Amarah Dan Cinta

Yellowflies
Chapter #5

Murka

Handoko mendatap bengis pada Yasnina. Putri kecilnya tidak lagi bisa diatur seperti dahulu. “Mau sampai kapan kamu menolak perjodohan yang ayah lakukan? Kamu sudah tiga puluh dua tahun! Seharusnya kamu sudah menikah!”


“Aku juga sudah bilang berkali-kali bahwa aku tidak mau dijodohkan. Selama ini rasanya sudah cukup aku menuruti segala kehendak ayah. Aku rela mengubur cita-citaku demi membahagiakan ayah, tapi perihal jodoh sekali lagi aku mohon tolong ayah jangan ikut campur.”


“Ayah ini lelaki jadi ayah tahu mana yang baik untuk kamu dan tidak. Kamu mau yang seperti Devan! Dia tidak cocok dengan kamu!”


“Itu karena Ayah selalu melihat dari materi!” sentak Yasnina yang sudah terlalu kesal dengan Handoko. Namun setelahnya mata Yasnina berkaca-kaca, sungguh bukan pertengkaran seperti ini yang dia harapkan. “Ayah, aku sudah dewasa. Biarkan aku memilih jalan hidupku sendiri. Aku tidak mau diatur-atur ayah lagi.’’


“Diatur kamu bilang!? Selama ini apa yang ayah lakukan untuk kebaikan kamu.”


Yasnina menggeleng lemah. Jika dalam sudut pandanga Handoko itu demi kebaikan Yasnina, maka sebaliknya di mata Yasnina itu semua hanya untuk memenuhi ambisi Handoko. Bagaimana dahulu keinginan dan pendapat Yasnina tidak pernah didengar, karena Handoko sudah menentukan segelanya. Yasnina sebagai anak pertama dituntut menjadi sempurna untuk memenuhi apa-apa yang dahulu belum dicapai Handoko.


Sebab sudah tidak ingin berdebat lagi dengan ayahnya, maka Yasnina beranjak. “Aku pulang dulu.”


Handoko ikut berdiri lalu tanpa diduga-duga sebuah tamparan kuat mendarat di pipinya. Nyaring berbunyi ketika kulit tangan Handoko beradu dengan kulit pipinya. “Berani kamu sekarang! Menatang-mentang sudah punya uang sendiri sudah berani kamu menentang ayah!? Mau jadi anak durhaka?!”


Tak pernah mau sekalipun Yasnina sebagai seorang anak mendurhakai orang tuanya sendiri. Bahkan di saat-saat Handoko berlaku kasar padanya pun, Yasnina masih tetap berusaha menjadi anak yang baik. Masih menghormati Handoko menjaga citra ayahnya itu di depan adik-adiknya. Yasnina meradang memegangi pipinya. Rasa panas menjalar, namun tak sebanding dengan rasa sakit hatinya.


“Ayah mau sampai kapan pukulin aku? Apa tidak cukup dengan segala luka yang ayah berikan? Aku hancur karena perlakuan ayah. Sekali saja apa pernah ayah bertanya tentang kebahagianku?” mata Yasnina kian memburam karena genangan air mata di pelupuk siap tumpah. Bersama dengan isakan pertamanya, air mata itu jatuh menyentuh pipinya.


Untuk pertama kalinya Handoko melihat Yasnina menangis saat berdebat dengan dirinya. Tak bisa berkata-kata saat melihat putrinya bersedih karena dirinya. Ada setitik rasa bersalah menggelayuti hatinya, namun cepat tertutup oleh egonya sendiri. “Jangan pernah gunakan air mata untuk dibelaskasihani.”


“Ayah, aku baru saja patah hati, lalu sekarang ayah menambahi. Hatiku sudah koyak, bahkan bernanah sejak lama,” balas Yasnina lalu menyeka air matanya dengan bahu gemetar. Perih rasanya, tapi tetap dia menyambung kalimatnya. “Maaf kalau aku jadi anak durhaka, tapi untuk kali ini aku benar-benar tidak bisa menjadi putri kecil ayah yang selalu menuruti keiinginan ayah seperti dulu.”


Terdiam di tempatnya, Handoko melihat Yasnina yang berlalu dari rumahnya.


***

Lihat selengkapnya