggalkan seorang wanita yang jatuh terduduk di tanah. Di tangan salah satunya, ada dompet kulit berwarna merah.

 Aleart berpikir sejenak, merasa pernah bertemu dengan salah satunya. Yuuji pun merasakan hal yang sama.

“Perampok!”

Ingatan Aleart dan Yuuji tentang orang itu kembali bersamaan dengan teriakan si wanita. Keduanya saling bertatapan, lalu berlari cepat mengejar dua perampok tadi. Seketika mereka melupakan perdebatan kecil mereka mengenai keberadaan Teiber.

“Kami akan membawa dompetmu kembali, Nona!” teriak Aleart ketika melewati korban perampokan itu.

Levie menengok ke belakang, tersenyum lebar mendapati sang Altamis mengejarnya. “Bagus, dia terpancing.”

“Seorang pengawal sepertinya tak akan membiarkan kriminal seperti kita kabur, bukan?” ujar Riisa, “apalagi, masalah kita mungkin sudah diberikan khusus untuknya.”

Kedua perampok itu tertawa jahat sambil terus berlari menerobos kerumunan yang memadati jalanan. Para warga yang mereka lewati tak ada yang berani menghentikan mereka, melihat keduanya membawa senjata di pinggang masing-masing.

Levie mengambil beberapa lembar uang dari dompet rampokannya, kemudian melemparnya tepat ke arah Aleart. Tak seperti saat mengejar Deka, kali ini Aleart menangkap dompet itu dengan satu tangan dan tetap fokus pada larinya. Sebelumnya dia terlalu mementingkan dompet temannya sehingga kehilangan jejak si perampok. Sekarang, dia akan menyimpan dompet wanita itu untuk sementara, sampai urusannya dengan kelompok perampok selesai.

Tak ada yang pantang mundur dalam permainan kejar-kejaran ini. Mereka terus berlari sampai beralih ke jalanan yang lebih sepi, di pemukiman bagian belakang. Walau Aleart sempat mengkhawatirkan kondisi tubuh Yuuji, temannya itu rupanya bisa menyamai kecepatannya.

Riisa berniat memberi sedikit kejutan untuk keduanya. Dia mengeluarkan pistolnya, mulai menembaki mereka. Dia tak perlu khawatir tembakannya meleset mengenai orang tak bersalah, dikarenakan tak ada siapa pun di jalan ini kecuali mereka berempat.

Peluru demi peluru menghujam ke arah Aleart dan Yuuji. Aleart menarik Yuuji mundur dengan cepat, membawanya belok ke jalur lain. Daripada menghadapi gadis berpistol yang tak seimbang dengan petarung jarak dekat sepertinya, dia lebih memilih mencari jalan putar.

“Kita berpencar mulai dari sini. Aku serahkan gadis itu padamu, Yuuji,” kata Aleart sebelum mereka berpisah, “jangan sampai kehilangan tenaga, lho.”

“Tolong jangan khawatir berlebihan padaku,” balas Yuuji yang berlari ke arah berlawanan dengan jalur Aleart.

Riisa menyimpan pistolnya kembali begitu sosok pengejarnya tak lagi terlihat. “Apa mereka sudah menyerah?” tanyanya pada Levie sambil tetap berlari.

“Bukan, mereka pasti lewat jalan lain. Kita harus waspa—”

Tepat di hadapannya, Aleart muncul dari balik rumah warga. Pengawal itu tersenyum penuh kemenangan, membekukan tubuh si perampok seketika. Levie sama sekali tak mengira Aleart akan muncul secepat itu.

Tangan Aleart menarik pedangnya, mengayunkannya ke arah Levie. Cowok perampok itu nyaris terlambat menangkisnya dengan pedang pendeknya, membuat pertahanannya sedikit tidak stabil.

Riisa mendecak, mengangkat pistolnya kembali. Sayangnya, dia tak awas dengan sekitarnya. Sama sekali tak sadar kalau yang mengejarnya seharusnya ada dua.

Lihat selengkapnya