Hal yang tidak Devan duga adalah ternyata klien bosnya itu Yasnina. Mereka bertemu di sebuah restoran untuk membicarakan bisnis sekaligus makan siang bersama. Devan ingin menghindari wanita, tapi dia datang untuk pekerjaan. Meski terpaksa akhirnya Devan mau juga duduk satu meja dengan Yasnina. Sedangkan Yudi sudah menahan tawa sejak tadi.
“Kayaknya lo emang ditakdirkan buat dekat terus sama Yasnina,” Yudi meledek setengah berbisik di telinga Devan. Namun Yudi tetap santai. Pria itu berkata pada Yasnina. “Saya enggak menyangka kalau klien kami hari ini kamu, Yas.”
“Ngomongnya biasa aja, Yud. Enggak usah kaku gitu,” balas Yasnina lalu wanita itu mengalihkan matanya pada Hamis. “Saya kenal mereka berdua, Pak. Jadi saya rasa tidak akan percayakan sepenuhnya pada mereka, tapi tetap seperti yang sebelumnya saya minta. Waktunya tidak lebih dari dua minggu?”
“Dua minggu?” tanya Devan memastikan.
“Iya,” Yasnina mengangguk mantap. “Kami bayar mahal untuk pembuatan iklan kali ini.”
Ucapan Yasnina didukung oleh Hamis. “Kami sudah taken kontrak sebelumnya. Perusahaan Garuda juga sudah membayar setengahnya, sisanya akan dibayar setelah proses pembuatan iklan selesai.”
Devan terdiam sejenak. Dia sudah menjanjikan akan pergi ke tanah suci bersama Saskia di akhir bulan, sedangkan akhir bulan hanya tinggal lima hari lagi dan dia harus mengerjakan project tersebut dalam waktu dua minggu. “Bapak tahukan kalau saya ada cuti akhir bulan ini?”
“Lima hari lagi, selama ini kamu bisa fokus untuk membuat design iklan. Hal yang lain-lain kan dibantu oleh tim, lagi pula ada Yudi. Saya pastikan ini tidak akan mengganggu jadwal cuti kamu.”
Yasnina mendengarkan apa permasalah mereka, dia tersenyum kemudian berkata. “Pak Hamis kalau dia enggak sanggup, project-nya bisa dikerjakan oleh yang lain saja. Tidak harus dia.”
Hamis menjawab. “Bagian design yang lain sedang penuh untuk sebulan ke depan. Tim Devan yang bulan ini sedang sedikit longgar.”
“Oke, kalau begitu itu menjadi urusan kalian. Saya hanya mau tahu kalau dalam dua minggu iklan saya sudah selesai,” Yasnina beranjak dari kursinya. “Saya sudah bayar makanannya. Terima kasih Pak Hamis, saya permisi dulu.”
Yasnina berlalu lebih dulu, namun meninggalkan kekesalan pada diri Devan. Wanita itu akhir-akhir ini menjadi sangat menyebalkan. Tidak ada lagi Yasnina yang manis dan lemah lembut seperti dulu. Yasnina terasa asing dan begitu angkuh sekarang. Devan merasa tercubit atas perubahan Yasnina, mungkin semua ini karena dirinya yang selalu mengabaikan perasaan Yasnina.
“Udahlah, habisin makanannya.” kata Yudi yang lebih memilih menyantap makan siangnya.
Devan memilih beranjak beralasan akan ke kamar kecil, namun yang dia lakukan justru ke arah pintu keluar mengejar langkah Yasnina. Saat di tempat parkir Devan menahan tangan Yasnina agar berhenti melangkah. Tentu saja hal tersebut membuat Yasnina sedikit tersentak seraya berbalik dan mendapati Devan berdiri menatapnya di sana.
Yasnina menghempaskan tangan Devan dari pergelangan tangannya. “Apa lagi?” tanyanya sengit.
“Kamu sengaja minta perusahaanku untuk buat iklan? Sekelas Garuda Pusaka kenapa harus lari ke perusahaan kecil?”
“Tahun ini banyak produk baru yang akan launching, dan beberapa partner perusahaan periklanan kami sudah menangani beberapa project lainnya. Tawaran yang perusahaan kamu terima itu karena partner kami yang lain tidak menyanggupi untuk menambah project iklan dari perusahaan kami, mengerti kamu?”