Always Be My Home

Meloghy
Chapter #14

Nobody's Home

Day 1, setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, Arunika dijatuhi isolasi mandiri selama sepuluh hari ke depan dengan segudang obat–yang belum juga sudah bikin muak.

Arunika duduk di pinggir kasur. Tangannya menggapai parfum di nakas. Lalu menyemprotkannya ke lengan. Dia mulai mengendus-ngendus sebanyak mungkin parfum dan sialnya, tidak tercium sama sekali.

Arunika memutar bola matanya. Dia berjalan ke dapur–mencari bubuk cabe. Mencuilnya dengan jari telunjuk dan sialnya, lidahnya tak merasakan apa pun saat mencicipinya.

Arunika mendesah pasrah, lalu menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Dia menaruh tangannya di depan mata–berharap tidur. Litra benar. Sepertinya dirinya butuh istirahat.

Arunika berharap terlelap dan bermimpi indah. Namun, malah cuplikan kejadian-kejadian menyebalkan yang muncul. Seperti film rusak, semuanya diputar tanpa permisi.

Saat ibunya pergi tanpa pamit. Saat pertengkaran paman dan bibinya tiada habisnya. Saat dirinya wisuda tanpa orang tua. Saat perjuangannya di Amerta. Saat mendatangi rumah impiannya. Juga saat ibunya tiba-tiba kembali dan pengkhianatan paling kejam yang dilakukan Wita. Pertengkarannya dengan Dita bahkan obrolannya dengan Taka. Juga kejadian saat anak kecil tadi yang sedang sholat.

Arunika mendesah kasar. Dia lantas bangun dan menatap mukena yang tergantung di kapstok dekat lemari. Rasa yang sama kala itu kembali muncul. Rasa yang tak mampu diartikan, tetapi satu hal yang pasti. Arunika merasa iri pada anak itu yang terlihat begitu menikmati sholatnya. Seolah sedang bercengkrama dengan Sang Maha Kuasa. Sedangkan dirinya… jauh berbanding terbalik.

Tiba-tiba saja Arunika teringat kata-kata Taka akan arti ‘Home’ baginya. 

“Apa gue berlari terlalu jauh?” Arunika tertunduk- menatap lantai keramik. 

“Assalamualaikum, Ar?” panggil seseorang membuyarkan lamunan Arunika.

“Wa-waalaikumsalam,” jawabnya seraya berlari kecil ke arah pintu. Tak pula, dia mengenakan kembali maskernya yang tadi masih tergantung di leher. 

“Lo baik-baik aja?” tanya Arkan sambil menjinjing dua kresek besar.

Arunika mengulas senyum tipis. “Gue harap begitu,” jawabnya.

Arkan tersenyum. “Jangan bilang harap, tapi lo harus baik-baik aja. Rumah impian lo menanti dibeli, noh,” candanya membuat keduanya tergelak.

“Oh, ya. Nih buat lo. Jangan lupa obatnya diminum rutin. Berjemur tiap pagi. Terus kalo ada apa-apa, atau lo nggak kuat sendirian di kosan, kabarin Taka atau gue. Biar kita infus atau bawa langsung ke rumah sakit. Jangan menanggung semuanya sendiri. Jangan sok kuat,” ocehnya seraya menyerahkan tentengannya.

“Iya, Kankan. Ih… baik banget, sih. BTW orang tua lo gimana? Udah balik?”

Arkan mengangguk pelan sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. “Alhamdulillah. Nyokap sama adek gue udah bisa pulang, tapi Ayah masih dirawat. Semoga besok bisa pulang.”

“Alhamdulillah. Gue ikut seneng. Lo juga jaga kondisi. Jangan kayak gue. Nanti tim ruang isolasi kerempongan kalo satu member-nya tumbang.”

“Iya, Nika calon istrinya Taka.”

Arunika jadi mesem-mesem sendiri. 

“Semoga lo cepet pulih, kan katanya mau lamaran,” ucap Arkan langsung diaminkan kencang oleh Arunika.

“Oh, ya. Sebenarnya itu sebagian besar dari Taka.” Arkan menunjuk kresek yang di jinjing Arunika. “Katanya hari ini dia lanjut dines malem. Ada temennya yang terkonfirmasi bareng elo. Dia pasti bakal slow respon. Jadi, jangan lupa makan katanya.”

Pipi Arunika memanas. Senyumnya kembali tersungging cerah. 

“Ah, satu lagi.” Arkan membuang pandang.

“Apa?”

“Gue nggak memaksa elo. Setiap orang punya hak untuk memilih.” Arkan terdiam sejenak. “Gue tahu rasa sakitnya elo, tapi kita memiliki pilihan untuk memaafkan, Ar. Dan gue, akhirnya memilih itu.”

Arunika tertunduk bersamaan dengan helaan napas kasar dari Arkan.

“Memaafkan bukan berarti melupakan semua luka. Bukan lantas membuat luka itu menjadi kering, tetapi setidaknya dengan itu, kita berusaha untuk sembuh, Ar. Gue tahu prosesnya nggak mudah karena gue mengalaminya sendiri.

“Namun, dengan pengabaian yang mereka lakukan, gue banyak belajar akan kehilangan. Hingga di satu titik, hanya Allah yang bisa gue andalkan. Gue selalu berdoa akan datangnya hari ini. Dan akhirnya, mereka melihat gue dan gue makin percaya, Allah nggak akan mengecewakan hamba-Nya yang selalu berdoa dan hanya berharap pada-Nya.”

Arkan menepuk pundak Arunika. “Gue tahu, lo nggak mungkin mengabaikan mereka. Maka dari itu, lo nggak usah khawatir. Dari kemarin malam, Wita nginep di kontrakannya Dita. Dan masalah ibu elo… biar gue yang urus.”

Hati Arunika mecelos. Dia meremas jarinya.

“Kenapa? Kenapa lo sampe ngelakuin hal itu? Apa karena dia ibu gue?” tanya Arunika datar dan dingin.

Arkan mendesah. “Entahlah. Mungkin karena gue nggak tahan ngeliat pasien gue menderita.”

Arunika meremas jarinya. “Padahal dia orang lain. Kenapa lo harus sepeduli itu?”

Arkan malah tersenyum. “Gue perawat, Ar. Gue nggak bisa mengabaikan pasien gue. Jadi, jangan merasa terbebani akan hal itu. Ini, sikap profesionalisme gue atas pekerjaan gue,” tegasnya lagi membuat hati Arunika tercabik.

Mata Arunika memanas seketika. Sesak di dadanya kembali naik.

“Satu hal lagi, Ar. Tolong maklumi sikap Dita tadi pagi. Mungkin, dia hanya terbawa suasana ngeliat elo begitu benci sama ibu lo sendiri. Sementara dia… nggak pernah merasakan kasih sayang itu bahkan di hari pertama dia lahir ke dunia ini.”

***

Day 2 isoman. Arunika membuka lemari pakaiannya. Dengan senyum semringah, dia mengeluarkan kotak berisi alat proyektor mini dan memeluknya erat. Katanya, salah satu tips agar cepat pulih dari Covid adalah dengan cara meningkatkan daya tahan tubuh, salah satunya menghindari stres.

Daripada stres melihat berita peningkatan kasus wabah, mending nonton drakor, begitu pikir Arunika. Waiting list drama berbagai genre yang ingin di tontonnya pun sudah mengantre panjang. 

“Akhirnya bisa healing juga.”

Sebelum Arunika memasang layar proyektor dan menutup rapat gorden kosannya, tak lupa dia memesan makanan lewat aplikasi pesan-antar. Uang jajan dari dokter Penanggung Jawab Lab dan Taka takkan dia sia-siakan. 

Bukankah ini saatnya menikmati hidup? Apalagi dia sedang datang bulan. Terasa bebas, sebebas-bebasnya.

Namun, setelah beberapa hari berlalu, Arunika mulai merasa bosan. Gabut seperti orang hilang arah. Hanya tiduran berbalut selimut di kasurnya yang nyaman. Menonton sampai lupa waktu, walau disertai batuk dan bersin yang silih berganti. 

Selain itu, dia mulai terganggu oleh suara speaker di masjid dekat kontrakannya. Bukan karena suara adzan, melainkan suara pemberitahuan… kematian. Entah mengapa, Arunika terlalu sering mendengarnya akhir-akhir ini. 

Seperti saat ini, pemberitahuan dari masjid kembali terdengar bagai teror. Ini lebih buruk dari sirine ambulan atau suara derit roda peti mati di rumah sakit.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, telah berpulang ke rahmatullah Ibu Yuyun…”

Arunika mendesah kasar. Kunyahannya perlahan melambat. Pundaknya pun ikut turun. Tiga hari lalu, Mbak tukang seblak pengkolan, sekarang ibu warteg seberang jalan. 

“Semua… akhirnya berpulang,” desahnya sambil memegang tenggorokannya yang terasa gatal. 

Suara batuk kering pun bersusulan memenuhi kamarnya. Satu pemikiran muncul di benaknya. Bagaimana kalau kondisinya makin memburuk? Misalnya saturasinya turun atau sesak napas. Apakah dia akan berakhir sama seperti mereka? Dan yang jauh lebih buruk, bagaimana kalo dia berakhir sendirian di kamar indekosnya. 

Jika semua itu terjadi, Arunika merasa semua yang diusahakannya selama ini terasa sia-sia. Bibirnya melengkung ke bawah. 

Lihat selengkapnya