Hari-hari berlalu, transmisi wabah virus semakin tak terkendali. Setelah memberlakukan PSBB transisi, kini pemerintah memberlakukan PPKM atau Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat selama beberapa minggu ke depan. Terutama wilayah Jawa-Bali yang memberikan sumbangsih angka positif cukup tinggi.
Demi menjaga transmisi penyebaran wabah di rumah sakit, Kanigara Hospital pun mulai memberlakukan MCU rutin berupa pemeriksaan Swab PCR dan Assesment kesehatan setiap bulan pada seluruh karyawannya. Hal ini dilakukan, salah satunya untuk memutus transmisi penularan dari petugas ke pasien ataupun sebaliknya.
Hasilnya cukup mencengangkan. Banyak di antaranya dengan OTG atau Orang Tanpa Gejala. Isolasi mandiri secara masal, mau tak mau dilakukan. Alhasil, banyak kekurangan petugas dan sangat berbanding terbalik dengan jumlah pasien sakit makin meroket.
Begitu juga yang terjadi di Laboratorium. Setengahnya dinyatakan terkonfirmasi COVID-19 pagi ini. Dua di antaranya, Mbak Juni dan Rey–sampai harus di rawat di ruang isolasi. Sementara Pak Iyus dan Bu Neni isolasi mandiri di rumah selama sepuluh hari ke depan.
Kekosongan personil ini membuat mereka menghadapi situasi jadwal dinas ekstrem. Arunika, Dita, Evita, dan Mbak Octa bisa lembur berturut-turut selama beberapa hari ataupun lembur selang sehari. Masih mending kalau bisa pulang dinas tepat waktu. Terkadang ngaret sampai berjam-jam dengan uang lembur tak seberapa.
Rasa lelah makin menggerogoti jiwa dan raga. Stres dan frustrasi. Setiap hari dijejali berita tentang peningkatan kasus terkonfirmasi Covid. Tak hanya itu. Peningkatan kasus kematian makin membuat jengah. Apalagi persis di depan Lab adalah lorong yang menyambungkan seluruh ruang rawat dan IGD dengan kamar mayat.
Setiap kali roda peti berdecit nyaring di depan Lab, Arunika menutup kedua telinga dan merapalkan kalimat "Innalillahi. Semua akan baik-baik saja, Nika." sambil memejamkan mata.
Ternyata, ini jauh lebih kejam dari mimpi buruk Amerta Hospital. Arunika jadi menyesal. Apalagi hanya untuk istirahat pun sepertinya tak ada waktu. Untuk makan saja rasanya tak sempat. Kebanyakan petugas menunggu waktu operan dinas, baru makan. Apalagi untuk petugas di ruang isolasi yang memakai APD level tiga. Seperti Arkan yang ditugaskan di ruang Isolasi Covid dan Taka yang bertugas di IGD.
Karena hal itu juga lah Arunika dan Taka jadi jarang bertemu dan hubungan mereka benar-benar tidak berkembang. Efek lainnya dari kelelahan berdinas seperti yang Arunika rasakan sekarang.
Arunika terperanjat bangun. Matanya kontan mengawasi sekitar. Lampu indekosnya masih padam. Sementara sinar dari luar sana telah menembus gorden yang masih tertutup rapat.
Gawat!
“Jam berapa ini?” Tangannya gerabak-gerubuk mengobrak-abrik tumpukan bantal dan selimut. Setelah menemukan benda pipih kesayangannya yang hampir lowbat, Arunika menekan tombol power. Dia membuang napas kasar sambil menutup mulutnya.
Sesuai tebakannya. "Jam tujuh lebih lima belas! Mati gue!” pekik Arunika lompat dari tempat tidur menuju kamar mandi. Cuci muka, gosok gigi, mandi kadal, ganti baju, tanpa sarapan ataupun minum, dia langsung ngacir ke rumah sakit. Seandainya Wita tidak menginap di indekos temannya yang ada di Pasar Lama–untuk persiapan sidang, mungkin dia tak akan telat seperti ini.
“Nika bego! Mana hari ini ada orang dari corporate lagi,” rutuknya sepanjang jalan. Beruntung jalanan sepi dan hanya beberapa ambulans yang berkeliaran. Namun, sialnya, kenapa sirine nyaring dari ambulan terdengar seperti hidup dan mati di telinga Arunika.
Selang berapa saat, Arunika sampai di parkiran rumah sakit. Dia berharap, orang dari corporate yang akan menggantikan Bu Neni sementara itu datangnya sesuai budaya Kanigara Hospital.
Ngaret.
Arunika buru-buru membuka helm dan berlari sprint menuju pintu masuk samping khusus karyawan. Saat berpapasan dengan Taka di lorong pintu masuk pun, dia hanya melambaikan tangan dan menyapa singkat. Dia bahkan tak peduli dengan lelaki itu terus memanggil namanya.
Sampai di depan pintu lab, Arunika terdiam dengan satu tangan memegang gagang pintu. Debaran di dadanya bertalu-talu sementara hidungnya kembang-kempis untuk mengais lebih banyak oksigen dari balik masker.
"It's Ok. Yang lain pun udah biasa datang telat. Wajar sekali-kali gue telat," ucapnya pada diri sendiri untuk memberikan rasa tenang.
Arunika membuang napas kasar, lalu memasang senyum terbaiknya untuk menyapa dua orang di dalam–yang siluet tubuh mereka bisa Arunika lihat dari kaca buram loket Lab.
Belum sempat membuka pintu, pintu telah dibuka oleh seseorang dari dalam. Mata Arunika membulat sempurna. Ternyata ini lebih buruk dari dugaannya.
“Oh, pantas saja. Arunika Maharani. Jam berapa ini, Ar?” tanya orang itu. Lelaki berpakaian rapi khas corporate KL Grup Kemeja panjang biru muda dengan dasi panjang biru dongker dan celana hitam panjang bahan hitam, menatap Arunika dari ujung kaki sampai kepala.