Altar & Altarik

Reza Lestari
Chapter #5

Sebuah perbedaan

A FIVE FAMILY

Azka : Assalamualaikum ... kalian semua pada datang ke rumah gue, kan? Acara tujuh bulannya jam sebelas siang nanti.

Sandy : Waalaikum salam. Iya, gue pasti datang lah. Kalau nggak datang bisa digantung gue, di pohon cabe sama Ibu Negara Perharimauan @Adzwa.

Aldi : Waalaikum salam, tenang ... gue juga datang.

Azka : @Regi lo juga harus datang, kalau nggak mau kena semprot bumil.

Azka : Oh, ya, hari ini gue sama Adzwa nggak bisa jemput Alexan ke sekolahnya. Jadi, gue minta tolong, ya, sama kalian buat gantiin gue jemput Alexan. Siapa aja, deh. Asalkan Alexan pulang dengan selamat sampai rumah.

Regi : Biar gue aja yang jemput Alexan.

Sandy : Baru nongol, nih, curut satu, ke mana aja lo?

Azka : Ada angin apa lo tiba-tiba nongol di grup langsung bilang mau jemput Alexan? Biasanya juga kalau gue telepon lo buat nyuruh jemput Alexan, lo banyak alasan.

Regi : Alexan juga anak gue, jadi biar gue aja yang jemput. Sekalian nanti gue datang ke rumah lo, karena gue nggak mau dengerin nyonya besar ngomel-ngomel kalau gue nggak datang.

Aldi : Widihhh ... baik sekali alasanmu, Ayah.

Sandy : Aku sangat terharu dengan balasannya, Ayah. Kau memang Ayah terbaeeek untuk anakmu.

Regi : Bac*t lo!!

Azka : Ya, udahlah kalau lo yang mau jemput Alexan, jangan sampe telat datang ke rumah gue-nya, ya. Sebelum jam sebelas, lo semua harus udah ada di rumah.

Aldi : Siyaaap babeh.

Sandy : Oke-oke, sihaaap.

Regi tak membalas lagi chatt-nya, ia lebih memilih untuk pergi sekarang ke sekolahnya Alexan. Entah kenapa, sekarang ia suka jika harus menjemput Alexan ke sekolahnya. Karena ada alasan lain, yang membuatnya mau menjemput anak itu. Meski sebenarnya ia masih bingung dengan alasannya itu.

———

Regi melihat Arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 10 tepat. Itu, artinya Alexan akan segera pulang sebentar lagi.

Lima menit kemudian, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga menghampirinya, saat itu Alexan datang bersama Altar.

“Ayah,” panggil Alexan sambil mencium punggung tangan Regi yang diikuti oleh Altar.

“Hai, Om!” sapa Altar dengan senyum manisnya yang membuat siapa pun akan merasa gemas saat melihatnya.

“Hai, Altar.”

“Ayah, apa boleh aku ajak Al ke rumah?” tanya Alexan.

Regi sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menyejajarkan tubuhnya dengan Alexan dan Altar. “Altar mau ikut kita ke rumah, Lexan?” tanyanya.

“Memangnya Altal boleh ikut, Om?” tanya balik Altar.

“Boleh kalau Altar mau,” jawab Regi yang membuat kedua mata Altar berbinar saat mendengarnya.

“Mau Om, Altal mau ikut. Kata Alexan, sekalang di lumahnya bakalan banyak makanan ya, Om?” Senyuman Regi mengembang, saat mendengar perkataan polos dari Altar. Lalu, mengangguk.

“Iya, banyak. Kamu bebas mau makan apa aja di sana,” ucap Regi yang semakin membuat Altar senang, “ya udah, masuk ke mobil, yuk.”

Mereka pun masuk ke mobilnya Regi, jika Alexan duduk di kursi penumpang yang ada di belakang. Beda halnya dengan Altar yang meminta untuk duduk di kursi penumpang yang ada di depan, ia jarang sekali naik mobil pribadi seperti yang dimiliki Regi. Jadi, ia ingin sekali duduk di depan.

“Oh ya, Om. Kata Bunda, makasih udah beliin sate, Bunda suka banget sama satenya,” kata Altar yang belum sempat menyampaikan ucapan terima kasih dari bundanya pada Regi, karena kemarin Alexan dijemput oleh Adzwa bukan oleh lelaki itu.

“Iya, sama-sama. Syukurlah kalau Bunda kamu suka,” ujar Regi yang diangguki Altar.

“Altar, tadi kamu dapat nilai berapa waktu menggambar?” tanya Alexan.

Altar mengambil selembar kertas HVS yang digunakan sebagai alat menggambarnya tadi saat di sekolah di dalam ransel, untuk melihat nilai yang diberikan gurunya untuk gambar yang dibuatnya. “Aku dapat nilai delapan puluh, Lexan. Kalau kamu?”

Lihat selengkapnya