Satu tahun kemudian…
Organisasi kesehatan dunia menyatakan bahwa wabah Covid-19 akan segera berakhir// Direktur Jenderal organisasi tersebut melaporkan bahwa jumlah kasus dan kematian akibat wabah menurun drastis// Pelaporan kasus kematian minggu ini berada di tingkat terendah//
Tak hanya itu// Presiden Indonesia melalui Keppres akhirnya menetapkan status pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) telah berakhir dan mengubahnya menjadi penyakit endemik di Indonesia// Dengan demikian/ bencana nasional akibat COVID-19 resmi dicabut//
Arunika mendesah kasar, memandangi berita live streaming yang putar Rey di komputer Lab. “Serius, nih, Covid-nya udahan?” komennya sangsi.
“Emangnya lo mau Covid varian apalagi?” debat Rey kesal. “Diseruduk Covid delta aja, kalian pada K.O,” sindirnya.
Arunika, Pak Iyus, dan Mbak Juni tertawa kompak.
“Eh– kita enggak, ya,” timpal Dita sambil melingkarkan tangan di pundak Mbak Octa dan Evita. Dengan penuh keangkuhan mereka mengangkat dagu kompak.
“Kita kan trio wonder woman,” ucap mereka kompak.
“Covid aja nggak berkutik sama kita,” sambung Mbak Octa.
“HEH! Mulutnya, sembarangan,” komen Mbak Juni. “Jangan sampe kayak si Litra, ya. Kita semua udah kering, dia baru nyebur. Orang wabahnya udah selesai, dia malah terkonfirmasi positif.”
Mereka semua tertawa kompak.
“Eh– serius, Mbak Jun?” tanya Arunika.
“Iya. Noh, tanya sama pacarnya.”
“Pacar?” Alis Arunika bertaut. Dia menatap satu per satu teman-temannya yang nyaris semuanya menatap ke arah Evita.
“Wait? Apa gue doang yang ketinggalan berita?” tanyanya.
Evita nyengir malu-malu.
“Maaf, ya, Kakak Ipar. Gue mau ngomong ke elo, tapi malu,” ucapnya langsung disoraki satu Lab.
“Kakak Ipar nggak tuh!” komen Dita terbahak.
Arunika ber-oh takjub. “Bagus, deh! Lo cocok sama dia, Vit. Yang satu penyabar, yang satu menguji kesabaran.”
Semua terbahak lagi, sampai Bu Neni datang membubarkan kerumunan mereka.
“Rapat bulanan Lab dimulai sebentar lagi. Sebelum itu, saya mau ngomongin jadwal kalian bulan depan. Ini semuanya pada ada acara di pertengahan bulan. Saya nggak bisa acc semua. Jadi, suit aja, ya.”
“Eh? Masa gitu, Bu?” protes Rey nge-gas. “Mau antar istri kontrol ke dokter Obgyn, nih. Mau liat dede utun.”
“Kok begitu? Mana bisa, Mbak. Aku mau liburan ke Dubai bareng ibu-ibu arisan, nih. Mumpung bandara udah buka,” timbal Mbak Octa tidak mau kalah.
Emang beda kelas, ibu-ibu satu ini, komen Arunika dalam hati.
Dia juga tidak boleh kalah.
Arunika lantas mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. “Mau honeymoon nih sama ayang,” celetuknya langsung disoraki sama yang lain.
Mbak Octa berdecak. “Emang beda pengantin baru, mah.”
“Iya, nih. Harus gitu, honeymoon-nya disebut, Dek? Kasian noh temen kamu yang masih jomlo,” sahut Pak Iyus sambil menunjuk Dita.
Arunika sontak menahan tawa.
“Dih! Siapa yang jomlo? Justru tanggal segitu aku mau ada pertemuan keluarga bareng Mas Calon. Mau nentuin tanggal, nih. Jadi, plis, aku aja yang cuti, ya,” ungkap Dita.
Nyaris semuanya geleng-geleng kepala. Seolah perkataan Dita tak masuk di akal.
“Nentuin tanggal apa, nih?” ulang Arunika bingung. Detik berikutnya dia membekap mulutnya dengan kedua tangan, seolah menyadari sesuatu. “Jangan bilang lo sama dia beneran mau nikah?”
Dita mengangguk sambil mesem-mesem. Pipinya memerah seperti habis ditabok bolak-balik orang.
Rey terlihat mengurut keningnya. “Gini nih, kalo punya temen planger semua. Pusing gue.” Dia lantas menjentikkan jarinya tepat di wajah Dita. “Sadar, Dit. Lo sama Oppa kesayangan lo itu nggak mungkin bersanding di pelaminan. Bangun ah bangun.”
Senyum Dita langsung luntur. Bibirnya mengerucut sebal. “Pada kenapa, sih? Gue serius, mau ngomongin lamaran sama nentuin tanggal nikah. Emang nggak pada percaya?”
“NGGAK!” jawab mereka kompak layaknya suporter bola.
“Suek!”