Safari, salah satu ksatria paling disegani di Republik Konowa, sebuah koloni penghuni planet terujung di galaksi Andromeda, berlari sekuat tenaga, seakan melayang terbang. Di belakangnya, seorang pemuda lain, Zafi dan pasukannya, tak henti-henti menghujankan tembakan dari mobil terbang mereka. Untungnya Safari bukanlah pemuda biasa, kalau tidak sudah sejak tadi badannya hancur berkeping-keping. Di tengah gempuran bertubi-tubi, Safari merasakan tubuhnya terangkat lebih tinggi lagi, bukan karena larinya yang semakin kencang. Dalam hitungan detik, dia sudah berada di kokpit mobil terbang lainnya. Samira, gadis cantik seusianya, berada disampingnya, sibuk mengendarai mobil itu sekebut mungkin, sambil menghindari serangan dari belakangnya.
"Tamij masih di tanganmu?" teriak Samira di sela-sela raungan mesin mobil dan desing peluru yang beterbangan.
Safari tidak menjawab, hanya menyentuh tonjolan besar di balik baju bagian dadanya.
Tiba-tiba sebuah tembakan keras menghantam mobil mereka. Samira berteriak keras, hampir terlempar dari depan setir. Safari pun sempat oleng di sebelahnya. Tergopoh-gopoh, gadis itu menarik tablet berukuran sedang dari balik dashboard. Tablet tipis itu meminta otorisasi.
“Kata sandi?”
"Neyo Lakan!" jawab Samira lantang.
“Inisiasi pembukaan portal antargalaksi dimulai. 30, 29, 28....”
Sebuah tembakan keras kembali menghantam mobil mereka. Kali ini mengakibatkan kerusakan yang fatal. Samira tidak mampu mengendalikannya, sekuat tenaga mengarahkan ke dataran di ujung tebing, meskipun tidak yakin usahanya akan mampu menyelamatkan mereka.
“18, 17...”
"Kemana pun portal ini membawamu, jangan sekali-kali mencoba mengirimkan sinyal apa pun! Jaga Tamij dengan nyawamu! Suatu hari nanti, siapa pun yang tersisa di kawanan kita, akan menghubungimu. Kita akan bangun ulang semua yang sudah dihancurkan Admiral Zifarh Hobod dengan Tajmi. Semua yang kita butuhkan sudah dilebur ke dalamnya!" Samira mencoba mengungkapkan semuanya sejelas mungkin, di sela-sela usahanya memastikan mobil mereka tidak hancur berkeping-keping menabrak bebatuan keras di bawah sana.
Mobil terbang itu makin oleng, menukik tajam ke arah jurang.
"Bagaimana denganmu? Kamu bisa ikut aku!" balas Safari.
"Portal ini hanya bisa menampung satu penumpang. Kalau dipaksakan berdua, kita akan terpental ke luar koordinat yang sudah dipasang, ke antah barantah! Resiko yang terlalu besar untuk diambil!" jawab Samira.
Sebuah tembakan lagi di bumper belakang akhirnya menjatuhkan mobil itu. Samira, menyambar tablet di depannya, sebelum dia dan Safari meloncat gesit, membiarkan mobil menghantam tanah. Tablet dipeluk sekuat mungkin, sebelum tubuhnya bergulingan di tanah berbatu, tak jauh dari mobil yang sudah dilahap bumbungan api merah.
"Portal hanya akan terbuka selama 10 detik! Kamu harus langsung melompat, jangan ragu," ucapnya parau, sambil menatap Safari tajam.
Safari memalingkan wajah sambil menarik napas panjang, tak sanggup membalas tatapan itu.
“8, 7...”
Saat keduanya berusaha untuk mengendalikan perasaan di detik-detik terakhir kebersamaan mereka, tembakan keras menghantam dada Samira. Teriakan keras meluncur dari mulut gadis itu, disusul muncratan darah di sela bibirnya, sebelum terlempar beberapa langkah ke belakang.
"Kalian pikir kalian bisa lolos begitu saja!" Kargan, panglima utama Admiral Zifarh, membentak keras, sebelum meloncat secepat kilat dari mobil terbangnya, tanpa ragu menyerang keduanya dengan sengit.
Safari berusaha mengangkat tubuh Samira yang tergeletak lemah.
"Abaikan aku! Fokus ke misimu," tepisnya pelan.
“5, 4...”
Safari memegang tangan gadis yang selalu dia kagumi itu, menatap matanya tajam. Genangan air mata memenuhi mata birunya. Seandainya dia sempat mengutarakan kekagumannya. Penyesalan membuat kesedihannya jadi berlipat-lipat.
“3, 2, 1.”
Cahaya menyilaukan muncul dari tablet di tangan Samira, membuat gadis itu terpental makin jauh dari Safari. Cahaya yang perlahan membesar, sembari menguak lobang hitam di tengah pendarnya.
Kargan makin menghujani Safari dengan tembakan membabi buta, namun masih berhasil dihindari dengan cekatan. Safari melihat ke arah Samira yang terbaring kaku di ujung sana. Dia tidak tahu apakah gadis itu masih hidup atau tidak, namun dia tahu itu adalah kali terakhir dia akan melihatnya.
Sebuah tembakan keras kembali mengarah cepat ke arahnya. Safari mengelak gesit, sambil meloncat ke dalam lingkaran hitam. Matanya tak lepas dari tubuh Samira, yang meskipun lemah, masih melambaikan tangan perlahan, menatapnya dengan mata bersinar.
"TIDAK!!!"
Teriakan penuh amarah Kargan terdengar sayup oleh Safari, sebelum seluruh tubuhnya ditelan portal. Kargan menatap kalap beberapa anggota pasukannya.
"Kalian kembali ke HQ, beri tahu Admiral kalau saya akan memburu Safari! Sampai ke ujung galaksi akan saya kejar, untuk mendapatkan Tamij sialan itu!"
"Kargan, portal itu hanya didesain untuk saru orang! Resikonya terlalu...” Dia tidak menyelesaikan perkataannya melihat Kargan menatapnya bengis.
Anggota itu langsung terdiam, hanya bisa menyaksikan Kargan meloncat kalap ke dalam lingkaran hitam, persis satu detik sebelum tertutup. Cahaya yang mengelilingi portal pun hilang. Disusul tablet tipis yang mental ke tanah, sebelum akhirnya hancur berkeping-keping.
---
Sementara itu, di planet bumi, jutaan tahun cahaya dari Konowa, tepatnya di timur Jakarta. Seorang gadis berusia 18 tahun, Tera, menggeliat malas di tempat tidur berukuran sedang. Wajahnya dijilati kucing oren dengan lahap, yang tiap pagi menjadi “alarm” baginya.
"Rancak, udah, stop! Aku udah bangun," omelnya, sambil memeluk kucing kesayangannya itu.
Dengan bersungut dia bangun, mengangkat si oren, menciumnya gemas, sebelum meletakkan di ranjang. Tera melirik iphone di meja belajarnya.
"Shit! Kenapa uda jam 8-an aja si?!" teriaknya panik, lalu bergegas ke luar kamar, menuju kamar mandi.
“Kenapa sih, pagi-pagi udah mengumpat?" teriak Mamanya dari dapur.
“Paling telat lagi!” ledek Papanya dari ruang tengah.
Tera memasuki kamar mandi gerasak gerusuk, membanting pintunya. Hampir saja menjatuhkan foto keluaraga yang terpajang di dinding samping luar pintu. Awalnya pintu kamar mandi itu bukan di sana, sehingga posisi foto masih wajar. Namun sekarang.... Tera berkali-kali meminta foto itu dipindahkan, namun kedua orang tuanya takut pamali memindahkan sesuatu yang sudah di sana sejak awal mereka pindah ke rumah ini.