Always Be My Home

Meloghy
Chapter #3

Choice

Jam digital di meja Bank Darah menunjukkan pukul sepuluh malam. Arunika masih menyibukkan diri dengan kronologi kejadian kasus Ny. K. Menuliskan dengan detail adegan kemarin siang. 

Berawal dari Arunika datang ke kamar rawat pasien. Mengetuk pintu dan menyapa dengan sopan dan ramah ala-ala satpam bank te. Menjelaskan soal tujuan pengambilan darah sampai adegan paling krusial itu terjadi. Jarum baru saja dijejalkan Arunika, tetapi nenek itu malah menarik tangannya. Menjerit-jerit lebay–penuh drama sampai mengatai Arunika nggak becus kerja karena jarum pertama lepas dan harus ditusuk dua kali.

“Ar! Bodyguard lu dateng tuh!” seru Nadya dari ruang Administrasi Laboratorium. 

“Iya, Nad. Suruh tunggu depan, aja. Bentar lagi gue selesai,” teriak Arunika.

Setelah dirasanya cukup, gadis itu menyimpan kertas kronologinya di atas meja Sang Koordinator. Pamit pada personil dinas malam, lalu berhambur ke hadapan Taka dan Arkan yang sudah menunggunya di kursi tunggu.

"Kenapa lo berdua?" tanya Arunika seraya menutup pintu Laboratorium. Alisnya bertaut hebat-penuh tanya.

Taka dan Arkan hanya menjawab dengan helaan napas saja. Mereka saling bertatap sesaat lalu kembali dengan posisi masing-masing. Taka tertunduk pilu menatap lantai dengan kedua siku bertumpu di lutut, sementara Arkan duduk bersandar sambil menatap langit-langit.

“Jangan bilang, kalian dapat komplain dari pasien?”

Taka dan Arkan mengangguk kompak.

“Komplainan disertai tuduhan,” sahut Taka seraya melipat tangan di dada.

“Bukan hanya tuduhan, tapi juga kekerasan,” tambah Arkan membuat Taka meliriknya penasaran. Begitupun Arunika.

“Kekerasan?” Arunika lantas mendaratkan pantatnya di kursi sebelah Taka. “Maksudnya?” Arunika dan Taka saling tatap sesaat lalu pandangan keduanya berpindah pada Arkan yang masih anteng memandang langit-langit.

“Gue didorong sampai hampir ditonjok sama keluarga pasien Sweet Room.”

“HEH! Serius lu?!”

“Kok bisa, Kan?” tanya Taka penasaran.

Arkan menghela napas panjang. Seolah butuh waktu untuk me-recall kejadian menyebalkan yang menimpanya itu.

“Dari awal masuk, keluarga pasiennya emang udah resek. Nggak kooperatif. Terus infusan anaknya malah copot. Ketarik pas ke kamar mandi. Mana pas dipasang infus lagi susah. Venanya emang kecil terus anaknya berontak habis.”

“Anak Darrent pasien dokter Ryan bukan sih?” tebak Taka.

Arkan mengangguk singkat. “Iya. Pasien itu, Ka. Temen gue udah dua kali nusuk nggak dapet. Bapaknya marah sambil ngedorong temen gue yang cewek. Ya gue nggak terima dong, dia main kasar. Eh, malah gue yang dorong sampe nabrak troli tempat alat-alat tindakan. Mana gue nyaris ditonjok kalo keluarga pasien sebelah nggak keburu masuk dan misahin kita.”

Memang sakit nih orang-orang. Siapa mereka? Setajir dan seberkuasa apa sampai mereka lupa kalo kita juga sama-sama manusia, Jir, pikir Arunika sambil geleng-geleng kepala.

Arkan menegakkan tubuhnya. Dia tertawa kecil. 

“Dan kalian tahu, nggak lama habis kejadian itu bapaknya minta anaknya buat pulang. Dengan alasan tidak puas dengan pelayanan perawat di bangsal anak yang tidak profesional. Dia juga sempat mengancam katanya mau laporin gue sama temen gue.”

“Wah… gila sih itu,” komen Arunika. Dia paham, terkadang memang tak mudah menjadi perawat ruangan. Apalagi di bangsal anak. Taka pun pernah bilang kalau dia lebih memilih ditempatkan di IGD ketimbang di sana. Menurut Taka, pasien anak itu “Resek”, untuk seorang sepertinya sangat susah berbasa-basi dan melakukan bujuk-rayu. Dia lebih senang menangani pasien darurat, yang lebih memicu adrenalin. Lebih mengutamakan seni tindakan dari pada seni komunikasi. Ya, walaupun komunikasi itu sangat penting dalam setiap tindakan.

Lihat selengkapnya