Sepi. Lengang.
Itulah yang dirasakan Sorie selama seminggu ini di istana. Dikarenakan musibah asap hitam, sebagian pengawal dipulangkan ke rumahnya, tak ada kewajiban menjaga gerbang. Beberapa yang masih bekerja—terdiri dari para pengawal senior—ditempatkan di dalam istana, sebagai bentuk kewaspadaan jikalau Kanmaki datang kembali.
Sebenarnya, luka di punggung dan kakinya belum sembuh total, tapi Sorie tak bisa menahan dirinya untuk duduk di singgasana. Dia tak bisa berdiam saja di kamar sebagai pemimpin negeri ini. Walau kakinya yang sempat luka sebelumnya kini bertambah sakit lagi, dia tetap harus melaksanakan tugas kenegaraannya. Bahkan sampai malam hari seperti ini.
Sudah tiga hari sejak terakhir kali pasokan makanan untuk warga diberikan, Sorie harus menyiapkannya kembali untuk besok. Daripada itu, ada hal yang lebih menjadi pokok pikirannya.
Surat yang dia kirimkan pada raja lainnya.
Tak seharusnya elang pengirim surat Negeri Utara terbang selama itu. Keempat kerajaan memiliki burung pengantar surat tersendiri, yang sudah dilatih khusus untuk bisa terbang secepat mungkin. Seminggu tak ada balasan rasanya mustahil. Kalaupun mereka tak bisa membantu, setidaknya mereka tetap mengirim balasan.
Suara melengking terdengar menggema di luar sana, menusuk telinga Sorie. Raja yang sedang duduk tenang di singgasananya itu terlonjak kaget, segera bangkit untuk mengecek apa yang terjadi.
Bersamaan dengan dirinya membuka pintu, Raven melakukan hal yang sama dari luar. Dia tersentak kaget mendapati rajanya sudah keluar duluan tanpa perlu diberitahu.
“Apa itu tadi suara Howl?” tanya Sorie.
Raven mengangguk, “Tak ada yang punya suara sekeras itu kecuali si elang raksasa tersebut. Sepertinya ada yang datang.”
Sorie terkesiap mendengarnya, “Kazuo... atau Zena?”
Tanpa menunggu apa-apa lagi, Sorie mengaktifkan kekuatan teleportasinya. Jika Howl sudah mengeluarkan lengkingan elangnya, artinya ada seseorang yang datang. Entah itu siapa, Sorie harus pergi ke depan gerbang kerajaan secepatnya. Tubuhnya dalam sekejap dikelilingi api biru, yang siap menelannya dalam hitungan detik.
“Tunggu, Raja Sorie! Bisa saja yang di luar itu—”
“Tak perlu khawatir. Kalaupun itu orang jahat, masih ada Howl di sana yang akan menjagaku,” potong Sorie, selagi dirinya hilang bersama lingkaran api biru.
Pemandangan di hadapan Sorie seketika berubah. Matanya tak lagi menangkap halaman istana yang seluas lapangan, melainkan hutan-hutan rimba yang berada di luar kerajaan. Asap hitam rupanya memang hanya menutupi kerajaan, dilihat dari hutan luar yang bersih, cerah, tanpa ada yang menghalanginya dari sinar bulan yang bertengger di langit malam.
“Tak kusangka Anda langsung datang malam-malam begini, Yang Mulia.”
Sorie mengangkat kepala, menatap elang raksasa itu di belakangnya. Tubuh hitamnya nyaris tak terlihat dikarenakan asap hitam mengepul di belakangnya—ditambah lagi hari sudah malam.
Dengan senyum kecil di wajahnya, Sorie menjawab, “Sudah lama kita tak kedatangan tamu ya, Howl. Ah, maksudku selain tamu ilegal, si perampok itu.”
Howl mendesah, “Pada awalnya aku saja khawatir yang datang kali ini orang jahat juga. Tapi rupanya tidak. Mereka berniat membantu Anda.”
Sorie pun menolehkan kepala, melihat ke arah di mana seharusnya orang yang datang itu berada. “Ya, aku yakin Kazuo dan Zena.....”
Mulut Sorie terkatup, seiring tubuhnya membeku sekejap begitu melihat sosok yang datang ke kerajaannya itu. Dalam benaknya, tergambar sosok Kazuo dan Zena yang penuh kewibawaan, tapi kenyataan yang hadir di hadapannya tidak seperti itu. Yang datang adalah seorang lelaki berambut merah gelap dengan postur tubuh yang tinggi, bersama seorang lain dengan rambut pirang gondrong yang diikat satu.
Suara Sorie terdengar bergetar, keluar dari bibirnya yang nyaris kelu. “.... Ash?”
Lelaki itu tersenyum tulus ketika Sorie menyebut namanya, “Senang bertemu denganmu lagi, Sorie.”
“Huh? Tapi, bagaimana... setelah enam tahun...” Sorie masih belum pulih dari keterkejutannya.
“Yah, banyak yang sudah terjadi di kerajaanku selama ini. Maaf, aku jadi tak bisa berkomunikasi karena itu,” ujar Ash.
“K-kenapa? Bagaimana?”
Ash tertawa kecil melihat reaksi Sorie yang terkejut luar biasa itu, “Rasanya jahat sekali tak memberitahu semuanya, ya. Ayahku sudah tiada, Sorie. Aku memang anak terakhir, tapi tahta diberikan padaku. Itu karena semua kakakku menolak menduduki tahta. Mereka lebih memilih hal-hal yang mereka sukai, dan seenaknya menyerahkan tanggung jawab ini padaku. Aku tak bisa menang melawan kakakku, karenanya aku hanya bisa menerimanya.”
Lagi-lagi Sorie dibuat terkaget-kaget dengan penjelasan Ash barusan. Matanya menatap kepala Ash, di mana sebuah pita emas melingkar di sana. Sorie tahu apa itu. Raja Selatan tidak memakai mahkota sebagai tanda seorang penguasa, melainkan pita emas. Ini pertanda bahwa perkataan Ash bukan main-main. Dia sungguhan sudah dinobatkan menjadi Raja Selatan, menggantikan ayahnya.
“Lalu kenapa kau tidak memberitahuku? Lewat surat misalnya,” tanya Sorie.
“Aku baru dinobatkan seminggu yang lalu,” jawab Ash, membuat Sorie terkesiap, “baru saja aku mau memberi kabar padamu, surat permintaan tolongmu tiba.”
Sorie menunduk, “Maaf, aku merepotkanmu di saat-saat penting begini.”
“Ah, tidak. Aku sama sekali tak keberatan, Sorie. Sudah lama juga aku tak mengunjungimu, rasanya tak mungkin aku membiarkan temanku kesulitan, kan?” ujar Ash, mengibaskan tangannya tanda tak masalah, "apalagi kerajaan kita saling berseteru enam tahun terakhir ini. Aku ingin sekalian memperbaiki hubungan itu."
“Terima kasih, aku sangat berterima kasih,” ucap Sorie, “aku khawatir tak ada yang bisa datang sama sekali, beruntung kau kemari.”
Ash balas tersenyum, kemudian senyumnya hilang begitu dia terdiam cukup lama dengan pandangan terarah pada kawan lamanya itu.
Sorie yang merasa ditatap cukup lama itu mengerutkan dahi, “A-apa?”
“Kau tak berubah, ya, Sorie. Padahal kukira kau akan lebih tinggi.”
Tak main-main, kaki Sorie melayang menendang pinggang cowok yang jauh lebih tinggi darinya. “Tak sopan!” tukasnya.
Ash tertawa, sama sekali tak menghiraukan ucapan Sorie barusan. “Hahaha... kau benar-benar tidak berubah. Rasanya jadi teringat masa dulu.”
Mendengarnya, rasa kesal Sorie menguap, digantikan nostalgia yang membuatnya tak kuasa menyembunyikan senyumnya. Dia ikut tertawa kecil bersama Ash, saling mengingat kejadian-kejadian yang mereka alami dahulu.
Setelah rahangnya mulai terasa sakit lantaran kebanyakan tertawa, Raja Selatan itu mengangkat kepala, memandang asap hitam yang tebalnya melebihi awan di langit. Tawanya hilang sepenuhnya begitu matanya dipenuhi bayangan hitam itu.
“Ini sesuatu yang tak masuk akal, dan cukup merepotkan. Aku paham kenapa kau sampai meminta bantuan. Tapi siapa yang bisa melakukan sesuatu sebesar ini?”
Sorie menghela napas panjang, merasa tak enak setiap membicarakan Kanmaki yang sudah seenaknya mengusik kerajaannya, seolah negeri ini adalah mainannya.
“Dia musuh legenda nenek moyang dulu. Akan kujelaskan di dalam,” kata Sorie, “lebih baik kita ke istana dulu.”
“Baiklah.” Ash mengangguk.
Sorie baru saja berbalik saat dia menyadari sesuatu. Kepalanya kembali tertoleh pada Ash, juga orang yang sedari tadi mengikutinya.
Dengan dahi berkerut, dia bertanya, “Kau tak membawa orang lain lagi bersamamu?”
“Ah, soal itu... kau bilang butuh bantuan untuk mencari penjahatnya karena kau kesulitan dengan adanya asap ini, kan? Juga membutuhkan kekuatan yang bisa menghapus kekuatan penjahat itu,” ujar Ash, “tentang yang kedua, aku tak memilikinya di kerajaanku. Itulah mengapa aku hanya membawanya, sebagai pelacak andalanku.”
Lelaki berambut pirang di sebelahnya ditariknya mendekat. Ash menepuk-nepukkan tangannya ke pundak cowok itu, ada aura kebanggaan tersendiri di wajahnya.
"Ini Tetra, penasihat kerajaanku. Dengan kekuatan kerajaannya, dia bisa menemukan orang itu bahkan jika dia bersembunyi di bawah tanah sekalipun,” tutur Ash.
Ada sedikit rasa kecewa di hati Sorie karena Ash tak mempunyai apa yang dia cari, tapi bantuan dari temannya itu sudah sangat berarti. Menemukan seorang pelacak sudah sangat menguntungkan.
“Terima kasih atas bantuanmu, Ash,” ujar Sorie, “kalau begitu, mari bergegas ke istana.”
Ash mengekor di belakang Sorie yang berjalan lebih dekat ke gerbang. Matanya berbinar begitu melihat kalung Sorie yang terpantul cahaya matahari.
“Sudah lama aku tak dibawa pergi dengan teleportasimu,” katanya sambil terkekeh, “ngomong-ngomong, bagaimana kabar dia?”
Sorie yang sudah mulai merapal mantra berhenti sejenak, menatap bingung kawannya itu, “Dia?”