Arunika memeluk erat goodie bag yang berisi ayam goreng serundeng dan sambal goreng cumi buatannya. Rencananya malam ini dia dan tiga sahabatnya akan makan bersama di balkon kontrakannya Dita. Merayakan kembali bersatunya mereka setelah Dita memutuskan resign duluan dari Amerta.
“Lo mau sampai kapan kayak gini terus? Mending jujur nggak, sih? Sebelum dia tahu dari orang lain.”
Suara Dita menghentikan langkah Arunika di anak tangga ketiga.
“Entahlah. Gue masih bingung, ngungkapinnya gimana, Dit.”
Dita terdengar berdecak. “Yaelah, tinggal bilang aja sih. Apa yang lo tunggu lagi? Gue yakin, dia nggak bakal nolak, Ka.”
Tubuh Arunika menegang. Dia memegang erat goodie bag dan meneguk air ludahnya–menanti dengan was-was kelanjutan pembicaraan dua orang itu. Debaran di dadanya jangan ditanya. Bak angin ribut menerjang pasar malam.
Arunika penasaran, siapa yang ‘dia’ Dita maksud tadi. Apakah mungkin dirinya? Pipi Arunika terasa memanas.
“Entahlah. Ini jelas nggak mudah. Gue nggak mau sekedar pacaran, tapi gue juga belum yakin melangkah ke hubungan lebih–”
“Lo ngapain di sini, Ar?” potong Arkan dari belakang Arunika.
Hati Arunika mencelos. Kenapa di saat genting begini ini orang malah dateng?
Arunika melirik tajam dengan jari telunjuk terangkat di depan bibirnya- mengisyaratkan Arkan untuk diam. Apalagi balkon mendadak hening.
“Apaan sih? Udah ayo naik,” ucap Arkan tak acuh sembari melenggang naik.
Arunika mengerang pelan sambil meremas udara. Argh! Arkan sialan!
Saat Arkan melangkah melewatinya, Arunika terus mengutuk cowok itu. Juga saat mereka sudah berkumpul di balkon. Dia terus melirik tajam ke arah Arkan.
“Lo kenapa sih, Ar?” tanya Arkan urung melahap ayam di tangannya. “Nggak ikhlas banget kayaknya gue makan.”
“Gue bete sama elo,” sahutnya sambil mencocol timun ke sambel.
“Yaelah. Nggak jelas lo.”
Arkan melanjutkan makannya dengan penuh hikmat. Begitupun dengan dua orang itu. Taka dan Dita bersikap seolah tak terjadi obrolan tadi. Dita malah sibuk memuji-muji masakan Arunika dan menyuruhnya untuk buka warteg saja.
Sialnya lagi, bahkan sampai beberapa hari berlalu, Arunika belum juga mendapatkan kepastian dari Taka. Belum ada langkah konkret yang mengembangkan hubungan mereka.
Arunika jadi bingung. Taka lebih mirip pasien OTG atau orang tanpa gejala punya perasaan padanya. Semua berjalan sebagaimana mestinya, tanpa ada bumbu romance walau setipis tisu dibagi sepuluh sekalipun. Sampai Arunika berpikir, haruskah dia yang memulai? Masa dia nembak cowok duluan lagi?
Arunika menghela napas kasar sambil menutup alat centrifuge lalu menekan tombol ‘Start’.
Atau…
Pandangan Arunika langsung tertuju pada Dita yang sedang membereskan box berisi peralatan swab.
Dita pasti tahu sesuatu.
Dengan satu anggukan pasti, Arunika mengapit tangan Dita. “Dit, lo pasti tahu sesuatu soal rahasia Taka,” todongnya.
Dita melirik dengan alis bertaut. Tangannya menggantung di udara–urung memasukkan VTM[3] ke dalam box. “Maksudnya? Rahasia apa?”
Arunika melirik sekitar, seolah ucapannya dicuri tengar oleh Rey dan Pak Iyus yang hilir mudik mengerjakan sampel pasien ke alat.
“Gue tahu kalo Taka sama Syifa itu sepupuan,” cetus Arunika setengah berbisik.
Dita menarik napas kasar dengan mata melotot–sok kaget. “Serius, lo?”
Arunika melirik datar. “Lo udah tahu itu, kan?”
“Lo tahu dari mana? Taka yang bilang?” Dita malah balik tanya dengan wajah yang tak bisa Arunika artikan. Antara kaget, tak percaya, tetapi nadanya terlihat seperti menegaskan sesuatu.
Arunika berdesis, tak suka main rahasia-rahasiaan. “Gue denger pembicaraan elo sama Taka minggu lalu di balkon.”
Kali ini, Dita terlihat panik. “Emangnya kita ngomongin apa?” Dia tertawa garing sambil memasukkan satu box sarung tangan medis, timer, dan spidol permanen ke dalam box.
“Dia yang lo maksud malam itu siapa, Dit? Taka naksir siapa? Terus, jangan-jangan lo udah tahu ini dari sebelumnya, ya? Kalo, Taka sama Syifa cuma pura-pura pacaran?” desak Arunika membuat Dita refleks melirik Rey yang sedang melayani pasien yang hendak swab antigen.
“Itu–”
“Dan sebenarnya Syifa udah tunangan sama Rey, kan?”