“Ibu Sulasmi,” panggil Arunika dari pintu ruang sampling.
“Iya, Sus. Saya,” sahut seorang nenek bergamis hitam. Dia bangkit dari kursi tunggu dibantu oleh seorang ibu paruh baya di sebelahnya. Dengan menggunakan tongkat nenek itu berjalan menuju Arunika.
“Saya konfirmasi lagi ya, Nek. Nama lengkapnya siapa?” tanya Arunika dari balik face shield.
“Sulasmi, Sus.”
“Tanggal lahirnya berapa, Nek? Hafal nggak?”
Nenek itu nyengir menunjukkan sisa giginya yang bisa dihitung dengan jari. “Nggak, Sus. Coba lihat di KTP saya aja, ya,” jawab Nenek itu sambil merogoh dompet di tasnya.
“Ini, Sus.” Nenek itu menyerahkan kartu identitas pada Arunika.
Setelah sesuai, Arunika langsung melakukan pengambilan darah.
“Sendirian aja kontrolnya, Nek? Anaknya ke mana?” tanyanya basa-basi sambil menempelkan barcode identitas pasien pada tabung sampel darah.
Nenek itu menyengir lagi. “Biasa, Sus. Anak saya sibuk kerja semua. Mana udah pada punya keluarga masing-masing. Jadinya nggak ada yang nganter.”
Arunika ber-oh pelan. Dia jadi tak enak hati. “Baik, Nek. Untuk hasilnya kurang lebih satu jam, ya.”
“Baik, Sus. Berarti habis ini saya ke mana lagi?”
“Boleh menunggu di depan Lab aja, Nek. Nanti kalau udah, saya panggil lagi.”
Nenek itu mengucap terima kasih sambil menepuk pelan pundak Arunika. Tak tega juga, Arunika membukakan pintu dan mengantarnya ke kursi tunggu.
“Makasih, Sus.”
“Sama-sama, Nek.”
Arunika berbalik dan tak sengaja mendengar pembicaraan nenek dengan ibu paruh baya tadi.
“Emang gitu, Nek. Kalo seorang ibu bisa mengurus banyak anak, tapi nggak sedikit anak bisa mengurus satu ibunya saja.”
Arunika terdiam di ambang pintu. Pandangannya turun menatap pantulan dirinya di lantai keramik.
“Ada pasien lagi, ya, Ar,” ucap Dita sambil menyerahkan formulir.
Arunika bergeming.
“Ar?” panggil Dita.
“Gue boleh minta tolong nggak, Dit?” Arunika mengulas senyum terbaiknya dari balik masker–meski hanya tersampaikan lewat ninar mata.
***
Selepas dinas, Arunika mengajak Dita ke kontrakannya. Dia langsung mengeluarkan koper, goodie bag besar, serta beberapa kardus bekas pindahannya dulu.
“Teh, lo mau ke mana?” tanya Wita panik saat Arunika memindahkan semua bajunya ke koper dan kardus. Juga beberapa barang seperti kosmetik, tas, bantal kesayangan, proyektor dan alat makan yang biasa dipakainya.
“Pindah sementara,” sahutnya tanpa menoleh. Tangannya sibuk menata barang di kardus besar.
“Hah? Maksudnya gimana, Teh?”
Dita menepuk-nepuk pelan pundak Wita. “Pindah ke kosan gue doang, kok, Wi.”
“Tapi kenapa?” tanya Wita masih tak paham.
“Dia balik sore ini. Gue nggak bisa satu atap sama dia,” jawab Arunika.