Always Be My Home

Meloghy
Chapter #6

Tujuan Dan Makna

Beberapa bulan setelah ibunya pergi, Arunika merasa hidupnya makin memuakkan. Ujian demi ujian datang silih berganti, seolah Tuhan tak mau melihatnya dipeluk kebahagiaan walau hanya sedikit.

“Ka, kadang gue ngerasa Tuhan itu nggak adil.” Arunika menyandarkan dagunya pada kedua tangan yang dilipat di pembatas balkon depan Auditorium lantai dua- samping kantor Prodi. Pandangannya beredar, menyapu lalu lalang teman-temannya yang ada di bawah sana yang terlihat cerah menjalani hidup.

“Mereka bisa bebas menikmati masa kuliah tanpa beban. Sedangkan gue?”

Taka tersenyum kecil dan ikut bersandar pada dinding pembatas setinggi dada itu. “Setiap orang punya masalahnya masing-masing, Ar. Kitanya aja yang nggak tahu. Siapa tahu, mereka juga hanya memakai topeng agar terlihat baik-baik aja. Ah, tunggu bentar.”

Taka membuka ranselnya dan mengambil sesuatu. 

Arunika melirik penasaran.

“Coba pakai ini,” kata Taka seraya menyerahkan kacamata gaya berwarna hitam. 

Arunika bengong. Otaknya berpikir keras. Apa hubungan antara curhatannya tentang ketidakadilan dalam hidup dengan kacamata hitam itu? 

Arunika menatap bergantian antara Taka dan kacamata, sebelum akhirnya dia menggapai kacamata itu.

“Pakai aja,” perintah Taka tersenyum kecil. 

Arunika nurut saja walau otaknya menerka-nerka ke mana jalannya pikiran Taka yang terkadang aneh dan susah ditebak itu.

“Gimana? Apa yang lo lihat sekarang?”

“Ya, ya agak gelaplah. Orang kacamata item. Terus korelasinya?” tanya Arunika tak sabar. Bibirnya cemberut kayak pantat ayam. 

Taka terkekeh. “Simpel. Semuanya tentang cara pandang kita akan sesuatu.” Cowok itu membuang pandang ke arah gerombolan mahasiswa di joglo dekat taman.

“Baik-buruk, gelap-terangnya sesuatu tergantung dari sudut mana lo melihatnya.”

Arunika memakai kacamata Taka lagi–masih dengan bibir cemberut. Dia mulai memainkan kacamata itu dengan cara menaik-turunkannya di depan mata, sehingga terlihat gelap-terangnya semua objek di hadapannya. 

“Kalo nggak. Lo madep ke sini,” perintah Taka tersenyum. Dia berdiri tegak dan merogoh ponsel dari saku jaket. Dia mengangkat ponsel itu dengan tangan kanannya ke udara. 

Arunika manut. Dia berdiri menghadap Taka dan maju satu langkah lebih dekat. 

“Menurut lo, hape gue ada di sebelah kiri atau kanan?”

Alis Arunika bertaut hebat. Mencoba sabar dengan semua yang Taka lakukan. 

“Kiri. Kalau dari gue. Kanan kalau dari elo,” jawab Arunika malas. 

“Pinter!” Taka tersenyum lebar. Anehnya, hal itu malah membuat Arunika enggan melepaskan pandangannya dari cowok itu. 

“Ketika lo memandang semua masalah yang terjadi sebagai ketidakadilan, coba ubah cara pandangnya. Bukan ketidakadilan, tapi anggap aja itu sebagai jembatan menuju kesuksesan. Kalau lo nggak diuji seperti itu, belum tentu lo mikirin soal masa depan. Belum tentu lo sebegitu kerja kerasnya ngejar nilai. Right?”

Arunika mengangguk kecil. “Right.” Mulai paham. 

“Terus, apa yang harus gue perbuat sekarang?”

Taka balas menatap lurus gadis di hadapannya. 

“Setelah mengubah cara pandang, mari tentukan sebuah tujuan yang benar dan perantara untuk mencapai tujuan itu. Bukan hanya sekedar untuk balas dendam atau pembuktian.”

“Bukan sekedar balas dendam atau pembuktian?” gumam Arunika pelan. Dia benar-benar tersihir. Padahal gadis itu belum menceritakan semua masalahnya, tentang tujuannya, dan cara meraih itu semua yang telah dia susun. Namun, Taka? Dia seolah tahu apa yang akan dilakukannya. Lantas, tujuan yang benar seperti apa yang Taka maksud? Apakah salah jika dia ingin balas dendam pada orang-orang yang telah menyakitinya dengan cara membuktikan bahwa dirinya mampu hidup bahagia dengan cara memiliki rumah sendiri.

“Terus, tujuan seperti apa yang harus gue tentukan?” tanya Arunika. 

“Woy! Ayo balik. Demen banget berduaan di situ,” teriak Dita dari ujung lorong. Dia berhasil memotong pembicaraan serius di antara dua insan itu. 

“Dih! Lo yang lama! Katanya cuma mau ngasih revisian KTI ke kantor Prodi. Ini udah mau sejam, ya,” sentak Arunika seketika. Tangan mungilnya mengepal ke udara.

Dita malah tertawa. “Sengaja. Ngasih kalian waktu buat berduaan aja. Pengertian kan gue?”

“Dih! Nyebelin banget sih,” kata Arunika ketika melihat Dita kabur. Dia lantas mengejar si tukang jahil itu. 

“Tapi lo senang kan?” ledek Dita cengengesan sambil terus berlari, menuruni tangga. 

“Sotoy, lo!” 

Lihat selengkapnya