“Ibu nggak sejahat yang kita pikir, Teh.”
“Ibu juga sama menderitanya.”
Kata-kata Wita terus terngiang di telinga Arunika bagai teror. Dia tersenyum sinis sambil membuka kunci kamar indekosnya.
“Nggak jahat, pale lo?” runtuknya sambil membuka pintu dengan kasar.
Arunika masuk dan sialnya hanya kekosongan yang dia dapat. Ruangan di kamarnya gelap dan terasa menyesakkan. Hanya cahaya lampu dari luar yang masuk lewat celah jendela dan pintu.
Dia bergeming sebelum menatap ke sekeliling. Pemandangan yang padahal sudah biasa dia dapatkan setiap kali pulang. Kekosongan dan kehampaan.
Satu perasaan kembali menyeruak dalam hatinya. Andai ibunya becus mengelola usaha bordir setelah Ayah meninggal dan tidak terjebak hutang rentenir, mungkin keluarganya takkan runtuh. Andai ayahnya masih ada, mungkin saat dia pulang, masih ada yang menyambutnya.
Arunika tertunduk. Matanya memanas saat kenangan bersama ayahnya kembali bermunculan bagai potongan film.
Arunika menggigit bibir bawahnya. “Teteh kangen, Yah,” gumamnya getir. “Kenapa semuanya terasa memuakkan? Katanya, Teteh akan baik-baik aja kalo teteh kuat, tapi…” Dia tercekat. Giginya bergemeletuk keras. “Tapi kenapa semuanya terasa sulit. Apa Teteh nggak pantas bahagia?”
Tubuh Arunika runtuh juga. Dia terduduk di lantai dengan pundak yang berguncang hebat.
“Apa yang harus Teteh lakuin sekarang, Yah? Ibu datang lagi dalam kondisi sekarat setelah semua yang dia lakuin. Teteh benci sama Ibu. Teteh nggak bisa maafin Ibu semudah itu. Apa Teteh salah?” raungnya sambil memukul-mukul dada kirinya.
Arunika terisak hebat sampai kepalanya terasa pening. Dia memeluk dirinya sendiri.
“Apa Teteh durhaka? Kenapa semua terasa nggak adil,” lirihnya.
Saat tangis Arunika mulai reda dan napasnya kembali teratur, terdengar suara ketukan pintu yang diketuk seseorang.
“Ar, lo baik-baik saja?” tanyanya begitu lembut.
Arunika bergeming di posisinya. Dia menggigit bibir bawahnya dengan kuat.
“Maafin, gue,” ucap Taka penuh sesal. Bayangannya muncul karena celah pintu yang terbuka. “Gue janji nggak marah, tapi malah sebaliknya. Gue… nggak bermaksud buat nyakitin elo.”
Arunika tertunduk. Dia meremas lengan jaketnya.
“Jujur, sampai sekarang gue pun masih sulit menerima segalanya. Entah butuh waktu berapa lama lagi untuk keluar dari rasa ini,” akunya dibarengi helaan napas kasar. Karena jarak mereka tak terlalu jauh, jadi Arunika bisa mendengarnya.
“Orang tua gue cerai karena bokap ketahuan selingkuh sama nyokapnya Litra. Di umur dua belas, gue dihadapkan situasi yang sulit gue cerna. Setelahnya, gue kembali dihadapkan pada pilihan sulit.”
Taka tertawa kecil. “Gue harus milih salah satu di antara mereka. Awalnya gue pikir, setelah tinggal bersama Bunda, semua akan berjalan baik-baik saja. Karena itu yang selalu Bunda bilang, tapi semuanya runtuh saat bunda, drop karena kelelahan kerja. Seorang perawat di resusitasi jantung di ruangannya tempat bekerja. Terdengar lucu bukan? Tapi itulah yang terjadi sama bunda.
“Nggak lama setelahnya, Bunda pergi ningalin gue dengan semua lukanya. Dan alasan terbesar gue memilih jadi perawat, untuk mencoba mengerti bunda. Tentang semua pilihannya dan alasanya begitu mencintai pekerjaannya itu. Dan setelah sekian lama, akhirnya gue paham. Gue mulai menerima alasannya selalu sibuk dan kadang hanya menyisakan waktu yang sebentar buat keluarganya.
“Gue jadi berpikir, seharusnya, Ayah nggak se-ngotot itu meminta Bunda jadi ibu rumah tangga. Seharusnya Ayah bangga punya istrinya seorang perawat. Harusnya, Ayah nggak selingkuh hanya karena Bunda seorang perawat yang sibuk. Atau mungkin, andai saja Bunda mengalah dan menuruti keinginan Ayah, mungkin, semua ini nggak akan terjadi. Mungkin gue, masih memiliki keluarga dan tempat pulang yang utuh tanpa terluka.”
Hening cukup lama menyelimuti keduanya. Seolah sama-sama sedang memberikan ruang.
“Kita sama, Ar. Dan kali ini, gue benar-benar belum menemukan jalan. Gue, nggak tahu jalan apa yang gue ambil. Rasanya, lubang besar di hati gue nggak pernah tertutup. Sekeras apa pun gue berdoa dan berharap, lukanya terus ada. Walaupun gue yakin, Allah nggak bakal ngasih cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.”
***
Arunika mendesah kasar. Langkahnya terhenti di depan lobi rumah sakit. Saat sudut matanya terarah ke pintu masuk IGD, dadanya kembali bergemuruh. Potongan kajadian semalam, kembali menghantamnya tanpa ampun.
Bukankah ini alasan yang setimpal baginya?
Anggap saja ini sebagai buah dari apa yang dia tanam.
Arunika tersenyum sinis sambil melangkah masuk dan melakukan absensi. Dengan setenang mungkin, dia masuk ke Laboratorium.