Saskia buru-buru menghampiri pintu dan membukanya ketika melihat mobil Devan masuk ke pekarangan rumah. Wanita itu cemas menyambut kedatangan suaminya. Tanpa menunggu Devan datang mendekat, Saskia sudah lebih dulu mendekat. Wanita berjilbab merah muda itu berdiri di dekat mobil melihat Devan yang keluar dengan wajah kusut. Tidak seperti gambaran pengantin baru yang seharusnya sumringah cerah aura wajahnya.
“Mas Devan kenapa baru pulang? Aku kirim chat dan telepon, tapi enggak dibalas.” Saskia merengek seperti anak kecil.
Kening Devan berkerut melihat tingkah istrinya, lalu membandingkan dengan Yasnina dahulu. Wanita itu ketika dirinya datang tidak akan merengek seperti Saskia, justru Yasnina akan tersenyum padanya, memberikan minum atau apapun yang membuat suasana hatinya yang semula resah menjadi tenang. Ingat itu membuat Devan buru-buru beristigfar dalam hati karena bagaimana pun yang dihadapinya sekarang adalah Saskia. Istrinya.
“Maaf, Mas tadi lembur. Belum sempat buka-buka ponsel,” balas Devan dengan seulas senyum. Mendekati Saskia dan mencium keningnya hangat. “Ini buat kamu.” setelahnya Devan memberikan sate yang dibelinya pada sang istri.
“Terima kasih Mas, tapi aku khawatir.”
“Enggak usah khawatir, Mas baik-baik saja.” Devan membawa Saskia masuk. Melihat istrinya itu sudah mulai lega rupanya.
“Mas sudah makan malam? Tadi aku masak iga bakar, Mas suka enggak?”
“Suka. Apapun yang kamu masak, pasti Mas makan.”
Lantas Saskia mengambil alih tas di tangan Devan segera membawanya masuk. Membawanya ke kamar, dan meletakannya di atas tempat tidur. “Mas mau mandi dulu?”
“Boleh.”
“Pakai air hangat ya, soalnya sudah malam.”
“Iya.” balas Devan memperhatikan istrinya itu masuk ke kamar mandi. Membiarkan Saskia melayaninya.
Tak lama Saskia kembali. “Sudah aku siapkan.”
“Terima kasih.”
Devan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Saskia menyiapkan pakaian ganti untuk sang suami. Penuh cinta dan cekatan Saskia menyiapkan pakaian terbaik yang sudah dia rapikan dan diberi parfum pakaian yang paling wangi. Meletakan pakaian itu dengan hati-hati di atas tempat tidur, lalu mengambil tas kerja Devan yang sebelumnya berada di sana dan membawanya ke meja kerja.
Sambil menungu suaminya selesai mandi Saskia menyiapkan makan malam mereka. Rasanya sangat menyenangkan bagi Saskia menjadi istri dari Devan. Pria yang diam-diam selama ini dicintainya, namun Saskia terhalang oleh keberadaan Yasnina yang selalu dekat dengan Devan. Tak berani Saskia mendekati Devan saat itu. Namun siapa sangka sekarang dia bisa menang dari Yasnina tanpa bersusah payah mendekati Devan.
“Kotak makannya mana ya?” tanya Saskia pada dirinya sendiri saat menyadari Devan pulang tak membawa tas bekalnya. Mengabaikan hal tersebut, Saskia kemudian membuka kantong plastik berisi sate yang dibeli Devan. Sedikit kecewa karena satenya hanya menggunakan bumbu kecap dengan irisan bawang dan cabai rawit.
“Kenapa?” tanya Devan yang sudah selesai mandi.
“Enggak ada bumbu kacangnya?” tanya Saskia dengan cengiran khasnya.
“Nanti mas belikan dengan yang pakai bumbu kacang.”
“Sebenarnya enggak harus, karena aku juga enggak terlalu suka makan daging-dagingan, tapi yang ini bakal aku habiskan.” balas Saskia tersenyum.