Raven buru-buru berjalan di koridor lantai dua, menuju tempat yang lainnya berada. Hari memang masih sangat pagi, tapi permasalahan Kanmaki tak boleh ditunda sedikit pun. Itulah mengapa Sorie memanggil mereka untuk rapat di jam segini.
Langkahnya terhenti di depan ruang rapat. Dibukanya pintu itu dan segera masuk ke dalam, bergabung bersama para pegawai tingkat atas lainnya.
“Maafkan aku karena terlambat datang,” ucap Raven seraya sedikit membungkukkan badan di hadapan Sorie.
Sorie mengibaskan tangan pelan, “Tak apa, waktu belum terlewat banyak, kok. Lagipula, kita belum memulai rapatnya.”
Penasihat itu mengira rapat sudah berjalan cukup lama ketika dia datang. Namun, seperti apa yang dikatakan Sorie, pemandangan di ruang rapat sangat jauh dari bayangannya sebelumnya.
Mereka tidak sedang membahas masalah itu dengan serius, tapi justru sedang membicarakan sesuatu yang nampaknya sangat menyenangkan. Pandangan ketiga pegawai tingkat atas yang sudah duduk di tempatnya masing-masing tak mengarah pada Sorie, melainkan pada sosok baru yang duduk di kursi yang berseberangan dengan Chester.
Entah siapa itu, Raven belum pernah melihatnya. Tapi pegawai lainnya bercengkerama baik dengan orang itu, seolah-olah teman dekat.
Sadar akan tatapan bingung Raven, Sorie pun menjelaskan, “Ah, Raven. Lelaki berambut merah ini adalah kawan lamaku. Raja Selatan, Ash. Datang bersama penasihatnya, Tetra.”
Raven ber-oh cukup panjang. Negeri Selatan, kerajaan yang kabarnya berkonflik dengan kerajaannya. Raven adalah pendatang, tak terlalu paham soal negeri tetangga itu. Karenanya, dia sepertinya tak bisa mengobrol seheboh yang lainnya.
Meski begitu, Raven tetap bergabung. Dia duduk di kursi kosong sebelah Chester, melirik menteri yang sedang tampak antusias dari tadi.
“Aku benar-benar tak menyangka Pangeran Ash datang kembali ke sini! Ah maaf, Raja Ash, maksudku.”
Ash menyahut, “Tak kusangka juga kau menjadi menteri sekarang, Chester.”
“Banyak yang sudah terjadi,” kata Chester sambil tertawa kecil.
Tentu saja Ash mengenal Chester, sebagai anak dari pemburu kerajaan. Sering mereka bertemu saat kanak-kanak dulu, ketika pertemuan aliansi diadakan di Negeri Utara. Hanya saja, waktu dulu Chester dikatakan akan menggantikan ayahnya, itulah mengapa Ash sedikit terkejut melihatnya memakai kain penanda jabatan untuk menteri.
Semua pegawai tingkat atas yang hadir di sini dikenal oleh Ash, kecuali Raven yang merupakan pegawai baru. Tentu dia juga mengingat sosok Slaine dan Mia.
"Sepertinya ada wajah baru di sini, ya?” tanya Ash, menatap ke arah Raven.
Raven tertegun, lalu dengan penuh hormat memperkenalkan, “Aku Raven, Penasihat Kerajaan. Senang bertemu dengan Anda. Semoga kemampuanku bisa membantu.”
Ash tersenyum mendengarnya, membalasnya dengan anggukan kepala.
Chester kemudian menyikut Raven dengan tangannya, berbisik pelan di telinga cowok itu, “Aku tak yakin kau bisa damai dengannya.”
“Apa maksudmu?” tanya Raven dengan dahi berkerut.
“Perlu kuberitahu?” Chester balik bertanya dengan seringai licik di wajahnya. “Tapi kemungkinan kau akan sakit hati setelah ini.”
Kesal melihat Chester mempermainkannya, Raven bertukas kecil—tetap menjaga suaranya agar tak terlalu keras. “Apa, sih?!”
Chester mendekatkan mulutnya lagi ke telinga Raven, agar suaranya terdengar lebih jelas. “Raja Ash itu, ya, asal kau tahu....”
“... tunangan Putri Laura, lho.”
Raven mematung setelahnya. Tatapan matanya menjadi kosong, pertanda dia tak percaya dengan apa yang barusan dikatakan Chester. Andai hatinya terbuat dari kaca, pasti sudah pecah berkeping-keping sekarang. Kini perasaannya bukan lagi “mungkin tak terbalas”, tapi sudah “mustahil terbalas.”
Sementara Chester, bukannya menepuk-nepuk pundak Raven agar melapangkan keadaan itu, justru tertawa dalam diam, menutup mulutnya demi mencegah tawanya menyembur.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Raven sinis, melirik tajam pada Chester.
“Aku tumbuh di lingkungan istana juga, tahu. Kenal dekat dengan Raja Ash bukan sesuatu yang mustahil bagiku,” jawab Chester, “mereka sudah ditunangkan sejak umur sepuluh tahun. Kau telat, Raven.”
“Kenapa kau tak memberitahuku dari awal?”
“Sejak kau datang, Negeri Selatan sudah memulai konfliknya dengan kerajaan kita. Tak mungkin kita membahas tentang pangeran itu, di saat Yang Mulia juga tak pernah membicarakannya lagi. Selain itu, membiarkanmu menyukai Putri Laura tanpa tahu apa-apa sangat menghiburku.”
Raven menampar lengan Chester keras, membuat menteri itu mengerang kecil. Beruntung pertikaian mereka tidak mengundang perhatian Sorie maupun Ash.
“Anda hanya membawa penasihat?” tanya Mia di sela-sela percakapan Ash dengan Slaine.
“Ya, aku akan membantu mencari orang itu dengan bantuan kekuatannya. Soal bertarung, aku tak bisa meragukan kalian, kan?” jawab Ash, “apalagi panah Slaine yang kuat itu.”
“Panah itu tak bisa mengalahkannya, tahu,” kata Sorie, melipat tangannya di dada.
Ash tersentak, “Benarkah?”
“Yang bisa melumpuhkan asapnya hanyalah air. Dan kami cuma punya satu orang yang bisa diandalkan untuk itu,” jelas Sorie, “kekuatan yang pernah kubilang juga belum ditemukan—”
BRAKK!!
Pintu ruang rapat dibanting keras tiba-tiba. Menampakkan Sang Putri yang datang dengan napas terengah-engah. Sontak semuanya serempak menengok ke arahnya—Chester sudah lebih dulu mendesah berat.
“Kenapa seisi istana sepi, sih?! Kalau mau rapat, bilang-bi...”
Laura seketika mengatupkan mulut. Matanya terpaku pada satu sosok langka di kursi rapat, yang tinggi semapainya masih bisa terlihat walau sedang duduk.
Setelah sekian detik mematung di tempat, suaranya terdengar bergetar pelan, “A..Ash...”
Ash tersenyum menatap wajah Laura yang sudah lama tidak dilihatnya, “Lama tak berjumpa, ya, Laura.”
Sedetik kemudian, Laura melesat menghampiri tunangannya itu. Dia langsung melingkarkan tangannya di pundak Ace, memeluk cowok yang sedang duduk tenang di kursinya itu dengan erat. Sorie membelalak melihatnya. Begitu pula Chester, juga Raven yang mengutuk keberadaannya sendiri di sini.
Siapa sangka Laura rupanya mengeluarkan air matanya di pelukan Ash, menangis tersedu-sedu layaknya anak kecil. Selang beberapa detik, dia mengangkat kepala, menatap cowok tinggi itu dengan mata sembab.
“Ke mana saja kau selama ini? Kau bilang akan terus berkunjung ke sini tiap tahun, tapi apa yang kau lakukan akhir-akhir ini?!” Laura bertanya sambil terisak, benar-benar seperti anak kecil yang baru saja ditinggal main.
Ash tertawa kecil, lalu tersenyum sambil menepuk-nepuk kepala Laura. “Ada sesuatu yang terjadi di kerajaanku selama enam tahun terakhir, membuatku tak bisa mengunjungi kerajaan lain. Maafkan aku.”
“Permintaan maaf saja tak cukup! Aku sangat merindukanmu, tahu,” rengek Laura.
“Laura.”
Suara Sorie memotong pembicaraan Laura, membuat kembarannya itu menoleh padanya. Kedua tangannya masih melingkar di leher Ash.
“Ash datang ke sini untuk membantu misi kita, bukan semata-mata kunjungan biasa. Tolong jangan menganggunya sekarang,” kata Sorie, “kita juga sedang mau rapat.”
Laura mencibir, menatap tak suka ke arah Sorie, “Aku tak akan menganggu, kok! Bilang saja kau iri karena belum punya tunangan!”
“Ap—”
Sorie tersentak mendengar ejekan telak dari Laura. Wajahnya memerah seketika lantaran malu. Hal itu membuat Slaine dan Chester nyaris kelepasan tertawa. Mereka berdua menutup mulut untuk menahan tawa, sebelum Mia melayangkan tamparan ke punggung keduanya.
“Ini soal musibah besar yang menimpa kerajaan kita, tahu! Jangan main-main,” tukas Sorie.
“Aku tak main-main,” bantah Laura seraya melipat kedua tangannya di dada, “aku ke sini karena mau mendengarkan juga.”
“Jangan bercanda,” ceplos Chester langsung.
Laura memberi tatapan setajam tombaknya kepada Chester, seolah peringatan untuk tidak mengatainya lagi. Tapi Chester sama sekali tak terpengaruh, justru dia mendengus kecil untuk mengejek balik.
Putri itu memang tak bercanda. Jarang sekali dia mau ikut rapat seperti ini. Padahal di rapat sebelumnya dia tak mau disamakan dengan para pegawainya, tapi sekarang dia memilih ikut duduk di sebelah Ash—kehadiran tunangannya ini mungkin salah satu penyebabnya.
Sorie menghela napas, “Yah, terserah kaulah.”
“Baik, kita mulai rapatnya sekarang.”
Begitu Sorie berdehem kecil, suasana di ruang rapat seketika berubah. Semuanya mendadak berubah serius, tak lagi main-main kalau sudah membahas soal Kanmaki.
“Kita bahas dulu mulai dari pelacakan,” ujar Sorie, memperbaiki duduknya, “bisa kau jelaskan pada kami bagaimana penasihatmu akan mencari Kanmaki?”
“Ya, tentu. Kelihatannya mungkin biasa saja, tapi selama dia tahu ciri-cirinya, Tetra pasti akan menemukannya, di mana pun dia berada,” jelas Ash.