Always Be My Home

Meloghy
Chapter #10

Bittersweet

"Dede Nika yang cantik, mantannya Babang Litra–"

"Dih! Males banget. Bisa nggak Mbak, nggak bawa-bawa masa lalu!" potong Arunika sewot.

Mbak Octa lantas mendaratkan tinjunya di bahu gadis itu. Namun, kalah gesit dengan Arunika. "Ya udah, sih. Aku ralat. Maunya siapa? Babang Taka yang ganteng atau Babang Arkan yang baik hati, tidak sombong dan rajin membantu, nih?"

Tawa Arunika seketika pecah. “Babang ganteng dong,” jawabnya mantap. Dia lantas duduk di kursi samping Mbak Octa, memperhatikan setiap tulisan yang ada di buku operan dinas.

"Operannya, satu, titip input hasil lab PCR punya karyawan sama pasien ya. Aku udah lapor ke grup Lab. Kedua, QC alat kimia nggak masuk-masuk dari semalam. Pemeriksaan yang pending ada sepuluh pasien. Dari ruang Bayi Sakit, tiga pasien cek bilirubin total. Sama sisanya dari ruang isolasi. Adanya sampel punya orang tua sama adeknya Babang Arkan juga, ya," jelas Mbak Octa. “Dia minta langsung dikabarin kalo udah ada.”

“Ok, Mbak.” Pundak Arunika perlahan turun seiring dengan helaan napas penuh putus asa. "Ya, Allah. Kenapa dia ikutan ngambek, sih? Nggak tahu kita udah lelah apa, ya? Nggak bisa diajak kompromi banget ini alat, dah,” gerutunya sambil menunjuk kedua matanya yang dihiasi lingkaran hitam.

Mbak Octa tertawa kecil. "Sama dong kita.” Dia menunjuk lingkaran matanya yang tak kalah hitam dengan Arunika. 

Mereka terbahak bersama. “Gila pokoknya. Kerja udah kayak apaan aja. Jadi pengen isoman. Biar istirahat di rumah,” keluh Mbak Octa.

“Dih! Jangan gitu dong, Mbak. Nanti yang jaga kandang siapa?”

“Kamu lah!” sahut Mbak Octa di sela tawanya.

Bibir Arunika manyun. “Tega bener.”

“Ya udah, aku mau balik ya. Nanti bagi tugas aja sama Litra. Kayaknya dia baik, nggak kayak Bu Neni yang seneng semedi di depan komputernya."

“Ok. Eh, Mbak. Kalo hasil D-Dimer[4] orang tuanya Arkan udah ada, Mbak?” tanya Arunika. Sebenarnya dia ingin mencoba tak peduli pada tipe orang tua yang senang mengabaikan anaknya. Giliran sakit, aja, datang ke anaknya. Giliran butuh, aja, baru diakui. Namun, melihat Arkan begitu khawatir, Arunika jadi tak tega. Temannya itu benar-benar dianugerahi hati malaikat.

“Belom. Baru berangkat tadi pagi. Follow up aja ke Lab Rujukan, ya.”

Arunika mengangguk paham. Setelah Mbak Octa berlalu, Arunika lantas mengambil sarung tangan medis untuk mengambil dan mengencerkan kalibrator alat serta satu cup serum QC dari freezer.

"Tumben datang telat," sindir Arunika ketika ujung netranya menangkap sosok jangkung yang baru masuk Lab. Gadis itu menekan tombol ‘Start’ pada timer untuk hitung mundur kalibrator dan QC-nya mencair.

Litra tersenyum kecil sembari menutup pintu. "Bokap, sakit. Semalam gue nginep di rumahnya. Operannya apa?" Dengan terburu, lelaki itu pergi ke meja koordinator dan tak lama dia kembali sudah mengenakan jas lab rapi.

"QC, inputan hasil PCR sama follow up hasil rujukan. QC sama sampel di pelayanan biar gue aja. Lo back-up admin, aja. Dari tadi bel orderan IGD di sistem bunyi mulu." 

Litra mengangguk paham. "Ok." Dia lantas duduk di meja admin- mengecek inputan pemeriksaan pasien. 

“Tunggu–” Litra tertegun sesaat. Dia melirik ke arah Arunika.

Arunika refleks melirik sekilas sebelum akhirnya mengubah alat Hematologi Analyzer ke mode standby.

“Kenapa?”

“Kok elo yang ngatur? Kan gue koordinatornya di sini?”

Arunika menghela napas kasar. Ternyata dia nggak berubah sedikitpun. 

“Lo cuma koordinator pengganti, ya. Udah kerjain aja. Heran, deh. Banyak protes,” pungkas Arunika sambil mendelik sebal. “Atau, ah… gue tahu.” Dia mendekati Litra dan menyerahkan sepasang sarung tangan bersih.

“Lo kerjain QC alat kimia, ya. Bukannya itu keahlian elo?” ucap Arunika setengah menyindir, karena dia tahu, dari zaman dulu, Litra itu paling nggak bisa ngelakuin QC alat. Entah bagaimana, tetapi QC yang dilakukannya nggak pernah masuk range.

Litra berdecak tahu kelemahannya. “Lo, aja,” cetusnya akhirnya.

“Anak baik.”

***

Arunika memekik kegirangan saat QC alatnya masuk dalam sekali coba. Tak salah juga dia mendapatkan julukan ‘Si Tangan Dingin’ dalam masalah ini. Setidaknya dengan ini dia bisa bernapas lega karena sampel pending pasien bisa segera dikerjakan dan hasil pemeriksaan kimia darah orang tua Arkan yang sedang dirawat di ruang Isolasi sejak kemarin, bisa segera keluar.

Lihat selengkapnya