Gue harap, gue nggak salah pilih tempat.
Arunika mematung diambang pintu. Laboratorium yang dikiranya besar, ternyata hanya seukuran Bank Darah di Rumah Sakit lamanya. Bahkan, mungkin lebih sempit.
Di dekat pintu, terdapat kaca besar dengan lubang persegi panjang–sebagai loket Administrasi Lab dan penerimaan sampel pasien dari ruangan perawatan maupun IGD. Tak jauh darinya, ada dua meja panjang dengan dua komputer dan dua printer berjejer rapi di atasnya.
Masih menyatu dengan meja kayu itu, ada meja keramik berbentuk leter L–meja khusus–tempat alat-alat otomatis Laboratorium. Alat Hematologi Analyzer, alat pemeriksaan kimia klinik darah, elektrolit sampai alat pemeriksaan LED atau Laju Endap Darah yang masih memakai metode manual.
Mata Arunika bergeser sedikit pada rak berisi kit pemeriksaan imuno serologi metode rapid test. Lalu ke wastafel sebelahnya yang dipenuhi warna ungu. Arunika yakin, selain untuk cuci tangan, orang-orang melakukan pengecatan untuk pemeriksaan manual koreksi sel darah di sana juga. Itu terlihat dari bekas-bekas cat warna tadi.
Arunika melirik ke meja lainnya. Di atasnya bertengger manis sebuah mikroskop, deretan tabung reaksi dan alat hitung diff count–alat hitung macam-macam leukosit. Sementara di dekat pintu– tempat Arunika berdiri, terdapat meja ukuran sedang yang atasnya bertengger sebuah alat untuk memisahkan komponen darah. Namanya Sentrifuge.
Belum lagi, ruang sebelah alias ruang sampling–tempat mengambil darah pasien rawat jalan–cukup sempit. Saat Arunika melakukan MCU sebelum masuk kerja, di dalam ruangan itu dia hanya melihat satu bed ukuran kecil–yang sepertinya diperuntukan khusus pasien anak, satu kursi untuk pasien dewasa, satu kursi untuk pengantar pasien dan satu meja tempat alat tempur laboratorium. Alias tempat jarum suntik, kapas kering, kapas alkohol, berbagai macam tabung penampung darah dan masih banyak lagi.
Arunika menghela napas panjang. Ini… benar-benar di luar ekspektasinya.
Gue jadi penasaran kok bisa-bisanya Dita bertahan di tempat kayak gini.
“Masuk aja. Anggap aja laboratorium sendiri,” ucap seseorang berambut gondrong.
Arunika menarik napas kasar. Matanya refleks terbelalak.
“LOH! Kok?” Dia lantas membekap mulutnya tak percaya.
Senyum cowok itu mengembang sempurna. Jari telunjuknya terangkat menunjuk cincin yang sama persis yang dipakai Syifa–yang tersemat di jari tangan kanannya. Seolah sedang menegaskan sesuatu. “Selingkuhannya Syifa,” sindirnya di luar perkiraan.
Ternyata dia orangnya pendendam.
Arunika meneguk ludahnya. “Maaf sudah menuduh yang nggak-nggak, Kak,” pintanya tulus. Dia lantas melempar senyum canggung sebelum Rey–yang ternyata seniornya di Lab–mengamuk.
Rey malah tertawa. “It’s ok. Bukan salah elo kok, tapi…”
Rey melangkah mendekat.
Arunika jadi was-was. “Jangan panggil Kakak. Kita seumuran,” protesnya seraya mengulurkan jas Lab baru pada Arunika. “Panggil gua, Rey, aja,” lanjutnya.
Arunika mengangguk paham dan menyambut jas lab itu. Saat melihat ukuran jas lab di kerahnya, mata Arunika sedikit membelalak.
Buset! Dikasih ukuran XL. Apa dia masih marah?
Mulut Arunika sudah terbuka, gatal ingin protes, tetapi sedetik kemudian dia tersadar, kalau dia hanya anak baru. Jangan sampai Rey makin mengerjainya.
Arunika mengenakan jasnya. Pasti sekarang dia terlihat seperti orang-orangan sawah. Itu terbukti karena Rey cekikikan di depan komputer.
Sialan! Rutuknya dalam hati sambil mengangkat tinjunya sesaat ke udara.
“Sabar… sabar…,” gumamnya seraya kembali melirik sekitar.
Arunika masih tak percaya. Jauh sekali jika dibandingkan dengan Amerta Hospitals, yang kalau membuat preparat atau apusan darahnya saja pakai alat Hematologi Analyzer. Petugas Lab nggak perlu repot-repot lagi. Lah, ini? Masih pake Hematologi Analyzer-nya sama dengan yang Arunika gunakan saat di kampus alias versi jadul.