Blurb
Di sudut remang Kafe Semikolon, waktu seolah melambat dan sengaja menyisakan ruang bagi jiwa-jiwa yang enggan menepi.
Bagi Aruna, setiap jepretan lensa kameranya adalah usaha sunyi untuk membekukan waktu, sebuah cara merebut kembali kendali atas hidupnya yang sempat hancur berkeping-keping. Namun, di kafe inilah matanya tertumbuk pada sebuah tanda tanya besar bernama Malik di episode hidup barunya.
Dua penyintas dari tragedi rel yang sama ini kini terjebak dalam ruang jeda yang mereka bangun sendiri. Di antara kepulan uap kopi hitam dan rahasia yang terkunci rapat, takdir memaksa mereka untuk mengeja kembali sisa-sisa ingatan yang compang-camping. Mereka segera menyadari bahwa melarikan diri adalah kesia-siaan, sebab kereta itu sudah lama berlalu, tetapi gemertaknya masih menetap di lipatan hati, dan terekam di lensa yang retak.