ALTAMIS : REVIVAL

Disha Kei
Chapter #16

BAB 15 : Negeri Kegelapan

“Lagi-lagi... raja itu... keterlaluan.”

"Mau bagaimana lagi? Kita sudah pernah protes sebelumnya, tapi apa yang terjadi? Sebagian rakyat kecil yang mendemo istana justru dimasukkan penjara.”

"Tak ada pilihan lain kecuali menuruti apa yang dikatakannya.”

“Apa kalian serius mau berhenti begitu saja?!”

Sekeluarga yang sedang bercengkerama dalam tegang itu menoleh bersamaan pada suara terakhir yang menyahut. Gadis kecil berambut cokelat tua dikuncir dua, menatap seluruh anggota keluarganya dengan geram.

"Setelah berjuang selama itu, kalian memilih menyerah?!” teriaknya lagi.

Ayahnya membalas, “Lalu mau apa? Menyerahkan diri pada hukuman mati?”

Felis bungkam.

“Raja adalah penguasa. Sebanyak apa pun yang menentangnya, tak akan berefek baginya. Kita sudah mencobanya tahun lalu, demi menurunkan harga pajak. Kau sendiri tahu kan, apa yang terjadi setelahnya?” tutur kakak sulungnya.

“Tak ada yang bisa diharapkan lagi dari raja itu. Yang bisa hidup enak hanyalah orang yang punya uang. Rakyat kelas rendah seperti kita hanya bisa terusir, entah harus hidup di mana. Itulah hukum yang berlaku di negeri ini.” Kakak laki-lakinya mendesah.

Felis mengakui semua itu, tapi dia tetap tak terima semua ini. Tak terima atas perbuatan semena-mena raja yang selama ini dikiranya baik hati. Tak terima pula dengan keputusan yang diambil keluarganya.

“Tapi, ketidakkeadilan itu harus—”

"Anak kecil diam saja. Kau sendiri tak tahu bagaimana rasanya menentang raja itu di hadapannya. Daripada mengoceh terus, lebih baik kau bantu kami mencari jalan keluar.”

Kali ini, Felis sungguhan bungkam. Tak lagi berani membuka mulut. Namun, di hatinya masih tersulut kemarahan yang luar biasa. Yang tak bisa diredam sampai kapan pun.

 

"Cepat keluar!”

"Tinggalkan semua rumah! Kami akan segera bakar pemukiman ini!”

Pemukiman rakyat kelas rendah yang berada di hutan bagian pinggir kerajaan didatangi oleh banyak pengawal. Mereka yang terpaksa pindah dari kota karena masalah pajak melejit tinggi kini harus angkat kaki lagi.

Dengan alasan mengganggu daerah sumber daya alam pemerintah, mereka digusur atas perintah raja. Memaksa mereka mau tak mau harus kembali ke kota, entah bisa bertahan atau tidak.

“Segera tinggalkan dalam satu menit! Kami tak peduli soal barang kalian, tapi semuanya harus keluar! Raja tak mau ada yang sampai terbunuh di dalam!”

Para pengawal kerajaan pun masuk ke rumah-rumah, lalu menarik semua anggota keluarga yang masih di dalam. Seluruh keluarganya sudah keluar sambil kerepotan membawa segala macam perabotan penting, tapi gadis itu tetap masih menetap di tempatnya, berdiri di balik pintu dapur.

“Bakar rumah mereka,” perintah penasihat yang sedari tadi hanya mengamati.

Para pengawal mulai melempar obor satu per satu ke arah rumah yang berderet. Rumah Felis pun bernasib sama. Api berkobar di pojok rumah, mulai menyebar ke segala sisinya.

“Tunggu!” Ibu Felis berteriak. “Anakku masih di sana!”

Penasihat Selatan terkesiap, kemudian menyuruh para pengawal untuk segera membawa keluar gadis itu. Sebagian pengawal masuk mencari gadis itu. Salah satu dari mereka menemukannya di balik dapur, sedang terdiam dengan tatapan kosong. Tangannya bersembunyi di belakang punggung. Menggenggam sebuah pisau.

Tanpa basa-basi, pengawal itu menarik tangan Felis. “Di sini kau rupanya. Cepat ke—”

Dengan gerakan kilat, tangan berpisau Felis melayang dan menikam pria itu telak di dadanya. Darah memancar mengenai tangan mungilnya. Satu pengawal tumbang, hanya berselang sekian detik dari kedatangannya.

Pengawal-pengawal lain yang berada di rumahnya langsung menuju sumber suara ketika mendengar suara rintihan rekannya sebelum mati.

Secara logika, gadis berumur empat belas tahun tak mungkin bisa melawan lima pengawal sekaligus. Tapi kali ini tidak begitu.

Felis punya lebih dari satu pisau di kantongnya, tangannya ringan melempar pisau itu ke sana kemari, menusuk semua jantung pengawal itu. Dapur menjadi pengap karena darah yang menodai tembok dan lantainya, mengalir hingga menyelimuti telapak kaki Felis.

Api sudah memakan sebagian rumah Felis, ketika si penasihat curiga karena tak ada pengawal yang kunjung keluar. Dia pun menyuruh pengawal yang tersisa masuk kembali sebelum rumah itu sempurna menjadi abu. Belum sempat seorang dari mereka masuk, pisau lebih dulu menyambar mereka, merenggut nyawa yang tak seharusnya mati di hari itu.

Dengan kebencian yang membuncah dalam hatinya, Felis keluar dari rumah, melempar pisau di tangannya ke arah jantung para pengawal. Gerakan lincahnya berkat pengalaman tinggal di hutan ini membuatnya dapat menghindar dengan baik dari tangkapan mereka.

Anak ini seperti monster yang telah lama terkurung. Tak ada yang bisa menghentikannya.

Lima menit bahkan belum berlalu. Felis menghentikan perbuatan tak masuk akalnya itu, melepas pisau dari tangannya. Napasnya terengah-engah lantaran bergerak lebih cepat dari biasanya. Hawa panas dari api yang berkobar makin tinggi di sebelahnya menyatu dengan wajahnya yang ternodai bercak darah.

Raut kemenangan terlihat di wajahnya saat dia mengangkat kepalanya, menatap keluarganya. “Kalian lihat? Dengan ini, semuanya beres—”

“Apa yang kau lakukan, Felis?!”

Felis tersentak mendengar bentakan ayahnya. Tak ada satu pun keluarganya yang memandangnya baik, padahal dia sudah menyelamatkan mereka. Cara mereka menatapnya itu sangat tidak mengenakkan. Dan tatapan itu bukan hanya diberikan oleh keluarganya. Seluruh rakyat pinggiran yang melihat aksinya tadi, kini menatapnya ngeri.

“Pergi... pergi sana...” Suara ibunya terdengar bergetar, matanya menyiratkan ketakutan yang tak bisa didefinisikan lagi ketika menatap anak bungsunya itu.

Gadis kecil itu balas menatap ibunya dengan penuh kebingungan, yang justru membuat wanita itu bertambah gemetar. “Ibu...? Kenapa—”

“PERGI DARI HADAPANKU DAN JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI!!”

            

Diusir dari keluarga. Menjadi buronan kerajaan. Satu minggu telah berlalu, seharusnya Felis tak lagi ada di dunia ini. Namun ajaib, dia masih bisa hidup.

Dendamnya pada Raja Selatan telah mengubah kepribadiannya. Hanya dalam satu hari, Felis berubah menjadi pembunuh berdarah dingin.

Entah sudah berapa banyak yang dia bunuh. Pengawal-pengawal yang mengejarnya dan berusaha menangkapnya selalu dia renggut nyawanya. Ketika melayangkan pisau, yang ada di pikirannya hanyalah sosok raja itu. Kehadirannya dalam benak Felis menyulut dendam yang memenuhi hatinya, membuatnya ingin menghancurkan siapa pun yang berhubungan dengan orang itu.

Perasaan itu makin bertumbuh kian hari, tak bisa diredakan. Bahkan sampai Felis membenci semua raja, penguasa mana pun itu.

 

“Gadis yang malang...”

Sejak Felis menggunakannya, Kanmaki sudah melihat masa lalu gadis itu seluruhnya. Gambaran itu selalu melintas di kepalanya setiap saat, seolah memaksanya untuk tidak lupa.

Orang lain mungkin akan bergidik ngeri menonton peristiwa kecil Felis dulu, tapi Kanmaki tidak. Sebagai orang yang sama sepertinya, dia justru merasa deja vu melihatnya.

Lihat selengkapnya