“Kalau bisa hari ini juga lo yakinin Taka. Gue nggak mau tahu.” Litra terdiam sesaat. “Hasil CT[5]value PCR bokap gue masih di angka dua puluhan. Sebelum gejala bokap gue makin parah dan saturasinya [6] makin turun, jadi tolong segera selesaikan misinya."
Arunika mencebik. "Tenang, aja, sih. Abis dinas, gue bakal ngomong sama dia."
"Oke, sama minta tolong ke IGD katanya ada pasien susah diambil darah. Mau cek Analisa Gas Darah. Orang IGD udah nyoba, tapi nggak dapet-dapet darahnya."
“Iya.”
Setelah mengenakan APD level 3 lengkap dengan face shield, Arunika segera melangkah menuju IGD yang jaraknya hanya lima langkah dari Lab. Dia bersyukur karena posisi lab dan IGD tak seperti di Amerta yang harus naik-turun tangga.
Sampai di sana, Arunika langsung menuju bad dua–yang berada di triase merah. Dia lantas membuka tirai, dan mendapati seorang kakek berumur sekitar 60 tahunan tengah berbaring setengah duduk. Sementara Taka di sampingnya tengah membetulkan selang infus.
Kakek itu tiba-tiba menangis terisak sambil beristighfar. Taka dan Arunika saling mencuri pandang.
"Kenapa, Kek? Ada yang sakit? Kalau bisa Kakek tahan sedikit, karena menangis bisa membuat pernapasan tambah sesak," ujar Taka masih mengatur selang infus. Netranya menatap bergantian antara si Kakek dan infusan.
"Ya Allah, Pak Dokter. Celaka saya! Celaka saya. Astaghfirullah," raungnya sampai dadanya kembang-kempis dan uap mengembun di masker oksigen yang dikenakannya.
Arunika mendekat dan menyimpan box berisi alat-alat untuk ambil darah di dekat kaki si kakek.
"Maaf, Kek. Kalau boleh saya tahu, memangnya kenapa mengatakan diri Kakek celaka? Bukankah Kakek beruntung bisa mendapatkan penanganan di IGD?”
Kakek itu menghapus air mata dengan tangannya yang keriput. Dia lantas berkata, "Demi Allah, Sus. Saya sudah hidup 60 tahun, tapi tak pernah bersyukur akan oksigen yang diberikan gratis sama Gusti Allah. Betapa baiknya Allah, padahal semalam ini saya kufur nikmat akan hal itu. Dan sekarang diuji dengan wabah ini saya merasa sangat berdosa sekaligus bersyukur. Berdosa karena kufur nikmat dan bersyukur karena masih diberi kesempatan mendapatkan kemudahan mendapatkan fasilitas perawatan di rumah sakit. Ternyata memang benar, sepertinya manusia akan sadar akan berharganya sesuatu setelah dia merasakan kesusahan dan kehilangan."
Arunika tertegun. Dia menundukkan kepalanya sejenak.
Namun, tak semua kehilangan menumbuhkan rasa berharga itu. Kebanyakan kehilangan, malah menorehkan luka baru bukan? Bahkan lambat laun luka itu malah memunculkan benih kebencian yang entah dengan obat apa bisa disembuhkan.
Arunika mengulum senyum walau pasien di hadapannya tak bisa melihat senyumnya. "Semoga Allah berikan kesehatan kembali untuk Kakek. Saya izin akan mengambil darah untuk cek darah, ya, Kek."
Arunika mengambil jarum suntik khusus Analisa Gas Darah, plester, kasa alkohol, dan kapas.
"Silakan, Sus."
***
Arunika mendesah gusar. Dia melirik ke arah pintu IGD lewat celah Loket Lab. Tidak ada tanda-tanda Taka akan keluar di sana, padahal ini sudah jam sepuluh malam lebih.
Operan shift-nya lama bener, dah.
Kalau tak ingat soal janjinya pada Litra, malas sekali harus menunggu Taka dengan kondisi tubuh yang makin hari, makin tak bisa diajak kompromi. Mudah lelah dan pegal luar biasa sampai sebadan-badan. Menurut Arunika, koyo pun sudah tak terasa ampuh lagi. Tubuhnya seolah toleran terhadapnya.
“Lo nungguin siapa sih, Ar? Bukannya balik. Besok lo dines pagi kan?” tegur Dita. Matanya melirik bergantian antara barcode identitas lab dengan tulisan tangan yang ada di tabung sampel darah.
“Apa mau nemenin gue dinas malam?”
Bibir Arunika mengerucut kecut. “Enak aja. Gue nunggu calon suami gue. Ada yang mau gue omongin sama dia.”
Dita terbahak. “Buset! Kecintaan banget. Kayak nggak ada waktu lain aja. Besok juga bisa kali,” komennya sambil menuliskan identitas pasien di buku registrasi.
Arunika mendesah pandang sambil menyandarkan kepalanya ke meja. “Justru karena gue nggak punya waktu, makanya harus malam ini juga, Dit.”