“HCU nggak ada inputan pasien cek darah?” Arunika mengecek satu per satu barcode identitas pasien yang akan diambil darah olehnya.
Rey yang sedang melakukan input hasil melirik datar. “Nggak. Pasien ruang rawat inap biasa semua.”
Arunika mendesah kasar. “Oh… ok.”
Dia berjalan gontai ke ruang sampling. Mengenakan gown, masker dan face shield. Tak lupa, dia menenteng tas kebanggannya sebagai petugas Lab alias box sampling yang berisi peralatan pengambilan darah.
“ICU atau IGD nggak ada yang mau cek AGD?” tanya Arunika dari lubang pintu.
“Nggak.”
Arunika mengangguk paham.
Baru beberapa langkah, kepalanya kembali muncul di lubang loket. “Pasien Isolasi, nggak ada yang mau cek swab?”
Rey melirik sebal. “Lo kenapa, sih? Lo nyari kerjaan? Apa nyari alasan buat ketemu cowok lo?” semburnya membuat Arunika langsung kabur. Menaiki tangga ke lantai tiga untuk mengambil darah pasien non-Covid.
***
Biasanya kalau operan shift, ada… saja pasien Covid yang sampel darahnya tidak dapat. Entah karena susah, ada bekuan, atau lisis. Namun, beberapa hari berlalu, semuanya lancar jaya. Arunika jadi bete. Dia sama sekali tak menemukan alasan untuk bertemu Taka. Terlebih, menyebalkannya lagi, Arkan lagi-lagi meng-handle semua kebutuhan Taka selama dirawat.
Arunika jadi merasa tak berguna. Bibirnya melengkung di depan komputer. Dia mendesah kasar, sementara otaknya berpikir keras mencari cara. Hanya ketika dinas malam, Arunika bisa mengenakan APD level 3 lengkap untuk sampling atau Swab pasien Covid. Sementara jadwal dinas malamnya masih minggu depan. Auto Taka keburu pulang.
Arunika membuka aplikasi pesan untuk kesekian kalinya. Chat terakhir dari Taka tadi pagi. Itupun hanya mengingatkan soal makan. Chat panjang dari Arunika belum dibaca sampai sekarang. Mana Arkan slow respon. Ditelepon, tidak diangkat. Pesannya, tidak dibalas.
Sibuk banget pokoknya dia. Terus, gue harus gimana coba?
“Em–Kak... BTW, lo sama Kak Litra putus karena apa?” tanya Evita tiba-tiba dari depan mikroskop.
Arunika melirik malas, lalu menopang kepalanya dengan satu tangan.
“Em–karena gue ketahuan,” jawabnya berbarengan dengan bunyi tuts hitung jenis yang dipencet Evita.
Cewek yang tingginya hanya sebahu Arunika itu menoleh. “Lo ketauan selingkuh, Kak?” tuduhnya dengan mata melotot.
Arunika berdesis sambil mengangkat tinjunya ke udara. “Enak aja! Kagak, ya. Bukan karena itu.”
“Terus?” desak Evita seraya mendorong mundur kursi bulatnya sampai ke hadapan Arunika.
“Ketahuan kalo gue cuma manfaatin dia doang.”
“Manfaatin gimana, Kak?”
Arunika mengangguk. “Kita cuma pacaran satu semester doang. Itu pun karena IPK. Dan kalo dipikir-pikir, kita lebih mirip tutor sama murid ketimbang orang pacaran, sih. Dan gongnya, dia juga manfaatin gue. Yah… intinya simbiosis mutualisme gitu.”
Evita ber-oh panjang.
“Kenapa? Tumben lo nanya gitu?”
Evita melempar pandangannya sembarang. Dia juga langsung menggeser kursinya lagi ke depan mikroskop. “Em–nggak papa, cuma penasaran aja, Kak,” jawabnya sambil menekan tuts alat hitung jenis.
Mata Arunika menyipit tajam. “Jangan bilang lo naksir Litra?”
Evita membeku di tempat. Dia tertawa garing, seolah menyembunyikan sesuatu. “Nggak lah. Masa gue naksir Kak Litra. Jangan ngaco, deh,” jelasnya sambil menyerahkan formulir pasien ke hadapan Arunika.
Untuk sesaat pandangan mereka bertemu.
Arunika memicing sangsi, sampai orang yang mereka bicara muncul dari balik pintu.
“Kalo iya, mending lo cari cowok lain, deh,” komen Arunika setelah melirik Litra sesaat. Dia mengambil formulir pasien yang tadi dikerjakan Evita. Lalu melakukan input hasil ke komputer.
Lintra mendesah kasar. Langkahnya terdengar makin mendekat.
“Daripada ngomongin orang, mending lo pikirin caranya bayar utang ke gue.” Litra meletakkan ponselnya ke dekat printer yang sedang memuntahkan cetak hasil Lab pasien.
Arunika melirik layar ponsel itu yang berisi kolom chat Litra bersama ayahnya.
“Bokap udah mau dirawat. Setelah tahu Taka masuk HCU, bokap pengen liat kondisinya. Minimal denger suaranya. Gue minta janji elo waktu itu.”
Arunika tertegun, lalu meneguk ludahnya. Dia mendesah gusar. “Gue harap bisa, Tra, tapi gimana caranya? Jenguk dia aja susah.” Bibirnya manyun.
“Ya apalagi gue? Lo aja susah. Terserah, pokoknya gue nggak mau tahu.” Litra berbalik. Lalu melemparkan botol kopi kemasan di tanganya ke Evita. Untung refleks bagus, jadi bisa ditangkap Evita dengan baik.