Desember, 2015.
Apa ibu lupa mengirim uang lagi? Padahal ini sudah akhir bulan dan akhir semester.
Setengah berlari, Arunika menyusuri lorong kampus yang ramai. Suara pantofelnya memantul di lantai ubin, sementara mahasiswa lain asyik mengobrol sambil membawa jurnal praktikum. Dengan napas terengah, dia menghentikan langkahnya di depan loket peminjaman alat dan bahan Laboratorium.
Tangannya sudah menggenggam pulpen–siap menuliskan daftar alat yang ingin dipinjamnya. Namun, urung dia lakukan. Dia malah merogoh ponsel Qwerty dari saku jas lab. Layar ponselnya kosong. Tak ada notifikasi pesan ataupun panggilan tak terjawab.
Bibir Arunika mengerucut kecut. Dia menggaruk pelipis, sebelum akhirnya memutuskan untuk melakukan panggilan keluar. Mirisnya, yang terdengar hanya nada datar operator.
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan”
Oh… ayolah! Kepala Arunika terasa nyut-nyutan. Saldo ATM-nya tinggal tiga ratus ribu. Mana cukup? Belum lagi uang kosan yang harus dibayar tiga hari lagi. Pokoknya, jangan sampai dia ditagih ibu kost seperti yang sebelum-sebelumnya. Alasan macam apalagi yang akan dia utarakan? Dan yang jauh lebih rumit dari itu semua, uang semesteran kuliah.
Pundak Arunika merosot. Wajahnya ikut tertunduk. Jika Sang Ibu terlambat membayar uang semesteran dan beralasan lagi seperti yang sudah-sudah, tamat lah. Mau tak mau, dia harus pergi ke bagian keuangan kampus untuk meminta keringan agar dirinya masih diizinkan berkuliah. Mendapatkan kartu UAS dan mengikuti KRS (Kartu Rencana Studi) untuk semester berikutnya.
Arunika menguatkan rahang. Tangannya pun mengepal kuat. Tak tahu kah kalau ibunya itu sangat menyebalkan? Tak bisakah Arunika seperti teman-temannya, yang bisa fokus untuk belajar tanpa merasa terancam karena biaya?
“Lo jadi pinjem alat nggak, sih? Lama banget,” tegur seseorang membuat Arunika mendelik sebal.
“Sabar, dong!” sembur gadis itu. Dia lantas menuliskan semua alat yang ingin dipinjamnya di buku registrasi. Lalu beralih ke loket sebelah, menunggu alat-alatnya disiapkan Bu Juju–petugas penjaga alat dan bahan prodi DIII Analis Kesehatan.
“Biasa aja, sih,” sahut cowok tadi datar.
Arunika berdecak dan menatap tak percaya rival terberatnya di kelas. Litra Mahardika yang kini sedang menulis di buku registrasi.
Tunggu—bukannya semua ini gara-gara Litra? Andai aja tuh cowok nggak ikut remedial Statistika, mungkin IP dia semester kemarin nggak lebih besar 0.5 dari gue. Harusnya gue yang dapet beasiswa IP tertinggi di kelas dan gue bisa fokus belajar soal kisi-kisi UAS, bukannya mikirin Ibu dapat uang atau nggak buat gue UAS.
Arunika merekatkan giginya. “Semester ini, gue nggak bakal kalah lagi dari lo, Tra. Ingat itu,” cetusnya tiba-tiba.
Alis Litra mengerut. “Lo kenapa, sih?” Bibirnya tersungging sebelah. “Tapi… coba aja kalo bisa,” ledeknya.
Arunika makin merasa tertantang. “Jelas! Gue bakal buktiin nilai murni gue tanpa doping remedial bisa ngalahin elo, Tra,” sindir Arunika sambil memberikan penuh tekanan pada setiap katanya.
Wajah Litra berubah serius. “Maksudnya?”
Mereka saling bertatap lekat. Seperti ada kilatan yang saling menyambar keluar dari kedua mata keduanya. Hingga Bu Juju datang melerai dengan menyodorkan baki ukuran sedang berisi gelas ukur, erlenmeyer, batang pengaduk, dan beberapa alat laboratorium lainnya pada Arunika.
“Ini, Neng Nika.”
Arunika mengalihkan pandangannya dan melempar senyum lebar pada Bu Juju.
“Makasih, Bu,” ucapnya lembut seraya beranjak. Tak lupa sebelum itu, dia melirik Litra dengan sinis.
Sampai diambang pintu Laboratoirum Kimia, ponsel Arunika berdering. Wajah kusutnya beringsut pergi, tergantikan oleh senyum lebar dan debaran haru penuh suka cita di dada. Ternyata ibunya masih mengingatnya.
“Halo, Bu? Ya ampun Ibu ke mana aja, sih? Dari tadi susah banget dihubungi. Ibu kapan transfer? Oh, ya. Kalo bisa dilebihin ya, Bu. Nika juga mau penelitian buat tugas akhir,” cerocos Arunika bersungut-sungut.
“Teh, Teh. Ini Uwi, Teh. Bukan Ibu.”
“Loh?!”
Arunika menjauhkan ponsel dari telinga dan menatap layarnya. Ah…sialan! Dia meruntuk dalam hati.
“Ih! Kirain Ibu. Kamu ngapain telepon? Teteh sibuk! Mau praktikum!” sewot Arunika.
“Dih! Kocak. BTW, Teteh pulang jam berapa? Dedek cantik udah di depan kosan nih. Kepanasan sama kelaparan. Terus kalo teteh pulang jangan lupa bawa jajanan, ya. Usus sama jamur krispi di pengkolan kampus kayaknya enak tuh. Sekalian es blender, Teh. Rasa coklat biskuit . Esnya–”
“Heh! Heh enak aja! Kamu ngapain di depan kosan, Teteh?” potong Arunika dengan mata melotot.
“Ya mau tinggal bareng Teteh lah. Apa lagi?”
“Maksudnya?”
“Biasa aja, dong. Jangan sok kaget gitu. Emangnya semalem ibu nggak telepon, Teteh?”