Andi pria itu melihat Yasnina, hendak mendekati namun Yasnina buru-buru memutar langkahnya menjauhi pria itu. Jelas saja Yasnina takut, Andi adalah pria yang pernah membuatnya trauma di masa lalu. Rasanya menyakitkan melihat pria itu, ditambah lagi dengan Devan yang memilih menikahi adik dari pria yang pernah melecehkannya itu. Ada rasa berhak marah yang tersemat dalam hati Yanina pada orang-orang yang menyakitinya.
“Apa kita bisa bicara?”
Pertanyaan itu membuat Yasnina langsung mematung. Belum sampai dia ke meja kasir untuk membayar belanjaannya, Andi sudah menghadang langkahnya. Berusaha sekuat tenaga Yasnina memutar tubuhnya, menatap dengan sorot kebencian yang terlalu. “Anda enggak punya hak untuk bicara dengan saya.”
“Saya merasa berhak sebagai kakak dari Saskia.”
Yasnina kembali berbalik, melangkah menuju kasir. Andi mengikutinya. Sialnya kasir siang hari ini penuh. Kembali Andi bicara di belakang Yasnina. “Saya tahu kamu pasti marah saat Devan menikahi adik saya, tapi sebagai wanita kamu harus sadar kalau sekarang Devan sudah beristri. Jadi jangan mendekatinya lagi,” jelas Andi lalu sedikit membungkuk dan berbisik di sisi wajah Yasnina. “Atau saya akan membuat kamu menyesal.”
Detak jantung Yasnina kencang bukan main. Bagaimana pun sisa-sisa traumanya masih sangat nyata. Suara Andi sangat menjijikan didengar telinganya, hanya saja untuk saat ini menjadi lemah adalah bukan piliha. Yasnina kembali berbalik, menatap Andi tanpa rasa takut. Senyum sinis mengembang di bibirnya.
“Lo yang akan menyesal karena berhadapan dengan wanita yang terluka.”
“Enggak usah sok kamu.”
“Ternyata benar dugaan saya. Seseorang enggak akan berubah dengan cepat, meski dibalut dalam kata taubat.”
Antrian berkurang, Yasnina mendekati meja mengeluarkan belanjaannya. Andi tetap berdiri di belakangnya dengan memegang sebotol air mineral. Arlan datang menghampiri Yasnina, dia melihat apa yang terjadi di dalam lewat pintu kaca swalayan. Pemuda itu mengambil beberapa botol minuman bersoda, lalu meletakannya di meja kasir.
“Sekalian ya, Kak.” katanya yang berdiri di sisi Yasnina.
Ada perasaan lega karena kehadiran Arlan. Yasnina mengangguk kemudian. Sedangkan Arlan menatap Andi penuh curiga. “Kayaknya saya pernah lihat Anda, em… ah! Iya benar, malam itu saya melihat Anda di Vodsma, temannya bang Rajata, kan?”
Tentu saja hal itu membuat Andi menegang. Bagaimana mungkin pemuda itu mengetahui dirinya ada di klub malam. “Maaf, saya enggak kenal Anda.”
“Ya memang, tapi saya tahu Anda itu temannya bang Rajata,” lalu Arlan mendekati Andi melakukan hal yang sama seperti yang Andi lakukan pada Yasnina. Berbisik di sisi wajahnya dengan sangat dekat. “Andi Januar Fuadi pelanggan VVIP Vodsma Club.” lalu Arlan menjauh, dan kembali berkata dengan tenang. “Kalau Kiayi Mansyur tahu kira-kira gimana ya reaksinya? Atau misalnya media tahu?”
Setelahnya Arlan berlalu, mengikuti langkah Yasnina yang keluar dari swalayan meninggalkan Andi yang mematung di tempatnya. Sialan! Bocah dengan seragam SMA itu tahu rahasianya. Arlan anak SMA yang luas pergaulannya, namun tetap saja menyisakan tanya bagi Yasnina.
“Kamu ngomong apa sama dia?”
“Urusan lelaki. Kakak enggak usah takut lagi, Arlan bisa jagain kakak.”