Always Be My Home

Meloghy
Chapter #17

(It's Not) Fine

Gue nggak bisa terus lari.

Arunika terus menggigiti kuku ibu jarinya, dengan kedua mata terus terfokus pada layar ponsel yang menampilkan chat grup Laboratorium. Berulang kali dia me-refresh jaringan internetnya, tetapi laporan hasil rujukan PCR di grup tak kunjung muncul.

“Lama banget, dah. Biasanya tengah malam begini udah ada hasil,” gerutunya. Dia beralih pada chat pribadi dengan Evita.

P.

Vit.

Hasilnya apa? Lo molor, ya?

Evita langsung typing.

Evita Lab

Enak aja! Pasien gue banyak, Kak.

Lagi gue rekap. Sabar, Bos.


Belum sempat membalas, satu pesan muncul dari Evita.


Evita Lab

Lo negatif, Kak.

Berarti besok udah masuk kerja.


Hasilnya Taka?

Vit?

P?

Weh!


Evita tiba-tiba lenyap, seperti ditelan bumi. Hendak melakukan panggilan telepon, notifikasi pesan grup muncul. Arunika lantas duduk di tepi tempat tidur dan membuka lampiran foto yang dikirim Evita.

Tubuhnya membeku seketika. Taka…

Cling!

Satu pesan muncul dari Evita di layar pop-up. 


Evita Lab

Bang Taka positif, Kak.

***


Pagi buta, bahkan sebelum alarm-nya belum sempat menyala, Arunika sudah mematut dirinya di depan pintu kontrakannya Dita. 

“Dit! Assalamualaikum! Dita!” panggilnya sambil menggedor-gedor pintu.

Kesal tak mendapatkannya jawaban, Arunika akhirnya mengeluarkan jurus terakhirnya. “Buka sekarang atau gue panggil damkar buat jebol pintunya,” ancamnya.

Pintu langsung terbuka. Dita nyengir kuda. “Wa’alaikumussalam, Nika.”

“Adek gue mana?” Arunika celingukan mencari adiknya.

“Wita?” tanya Dita kikuk sambil melirik ke dalam kontrakan. “Eu—”

“Suruh dia keluar. Gue udah nggak marah.”

“Serius?!” sahut seseorang dari dalam.

“Iya. Udah sini keluar. Ayo balik. Kasian temen gue kalo lo terus numpang di kontrakannya dia. Makan elo kan banyak.”

Kepala Wita nongol dari balik jendela. Dengan mata memelas dia memastikan kembali kalo dirinya memang sudah diampuni oleh kakaknya.

Arunika menyunggingkan senyum. Tak kuat juga, lama-lama marah pada adiknya yang menyebalkan itu. “Iya, sepi juga nggak ada elo. Nggak ada temen ribut. Terus, gue udah bayar uang kuliah elo juga. Tanggal dua lima nanti, lo sidang online. Siap-siap.”

Bibir Wita manyun. Dengan mata berkaca-kaca dia berhambur ke pelukan kakaknya.

“Maafin gue, Teh. Maafin adik elo yang nggak berguna ini,” raungnya.

“Emang nggak berguna!” timpal Arunika membuat Wita makin mengeratkan pelukannya. 

“Nggak papa, caci maki gue aja, Teh. Ikhlas gue.”

Lihat selengkapnya