Always Be My Home

Meloghy
Chapter #11

Always Be My Home

Hujan gerimis baru saja reda. Meninggalkan aroma khas dan udara sore lebih terasa sejuk. Walau sudah menanggalkan hazmat di Klinik dan mengganti masker N95 dengan masker biasa, dada Arunika masih sesak dan hatinya terasa sumpek. 

Bukan karena tadi mendapatkan pasien MCU PCR yang resek—karena ternyata keluarganya Rindu–si suster nyebelin yang menyuap Bu Vina. Melainkan karena ucapan Litra kemarin.

Lantas, apa yang harus gue lakuin sekarang?

Bibir Arunika manyun, beriringan dengan sebuah mobil hitam berpelat nomor B berhenti di depannya. Jemputannya datang. Dia refleks bangun dari kursi dan berjalan menuju mobil itu. 

Arunika mendesah gusar sembari membuka pelan pintu mobil. Tas ransel yang dia bawa diletakkannya di pangkuan. Tangannya bergerak otomatis menarik sabuk pengaman. Pundaknya luruh berbarengan dengan helaan napas yang semakin berat.

“Tra… gue mau jujur sama elo,” ucap Arunika pelan sambil menurunkan maskernya sampai ke dagu. Pandangannya terpaku ke jalanan aspal di depannya. 

 Litra di bangku kemudi tidak menjawab ataupun menyela. Dia hanya menunggu. Mobilnya pun sengaja tak dinyalakan untuk memberi ruang pada gadis itu.

Arunika menggigit bibir bawahnya pelan. “Lo, bener. Sebenernya gue menganggap Taka lebih dari sekadar sahabat.”

Hening.

Tangan Arunika meremas sabuk pengaman dengan kuat. “Entah sejak kapan, tapi Taka udah kayak tempat pulang buat gue. Apalagi semenjak dia minta gue tetap stay dan gue nggak sengaja mergokin Syifa bareng tunangannya. Juga soal obrolan kita kemarin.”

Arunika tersenyum getir. “Harusnya gue seneng karena Taka punya rasa yang sama. Bahkan dari lama, tapi…” Dia terdiam sesaat. Bayangan ibunya muncul tanpa diundang, juga senyum terakhir almarhum ayahnya, dan itu, membuat dadanya semakin sesak.

“Anehnya gue malah takut.” Arunika tertunduk. “Takut kalo semuanya hanya sementara. Orang bisa berubah dan pergi gitu aja. Entah gue ataupun Taka. Gue… takut pada akhirnya saling nyakitin,” akunya lebih jujur dari dugaannya.

Arunika perlahan menyandarkan jidatnya ke dasbor.

“Terus gue harus gimana, Tra? Disatu sisi gue nggak mau nyakitin atau disakitin, tapi gue juga nggak mau kehilangan dia.”

Hening. Hanya deru AC mobil dan lalu lalang kendaraan di luar sana yang terdengar.

Sampai akhirnya– 

“Kita coba jalanin, aja,” cetus cowok di sampingnya datar. “Bukan tanpa komitmen, melainkan sebaliknya. Lo… mau nikah nggak sama gue, Ar?”

Arunika menegang. Pupilnya perlahan melebar. Dia mencengkeram tali sabuk pengaman sambil mengangkat wajahnya. Jelas dia nggak sedang berhalusinasi. Dia yakin, dia nggak salah dengar dan yang tadi itu… bukan suara Litra. 

Arunika meneguk ludahnya. Debaran di dadanya semakin kencang terasa. Perlahan, dia menoleh ke samping. 

Matanya membelalak sempurna. 

“Ta…Taka?” Suaranya nyaris tercekat. 

Hatinya mencelos. Mampus gue!

Arunika mengulum bibirnya. Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Otaknya nge-lag persis komputer terserang virus. Haruskah dia jujur saja dan berani menyatakan duluan? Tanggung kepalang basah karena Taka sudah tahu seluruh isi hatinya. 

Tapi kalo beneran jadian terus nikah, kagok nggak, sih? Terus kalo hubungan kita nggak berjalan mulus gimana?

Kalo dipikir lagi, seorang ibu saja bisa tega meninggalkan anaknya, apalagi ini orang yang dulunya asing, temenan, terus mencoba hidup bersama?

Menikah juga bukan perkara mudah. Bukan sekadar tentang saling cinta atau sayang, tapi komitmen besar yang menuntut tanggung jawab yang besar juga. 

Harus gimana dong? 

Ditodong begitu, Arunika frustrasi juga. Bibirnya melengkung ke atas. Tak menyangka akan langsung diajak nikah. 

“Gue tahu ini terlalu mendadak.” Suara Taka lebih pelan dari biasanya. Tangannya masih di setir dan pandangannya menatap lurus ke depan.

Memang. Dadakan banget kayak tahu bulat. 

Arunika lantas membuang pandang ke jendela samping–tepatnya ke arah Klinik yang masih ramai dengan pasien. Dia mengutuk Litra dalam hati atas kejadian ini. Pasti ini ulahnya. Tiba-tiba saja yang jemput Taka, bukannya Litra. Padahal jelas, ini mobil punya Litra. 

Apa maksudnya coba?

Awas lo ya, Tra! 

Arunika berdeham. “Becanda lo nggak asik, ah. Udah ayo pulang. Keburu kesorean nanti,” ajaknya diakhiri tawa sumbang. Dia yakin Taka sedang menggodanya untuk mencairkan suasana dan menyelamatkannya dari rasa malu. 

Hanya itu yang bisa Arunika pikirkan sekarang. 

“Yuk, jalan. Laper, nih. Lo mau makan apa?” Dia mencoba mengalihkan pembicaraan lagi. “Gue yang traktir, deh. Baru cair, nih.”

“Ar,” panggil Taka dengan nada serius. Cukup lembut, tetapi cukup menggetarkan jiwa Arunika.

“Em?” Arunika tak berani menoleh. Matanya sibuk memperhatikan orang-orang yang keluar masuk minimarket di dekat klinik.

“Gue juga takut.” Taka tak langsung melanjutkan. Seolah mengumpulkan keberanian yang dia punya. “Kita sama-sama tahu, kalo manusia senantiasa berubah. Bisa datang dan pergi sesukanya.” 

Taka menghela napas panjang. Dia menoleh sambil tersenyum getir. “Gue yang tumbuh di keluarga yang berantakan, menyaksikan sendiri, dua orang yang dulu saling cinta dan mengikat janji suci, saja bisa berpisah. Dan gue nggak bisa menjamin, gue nggak akan berubah atau komitmen ini akan mulus sampai akhir.”

Arunika tertunduk, merasa tertampar sekaligus setuju. Jangankan dua orang saling mencintai, ibunya saja bisa pergi. Menyisakan lubang besar di hatinya sampai sekarang. 

“Tapi… gue ingin mencoba. Sebisa dan semampu gue, Ar.”

Hening. 

“Apalagi kita memiliki cara pandang berbeda tentang kehidupan. Memiliki prinsip dan tujuan berbeda. Gue ragu pada diri gue sendiri. Gue takut nggak bisa ngebahagiain lo dan kita berakhir seperti orang tua gue."

Arunika menoleh sesaat ke arah Taka. Lalu pandangannya turun seiring dengan helaan napas yang begitu panjang. 

Ini… tak akan mudah. 

“Tapi, Litra bikin gue sadar. Mungkin selama ini gue terlalu sibuk memikirkan risiko, sampai gue lupa bahwa gue punya pilihan untuk mencoba. Dan gue lupa... bahwa perbedaan itu bukan alasan untuk menjauh, tapi untuk saling melengkapi.”

Arunika tahu, Taka sedang menatap ke arahnya. “Mungkin gue terlalu sibuk menghakimi hasil dari sebuah pilihan, padahal gue belum memilih pilihan itu. Gue bersikap sombong karena mendahului takdir. Untuk itu, gue ingin mengambil satu langkah lebih dekat sama lo, Ar. Bukan ngajak pacaran, tapi langsung komitmen. Gue butuh lo, sebagai partner dan penyeimbang dalam hidup gue.”

Arunika terpaku menatapnya. “Lo… serius?” tanyanya gamang.

Ada sesuatu yang bergemuruh pelan di dada Arunika. Bukan karena bahagia ataupun takut. Melainkan karena keduanya melebur menjadi satu.

Taka tersenyum. “Lebih dari serius, Ar.”

Hati Arunika mencelos. Dia memegang dada kirinya. Apa hatinya mulai rusak? Kenapa kedua perasaan berlawan itu terus timbul di saat yang bersamaan.

Harusnya Arunika lebih merasa bahagia. Bukankah selama ini, dia selalu menunggu momen ini datang? Anehnya, dia merasa ragu. 

"Lo masih inget obrolan kita di rooftop kampus?” tanya Taka setelah hening menyelimuti mereka beberapa waktu. 

Arunika mengangguk kaku. Dia meremas jari-jarinya yang basah.

“Gue pernah bilang, gue pernah kehilangan seseorang yang gue jadikan ‘home’ kedua kalinya. Dan orang itu… elo, Ar.”

Arunika terpaku. 

Taka kembali melanjutkan, “Waktu itu, lo jadian sama Litra. Gue merasa hancur dan kebencian gue sama Litra makin besar. Gue juga nggak ngerti kenapa gue ngajak Syifa, sepupu dari jalur almarhum ibu gue, buat pura-pura pacaran. Gue butuh tameng supaya gue punya alasan untuk menjauh.”

Lihat selengkapnya