Always Be My Home

Meloghy
Chapter #4

My Home

April, 2016. Saat semuanya terasa semakin memuakkan bagi Arunika.

 

Arunika mengucek kedua matanya–entah yang keberapa kalinya. Berharap rasa kantuk dan perih di matanya lenyap. Tahu semua yang dilakukannya sia-sia, dia pun mengambil balsem di nakas dan mengoleskannya di bawah mata. Seketika panas menyeruak masuk ke dalam matanya. Sambil menahan air mata, kantuk dan panas, dia kembali mengetik di depan laptopnya. Menyelesaikan bab pembahasan dari tugas akhir kuliahnya. Sebuah Karya Tulis Ilmiah yang disyaratkan untuk kelulusan DIII Profesinya.

Tinggal satu langkah lagi, mimpinya akan terwujud. Satu langkah lagi, akhirnya dia bisa keluar dari rumah yang jauh dari kata tenang ini.

“YA JANGAN SALAHIN AKU DONG, MAS!”

Arunika tertegun. Tangannya berhenti mengetik.

“YA TERUS MAU GIMANA LAGI!?”

“SALAHIN MEREKALAH! UDAH TAHU PENGHASILAN KAMU PAS-PASAN BUAT KELUARGA KITA. MALAH SOK-SOKAN MENAMPUNG BEBAN KAYAK MEREKA. KEWAJIBAN KAMU ITU MENAFKAHI ANAK-ISTRI. BUKAN ANAK KAKAK KAMU JUGA!”

“COBA KALO POSISINYA DIBALIK. COBA KALO POSISINYA KEPONAKAN KAMU. PASTI KAMU NGGAK BAKAL PERMASALAHKAN INI. KAMU MEMANGNYA TEGA BIARIN MEREKA LUNTANG-LANTUNG DI JALAN? NGGAK KAN?”

“TAPI SAMPAI KAPAN, MAS? AKU MUAK SAMA MEREKA.”

“TERSERAH! POKOKNYA AKU NGGAK BAKAL BIARIN MEREKA KELUAR DARI RUMAH INI DAN AKU BAKAL TETEP BIAYAIN SEKOLAH MEREKA, SAMA SEPERTI YANG DULU TEH MIRA DAN A DANANG LAKUIN SAMA AKU.”

Arunika mendesah panjang. Inilah, yang paling dia benci di rumah ini. Paman dan bibinya selalu beradu mulut tanpa ragu. Belum lagi, sepupu-sepupu Arunika yang selalu menyalahkan dirinya sebagai perusak keluarganya. 

Arunika mengambil headset. Dia lantas memutar lagu salah satu band rock asal Jepang dengan volume full

Mata Arunika makin memanas dan dadanya kian terasa sempit. “Tunggu sampai gue kerja. Gue… bakal buktiin kalo gue, bukan sekedar beban orang dewasa,” gumamnya sambil menggigit bibir bawahnya.

***

 

Arunika membuka kerudung dan membanting ranselnya sembarang setelah membuka pintu kontrakannya. Dia berjalan kasar menuju ruang tengah. Meneguk segelas air yang ada di nakas lalu membanting tubuhnya ke kasur.

“Lo kenapa sih, Dit? Pake bilang ke Arkan kalau di tempat lo ada lowongan!” Arunika mengerang sambil terus menghentak-hentakan kakinya ke pinggir kasur. 

“Terus gue harus gimana?”

Arunika berdecak sebal ketika terdengar nada dering panggilan masuk. Siapa coba yang malam-malam begini telepon?

Arunika merogoh ponselnya di saku jaket. Saat melihat nama kontak orang itu dia lantas bangun. Pucuk dicinta, ulam pun tiba!

Lihat selengkapnya