Always Be My Home

Meloghy
Chapter #5

Rumah Sakit Impian

Juni, 2016.

 

“Ar, menurut lo… apa arti ‘Home' itu?”

“Em? Home?” 

Arunika melirik sekilas ke arah cowok berjaket coach hijau army, yang sedang rebahan di lantai semen rooftop kampus. Tepat di samping Arunika. Padahal cowok itu masih memakai seragam putih-putih khas perawat dan katanya selepas Magrib, dia harus pergi ke rumah sakit tempatnya PKL untuk mengurusi berkas-berkas tugas akhir. 

Arunika hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia saja duduk pakai sepatu yang dijadikan bantalan. Kemudian pandangannya terarah pada lukisan senja di atas sana yang kini memancarkan warna jingga. Ah… bukankah itu langit sore yang indah? Apalagi ditemani partner terindah. Ah– ralat. Teman terindah yang membuatnya merasa baik-baik saja.

Arunika tersenyum tipis. “Dalam banget pertanyaannya,” protesnya seraya memejamkan mata. Mengenang satu-satunya peninggalan ayahnya yang kini sudah jatuh ke tangan orang. “Rumah adalah tempat ternyaman, tempat berlindung dan tempat di mana lo bisa jadi diri sendiri dan tak harus berpura-pura akan apa yang lo rasa, tapi… wanita itu sudah menghancurkan segalanya.” 

Arunika tersenyum getir. “Itulah mengapa gue bersikeras untuk punya rumah sendiri, Ka. Gue pengen punya tempat pulang sendiri. Kalo elo?”

Taka tertawa kecil. Dia bangun, lalu ikut duduk selonjoran di samping Arunika. Sorot mata cowok itu meredup. Dia menatap sendu sepatu slip on putih yang dikenakannya.

“Awalnya gue pikir home itu sebuah bangunan. Tempat yang melengkapi hangatnya sebuah keluarga, tapi semenjak orang tua gue memutuskan untuk berpisah, gue merasa, home gue kosong. Dan ketika gue mencoba menjadikan seseorang sebagai home yang gue tuju, dia malah pergi.”

Taka menatap lurus sorot mata jernih berwarna hitam di sampingnya. Lalu tersenyum tipis. 

“Walau begitu, baik-Nya Allah memberikan definisi ‘Home’ yang lain buat gue. Home yang benar-benar nyaman dan buat gue merasakan ketenangan dan kebahagiaan tiada henti. Apa lo mau tahu, Ar?”

Arunika tersenyum lebar sambil mengangguk dengan antusias. “Apa, Ka?”

Home itu adalah…” Taka terdiam sejenak. “Allah,” jawabnya mantap.

Mereka saling bertatap dalam cukup lama. 

“Allah? Why?” tanya Arunika dengan alis bertaut.

“Karena ketika gue menjadikan orang tua dan seseorang gue jadikan sebagai home, Allah kasih gue penderitaan akan harap itu. Yang buat gue sadar, sebagai seorang muslim, bukankah Allah tempat segala kembalinya urusan? Termasuk kita.”

Setelahnya Arunika benar-benar enggan melepaskan pandangannya dari Taka.

“Satu hal lagi, karena manusia senantiasa berubah. Sementara Allah, nggak, Ar.”

***

 

Arunika, Taka, dan Arkan saling bertukar pandang dengan senyum manis menghiasi bibir masing-masing. Ada rasa tak biasa yang membuncah. Terasa seperti aroma kebebasan dari belenggu yang selama ini menjerat leher mereka.

“Ah... Kenapa nggak kita lakukan ini sejak dulu?” tanya Arkan seraya menatap gedung mewah lima belas lantai di hadapannya.

Taka melingkarkan tangannya di bahu Arkan. Menepuk-nepuk pelan bahu lelaki itu sambil mengangguk setuju. 

“Ada saatnya seseorang mencapai batas kesabaran, tapi–” Sorot mata coklat Taka yang jernih, beralih pada gadis berbalut hoodie berwarna taro yang berdiri persis di sampingnya. “Lo nggak papa memilih resign dari sini, Ar?” tanyanya pada Arunika.

Gadis itu menghela napas panjang dan berat. “Walau gue cinta mati sama uang, tapi uang nggak akan pernah bisa ngebeli harga diri gue, Ka,” jawabnya seraya memeluk dirinya sendiri. Lalu tersenyum manis. “Lagian kayak nggak ada tempat lain aja. Banyak kali rumah sakit lain yang bisa gaji gue lebih dari ini dan lebih manusiawi!”

Arunika menyunggingkan senyum, membalas senyum lebar Taka. 

“Syukur deh, kalo gitu,” komen Taka terdengar penuh kelegaan.

Arkan berdecak. “Apa nggak ada yang lebih menarik perhatian elo selain duit, Ar?” Arkan melirik datar pada Arunika.

“Nggak ada!” sahut Arunika mantap. “Hidup itu realita, Kankan! Gue nggak munafik kalau gue butuh duit.” Arunika melipat tangan di dada. 

“Ya, ya. Terserah elo aja lah. Gue cuma kasihan sama elo, mikirin duit terus. Sekali-kali elo pikirin diri sendiri. Jiwa sama raga elo juga ada hak untuk bahagia.”

Arunika terbelalak. Bibirnya tersungging sebelah. Ditatapnya bergantian Taka dan Arkan. “Gue baru paham kenapa Aura baper berat sama lo, Kankan!”

“Kenapa?” Arkan tersenyum tipis. “Lo baper juga?”

Wajah Arunika berubah datar. “Nggak! Jangan ngarep! Yang bikin gue baper cuma–”

“Duit!” potong Taka dan Arkan kompak, lalu tertawa. 

Tawa mereka langsung menular ke Arunika. 

Sekali lagi, Arunika mengarahkan pandangannya ke arah lobi utama Amerta Hospitals Group. Ditatapnya untuk terakhir kali, tulisan Amerta Hospitals yang terukir di dinding belakang meja pendaftaran yang megah. Lampu-lampu gantung berwarna kuning menambah aesthetic wallpaper ungu muda dan cermin-cermin hexagonal yang menempel di lobi. Ditambah dengan akuarium besar samping meja pendaftaran–yang berisi ikan koi emas- makin menambah kelas rumah sakit. 

Apalagi, kursi tunggu pasien yang terbuat dari sofa empuk dengan warna senada dengan ruangan. Menambah kesan kalau ini lebih terlihat seperti penginapan bintang lima, ketimbang hanya penginapan khusus orang sakit. 

“Tapi Ar. Saran gue, lebih baik lo menikah sama sugar daddy atau engkong-engkong kaya raya aja.” Arkan menahan senyum. 

“Enak aja! Lo kata gue cewek apaan?!” Arunika melotot sambil berkacak pinggang. Dia nggak se-matre itu. 

“Kan biar hidup lo enak sama dapat warisan banyak. Bahagia sentosalah, Ar.”

Melihat Arunika mengerang kesal dengan tinju terangkat ke udara, Arkan lantas berlari menuju gang kontrakan mereka.

“Bahagia pale, lo!” pekik Arunika seraya berlari mengejar Arkan.

"Seandainya di dunia ini tersisa aki-aki tajir sama Taka, mending gue pilih Taka! Jelas-jelas juntrungannya. Dia kan keluarganya tajir juga. Iya nggak, Ka?” Arunika berbalik. Senyumnya mengembang sempurna walau dengan deru napas berantakan.

"Kode keras! Kalau gitu, gue siap jadi saksi. Gimana, Ka? Apa lo mau nikah sama Arunika dan ninggalin pacar elo?" timpal Arkan ngos-ngosan dari balik tiang listrik gang.

"Sembarangan!” sembur Arunika. “Jadi pelakor bukan jalan ninja gue, ya!" protesnya sambil melayangkan cubitan maut di bahu Arkan setelah dia berhasil menyusulnya.

Arkan meringis kesakitan dan meminta Arunika melepaskan cubitannya, tetapi sepertinya Arunika belum puas. 

“Sakit, sakit. Ampun!”

“Ya udah, ayo, Ar. Gue mau,” sahut Taka seraya menyusul teman-temannya. “Kapan kita nikah? Lo mau mahar berapa? Uang tunai? Emas? Atau rumah impian elo?” goda Taka.

Arunika mengepalkan tinju dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Dia berdesis kesal. “Inget pacar elo!”

Lihat selengkapnya