Devan mendatangi kediaman Jeffano sebelum pergi bekerja. Sahabatnya itu membukakan pintu dengan wajah bangun tidurnya, bahkan tak malu menguap di depan wajah Devan. “Lo ngapain pagi-pagi ke sini? Panganten baru tuh diem aja di kamar, enggak usah keluyuran.”
“Gue mau ngomong.”
“Masuk deh,” jeffano membuka lebar pintu apartemennya. Dia berjalan ke pantry mengambil segelas air putih untuknya sendiri. “Lo mau ngopi buat sendiri aja ya. Males gue.”
“Soal kejadian malam itu, yakin lo enggak terlibat?” sekali lagi Devan menanyakan hal yang sama secara berulang pada Jeffano, meski sudah dijawab langsung lewat sambungan ponsel namun Devan tetap memilih bertemu langsung.
“Ya Tuhan! Gue udah bilang berapa kali kalau gue enggak terlibat dalam rencana menjebak lo,” Jeffano menghela nafas lelah. Dia lantas duduk berhadapan dengan sahabatnya itu. “As you know gue memang brengsek, tapi lo juga tahu kalau gue enggak pernah menyeret lo ke hal-hal negatif yang ada di dunia gue.”
Apa yang dikatakan Jeffano memang benar, dan Devan mengakui itu. Selama mengenal Jeffano tak sekalipun Devan terlibat dalam dunia gelap sahabatnya itu. Jeffano perokok aktif, tapi tak pernah mengajak Devan mengikutinya. Kebiasaan Jeffano yang suka mabuk dan bermain di klub malam pun tak pernah membawa-bawa Devan bersamanya. Bahkan saat mabuk parah Jeffano akan memilih orang lain untuk mengantarnya pulang. Melalui semua kebiasaan itu tentu saja Devan jadi tidak bisa lagi menyangkal.
“Apa gue minta rekaman CCTV hotel?”
“Van, lo udah tidur sama Yasnina yang jelas-jelas cinta banget sama lo, tapi tetap melanjutkan pernikahan lo. Itu artinya Yasnina memang enggak pernah berharga buat lo. Jadi buat apa lo cari tahu siapa yang bantu Yasnina? Kan pelakunya juga Yasnina sendiri.”
Devan resah, sangat. “Gue enggak pernah tidur sama wanita manapun sebelumnya, Jeff. Yasnina yang pertama.”
“Yasudahlah… lagian gue yakin lo juga menikmati.”
“Gue berdosa, Jeff. Gue berzinah!” sentak Devan murka.
Jeffano sangat tidak mengerti dengan apa yang Devan rasakan sebenarnya terhadap Yasnina. Jika melihat pada masa lalu, Jeffano merasa Devan ini mencintai Yasnina. Hal tersebut terlihat dari cara Devan memandang dan memperlakukan wanita itu, hanya saja ketika ditanya secara langsung perihal cinta atau tidak, Devan tidak pernah memberikan jawaban gamblang yang pasti pada Jeffano. Itulah alasan dulu mengapa Jeffano meminta Yasnina bersabar, tapi sampai Devan menikah pun rupanya pernyataan cinta itu tak pernah Yasnina dapatkan.
“Bukan salah Yasnina kalau akhirnya dia berbuat hal itu. Lo sendiri kayak orang goblok yang ngasih izin Yasnina masuk ke dunia lo, tapi enggak lo kasih tempat di sana. Yasnina kayak jadi orang nyasar di dunia lo itu.”
“Gue jadi merasa bersalah sama istri gue karena hal ini. Gue merasa sudah menipu dia.”
Jeffano tertawa nyaring hingga membuat Devan mengerutkan keningnya penuh tanya. Sampai tawa itu reda Jeffano berkata kembali. “Lo kasih dengan istri lo? Enggak kasihan sama Yasnina yang bertahun-tahun nemenin lo? Sebenarnya gue enggak menyalahkan Yasnina dalam hal ini, karena lo tahu apa? Salah lo yang enggak tegas dengan Yasnina. Lo enggak kasih Yasnina jawaban, tapi lo juga enggak rela kehilangan dia, dan hal yang enggak gue ngerti lagi adalah kenapa lo tiba-tiba nikah sama Saskia? Dia adiknya si Andi, kan? Cowok brengsek yang dulu hampir memperkosa Yasnina?”