Always Be My Home

Meloghy
Chapter #15

Listen

Arunika menaiki tangga rooftop indekosnya. Bukan untuk menjemur baju, melainkan menjemur dirinya sendiri.

Rasanya kayak ikan asin kering.

Arunika membatin sambil mengendus bau badannya sendiri, yang masih tak tercium apa pun. Padahal dia sengaja nggak mandi dari kemarin.

Baiklah, apa boleh buat? Menurut para ahli, berjemur baik untuk meningkatkan imunitas. 

Arunika menggelar karpet tipisnya. Tak lupa, dia juga membawa bantal kecil dan kacamata hitam. Dia berandai memiliki kursi pantai, mungkin akan lebih sedikit nyaman.

“Apa gue ke pantai aja, ya?” ucapnya pada dirinya sendiri dengan seringaian lebar. “Vit sea kayaknya nggak terlalu buruk.” Dia cekikikan. 

Namun senyumnya perlahan luntur–mengingat saldo rekeningnya yang terus berkurang. Dia lantas mendesah kasar. “Hah… benar juga. Gue lebih butuh vitamin D ketimbang vitamin sea, tapi… bukan vitamin D begini yang gue maksud.”

Bibir Aruika melengkung ke bawah seraya rebahan. Dia mulai menggulung celana training–sampai ke lutut–dan lengan hoodie-nya sampai ke siku. Untuk sesaat, dia menikmati semilir angin segar pagi menerpa tubuhnya. Juga sorot mentari yang menghangatkan dan awan-awan yang berarak di atas langit biru nan cerah.

Biasanya abang-abang tukang sayur berteriak merdu–memanggil ibu-ibu. Biasanya jam segini tukang tahu bulat sudah berisik menyusuri gang, bersahutan riang dengan musik keras dari ondel-ondel jalanan. Lalu-lalang kendaraan dan klakson dari jalan utama terdengar memekakkan telinga. Semua orang sibuk, tetapi sekarang hanya keheningan yang Arunika dapat. Hanya kicauan burung dan desiran angin yang menemaninya. 

“Bukankah semua ini akan cepat berlalu?” gumamnya seraya merogoh kunci rumah yang diberikan Taka. Dia menatap lekat kunci itu. Perasaan hangat kembali mengalir di dadanya. Juga potongan kejadian beberapa hari lalu, saat Taka menyematkan ring gantungan dan kuncinya ke jari manis Arunika. Ini, jauh lebih mendebarkan daripada dilamar pakai cincin bertahtakan permata, begitu pikirnya.

Arunika jadi cengar-cengir sendiri. Beruntung indekosnya sepi, jadi nggak bakal ada yang menganggapnya gila.

Satu notifikasi pesan masuk, membuyarkan kegilaannya akan rencananya membeli barang-barang apa yang cocok untuk rumah baru mereka atau bagian mana yang akan direnovasi. Dia merogoh ponsel dan matanya sontak terbelalak melihat nominal dana yang masuk. 

“GILA!” pekiknya langsung terperanjat bangun.

Arunika duduk bersila dan mengucek matanya berkali-kali. “Demi apa? Uang rapelan jasa pelayanan Covid sebanding sama DP rumah impian gue, anjir!” Dia menggaruk kepalanya tak percaya.

Satu pesan kembali muncul. Kini dari Pak Iyus.

“Dek, cek rekening. Rapelan dah turun noh sama uang MCU terakhir, udah aku transfer, ya.”

Sekali lagi Arunika membekap mulutnya tak percaya. “Ini baru namanya vitamin D yang gue maksud. DUITTT!”

Arunika langsung jingkrak-jingkrak kegirangan lalu joget-joget nggak jelas kayak orang kesurupan kuda lumping. Kalau begini caranya, Kitchen set impian, teve, ornamen-ornamen hiasan dinding, tempat tidur, ruang laundry, dan semua perintilan yang sudah dia masukkan ke keranjang online shop akan segera terealisasi. Uang kuliah profesi Farmasi adiknya pun tak perlu dia khawatirkan lagi. Ini… jauh lebih cukup dari apa yang dia bayangkan. 

“GUE KAYA! GUE KAYA! HIP-HIP HORE! HIP-HIP HORE! YEAY!!! GUE KAYA!!!”

“Kaya orang gila,” sahut seseorang dari belakang Arunika.

Arunika mematung di tempat dengan kedua tangan masih terangkat ke udara. Senyumnya perlahan luntur. Dia melirik pemilik suara tadi yang begitu dia kenal. 

Saat pandangan mereka bertaut. Bibir keduanya refleks manyun dengan mata mulai berkaca-kaca.

“DITAAA!”

“NIKAAA!”

Keduanya saling memanggil satu sama lain penuh dramatis. 

“MAAF!” ucap keduanya kompak. Mereka saling mendekat dengan kedua tangan saling direntangkan–siap melepas rindu dengan pelukan.

Saat Arunika hendak memeluk Dita–gadis itu meliuk indah menghindarinya. 

Social distancing, weh,” ucap Dita sambil jaga jarak. “Kalo gue ikut tertular, kasihan si Litra. Dia dines udah kayak mayat hidup.”

Arunika tertawa sambil membetulkan posisi maskernya yang dari sempat menempel di dagu. “Biarin. Biar tahu rasa dia.”

“Heh, nggak boleh gitu sama mantan.”

Keduanya tertawa terbahak dari balik masker.

“Bu Neni, Pak Iyus, Mbak Juni sama Rey harusnya udah masuk kerja kan?”

“Bu Neni lanjut isoman. Dia masih positif PCR-nya.”

“Buset! Karma, tuh, karena nggak pernah bantuin di Lab.”

Dita tergelak. Lalu setelah tawanya reda, dia berdehem pelan. “Maaf soal waktu itu ya, Ar. Gue terlalu bawa perasaan dan keterlaluan ngatain elo kayak gitu,” pintanya tulus dengan bibir manyun. “Maaf juga baru menjenguk elo sekarang.”

Arunika tersenyum tipis. “Gue, juga minta maaf. Gue nggak bermaksud buat–”

“Gue tahu, kok,” sambar Dita sambil menepuk pundak Arunika. “Gimana perasaan lo sekarang?”

Lihat selengkapnya