Arunika akhirnya bisa menghirup udara segar. Untuk pertama kalinya lagi setelah sembilan hari terpenjara di kamar, dia menginjakkan kakinya kembali di rumah sakit. Bukan untuk dinas, tetapi untuk jadi… pasien. Lagi.
Berdasarkan kebijakan yang dikeluarkan direktur, tenaga kesehatan yang sebelumnya terinfeksi Covid, wajib melakukan pemeriksaan kesehatan–termasuk PCR sebelum berdinas kembali. Semata untuk memastikan tidak ada transmisi dari petugas ke pasien.
“Males banget di colok-colok. Mending nyolok hidung orang, gue bisa dapet duit,” keluh Arunika saat Rey membuka bungkus swab dan bersiap melakukan tindakan swab lewat hidung dan mulut.
“Udah ayo buruan, negadah. Pasien gue banyak nih,” sewot Rey. “Curhatnya nanti aja.”
Arunika memutar bola matanya seraya menengadah. “Galak amat. Jangan dalem-dalem nyoloknya, ya.”
“Iya, bawel. Protes mulu, dah.”
Pengambilan swab selesai, Arunika keluar dari tenda sambil memegangi hidungnya yang terasa sakit dan nggak nyaman. Sepertinya Rey masih punya dendam pribadi padanya.
“Pedih, jir. Dalem banget nyoloknya. Suek!”
Arunika berdecak kesal. Kemudian, langkahnya terhenti, sesaat pandangannya terarah ke pintu IGD. Potongan kejadian malam itu pun kembali berputar. Ucapan Wita beberapa hari lalu. Buku catatan ibunya yang belum sempat dia buka karena ternyata di dalamnya terselip foto keluarga usang. Ucapan Dita dan Arkan soal mencoba menerima dan memaafkan. Semuanya tumpang tindih menyesakkan dadanya.
“... semuanya dicatat di sana. Termasuk uang kuliah teteh dan biaya hidup selama kita menumpang di rumah Mang Agus. Ibu membayar semuanya.”
Arunika memasukkan kedua tangannya ke saku hoodie. Dia menyeringai heran. “Kalo memang Ibu membayar semuanya, kenapa tuh nenek lampir masih minta duit? Terus beralasan kalo itu nggak bakal cukup buat membayar biaya yang telah dikeluarkan Mang Agus dulu,” gumamnya.
Hendak beranjak, seorang ibu dan anak yang sedang duduk berdampingan di kursi tunggu IGD, menarik perhatian Arunika. Sang ibu memeluk putrinya yang terlihat pucat dan menggigil hebat. Ibu itu bahkan sesekali mengelap keringat di kening putrinya yang ditempeli plester kompres demam.
“Sabar, ya, Nak. Sebentar lagi diperiksa sama dokter,” ucap sang Ibu terdengar samar oleh Arunika.
Pundak Arunika perlahan luruh. Tanpa diperintah, otaknya memutar ulang memori yang sudah lama dia kubur dalam-dalam. Memori ketika Arunika masih duduk di bangku SMP. Waktu itu dia mengalami demam tinggi dan ibunya sama sekali tak pernah meninggalkannya. Begitu telaten dan anehnya, ibunya selalu tahu apa dia butuhkan tanpa dia sempat bicara. Bahkan setelah terjaga setiap malam selama berhari-hari, ibunya tetap tersenyum dan berkata bahwa dirinya akan segera sembuh.
Arunika meremas ponsel di tangannya. Rahangnya menguat–mencoba menahan gejolak di hatinya.
Tak lama, dari pintu IGD keluar dua orang petugas yang mengenakan APD level tiga memanggil pasien anak tersebut. Ibu itu lantas memapah putrinya ke kursi depan meja anamnesis untuk dilakukan skrining awal. Mulai dari identitas pasien, keluhan sampai pemeriksaan suhu.
Seorang berperawakan tinggi, yang sebelumnya memeriksa suhu anak itu, menoleh ke arah Arunika. Dari matanya yang menyipit, Arunika tahu, orang itu sedang tersenyum padanya.
Ka, gue kangen.
Banyak hal yang pengen gue ceritain sama elo.
Entah kenapa hati gue belum bisa menerima semuanya.
Lantas, apa yang harus gue lakuin sekarang?
Arunika balas tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Dia mengangguk paham saat lelaki itu mengisyaratkannya untuk mendekat dengan lambaian tangan.
Arunika melangkah mendekat. Namun, senyumnya perlahan luntur saat Taka tiba-tiba mematung di tempat sambil memegangi dadanya. Tubuhnya membungkuk dengan satu tangan bertumpu pada meja.
“A? Kenapa?” tanya Syifa sesaat sebelum tubuh Taka ambruk begitu saja di dekat meja.
Arunika malah terpaku di tempat.
“A Taka!” Syifa beranjak dari kursinya. Dia langsung mengecek kondisi Taka. Membuka face shield dan masker N95 yang melekat di wajah cowok itu.
“A? A Taka! Sadar A.”
Syifa mencoba menepuk-nepuk pundak Taka, tetapi Taka tak merespons. Wajahnya begitu pucat dengan lingkaran menghitam di sekitar mata. Sementara mulut mangap-mangap, berusaha mengais oksigen.
Gadis itu berdesis kesal setelah mengecek napas Taka. “Dok! Dokter! Tolong A Taka, Dok!” teriaknya.
Harusnya Arunika pergi mendobrak pintu IGD untuk meminta bantuan. Nyatanya malah Ibu dari pasien anak perempuan tadi yang melakukannya.
Kedua mata Arunika masih terfokus pada Taka yang matanya mulai terpejam dan mulai kehabisan napas.
Detik berikutnya, beberapa orang ber-APD lengkap keluar dan memindahkan Taka dengan sedikit kesadarannya ke bed yang kosong.