Beberapa tahun berlalu semejak Ibu pergi, aku dan Wita hidup dengan baik, bahkan jauh lebih bahagia dari apa yang kubayangkan.
Jadi… Ibu nggak perlu khawatir dan nggak usah kembali, karena sebentar lagi, aku pun akan memiliki tempat pulangku sendiri.
Langkah Arunika terhenti diambang pintu. Pandangannya perlahan menyapu setiap sudut ruangan. Sofa berwarna krem dengan beberapa bantal persegi berwarna kuning dan hijau botol. Meja bulat kecil yang di atasnya ada tanaman hias. Juga karpet minimalis dengan motif geometris kekinian.
Di sisi lain, teve flat terpasang di atas rak bermotif kayu. Ornamen hiasan dinding berbentuk hexagonal muntifungsi. Juga lampu gantung kekinian berbentuk kerucut di atas mini bar yang memisahkan ruang tamu dengan dapur.
Wita yang berdiri di samping Arunika berdecak takjub tanpa malu. Mulutnya menganga lebar sampai-sampai Arunika harus turun tangan mengatupkan mulut adiknya itu.
“Wi, plis deh,” tegur Arunika sambil menyiku pelan lengan adiknya.
Wita terkekeh saat Mbak developer tersenyum ramah dan berkata, “Nggak papa, Mbak. Bisa kita lanjut?”
“Silakan, Mbak,” sahut Wita antusias sambil membuntut sang developer–masuk ke kamar utama.
Arunika pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya yang seperti anak kecil diberi mainan baru.
“Untuk luas kamar utama, tiga kali empat meter. Dengan dua jendela besar dan dua ventilasi udara,” ujar Rini–wanita berusia sekitar akhir dua puluh tahunan itu tampil rapi dalam balutan blezer krem dan celana bahan hitam. Dia sesekali melempar senyuman profesionalnya. Langkahnya penuh percaya diri dan cara bicaranya yang tenang, terdengar seperti ajakan halus yang membuat siapa saja akan jatuh hati pada rumah yang sedang ditawarkannya.
Lagi-lagi mata Arunika dimanjakan dengan desain minimalis yang diusung developer perumahan ini. Terutama cermin full body di pojok kamar dan wall panel motif kayu yang berpadu dengan lampu hias LED yang memanjang seukuran tempat tidur. Pasti sangat nyaman memiliki kamar seperti ini, pikir Arunika.
“Oh iya, Mbak. Kalau misalkan Mbak Aru jadi mengambil salah satu unit, kami menyediakan jasa renovasi dan dekorasi juga, loh. Harga bisa nego sama banyak promo. Pokoknya, dijamin nggak bakal rugi, deh,” ucap Rini saat dirinya selesai menunjukkan kamar kedua, kamar mandi, dan dapur.
Arunika terkekeh. “Ah, Mbaknya bisa aja, nih,” candanya masih betah memanjakan matanya. Terutama interior dapur dan ruang laundry.
Berbeda dengan ruang tamu dan kamar didominasi warna putih dan krem, area ini didominasi warna kayu dan putih.
“Teh, kayaknya gue bakal masak tiap hari kalo dapurnya kayak gini,” kekeh Wita seraya duduk di kursi bulat mini bar. “Beuh, mana empuk lagi kursinya,” lanjutnya membuat Rini menjentrikkan jarinya.
“Oh, jelas, Mbak. Kita sangat mengutamakan kualitas.” Pandangan Rini beralih pada Arunika. “Jadi bagaimana, Mbak Aru? Apakah Mbak tertarik?”
“Banget, Mbak,” sahut Wita dengan mata berbinar. Dia lantas turun dari kursi dan menggandeng tangan kakaknya. “Pokoknya Teteh harus ambil rumah ini. Gila, keren banget. Nggak perlu beli yang mewah-mewah, yang penting bikin nyaman. Ini, cukup buat kita,” tegasnya.
Arunika tertawa kecil. Dia tahu ini lebih dari cukup. Lebih dari nyaman dari kontrakannya sekarang. Bahkan, jauh lebih tenang dari rumah orang itu.
“Tapi…”
Gadis dua puluh lima tahunan itu terdiam. Dia menggenggam erat ponsel di tangannya. Sementara pikirannya dipenuhi banyak pertimbangan. Uang tabungannya mungkin cukup untuk DP, tetapi akhir bulan nanti dia harus membayar uang semesteran kuliah adiknya. Kontrakan dan kosan adiknya. Uang balas budi dan jasa ke orang menyebalkan itu. Belum biaya sehari-hari dirinya dan adiknya.
Rini berdehem pelan membuyarkan lamunan Arunika. “Berhubung ini pertengahan tahun, cukup dua puluh juta deh, Mbak. Khusus Mbak Aru bisa langsung serah terima kunci. Gimana, Mbak?”
Gila! Arunika meneguk ludahnya. Godaan macam apa ini?
Dia langsung menggeleng pelan, mencoba menepis hasrat yang merongrongnya.
Jangan, Nika. Sabar… tunda dulu. Ada yang jauh lebih urgent bukan?
“DEAL!” seru Wita kegirangan sambil mengulurkan tangan pada Rini.
Arunika sontak melirik dengan mata melotot.
Wita malah nyengir kuda sambil menarik kembali tangannya. “Emangnya kenapa sih, Teh? Kapan lagi kita dapat tawaran kayak begini?” protesnya minta dihajar.
Maunya sih gitu, tapi… ah… sudahlah.
Kalau hidupnya tidak serumit ini, mungkin hampir pasti bisa dipastikan dia langsung mengiakan–tanpa mikir lagi.
Arunika menghela napas. Dia kembali mengedarkan pandangannya.
“Kayaknya nanti dulu deh, Mbak,” ucap Arunika dengan berat hati.
“Yah…. kok gitu sih, Teh,” protes Wita kecewa.
Rini juga tampak menyayangkan keputusannya. Pundak wanita berambut sebahu itu perlahan turun. Begitu pun dengan senyumnya.
Arunika menyengir lebar. “DP-nya belum cukup. Ada hal yang lebih urgent yang harus saya bayar dulu,” jawabnya jujur.
“Ah… nggak papa, Mbak Aru. Walau sekarang belum, siapa tahu ke depannya bisa. Iya, kan? Pokoknya kalau Mbak Aru berubah pikiran sewaktu-waktu, bisa hubungi saya, ya.” Rini menyerahkan kartu namanya.
Arunika mengangguk paham. “Makasih sebelumnya ya, Mbak.”