Kabar eyang yang jatuh sakit sampai ke telinga Devan. Pria itu datang ke rumah orang tuanya untuk menjenguk eyang yang katanya sangat susah untuk dibujuk ke rumah sakit. Biasanya eyang akan menurut pada Devan, namun rupanya saat Devan datang dan membujuk pun tidak berhasil. Eyang tetap menolak dibawa ke rumah sakit.
“Yasnina, dimana dia?” tanyanya pada Devan yang duduk di sisi tempat tidur eyang.
“Yasnina kerja, Eyang.”
“Apa kamu enggak kerja juga? Biasanya kamu berangkat dengan Yasnina.” Eyang berkata dengan suara rentanya yang khas.
Devan melirik sang istri yang tampak tak nyaman dengan situasi mereka. “Devan pergi ke kantor setelah Eyang ke rumah sakit. Jadi sekarang Eyang mau, kan?”
Eyang sudah seperti anak kecil yang merajuk. Alih-alih mendengarkan permintaan Devan, hal yang eyang lakukan justru menyimpan kacamatanya dan yang semula bersanda pada headboard tempat tidurnya kini eyang merebakan tubuhnya. Menarik selimut untuk menutupinya, lalu membelakangi Devan. Ada helaan nafas yang keluar dari mulut Devan melihat tingkah eyangnya itu.
Suara langkah kaki mendekat terdengar. Devan menoleh melihat siapa yang masuk ke kamar eyang. Dia adalah Yasnina. Wanita itu datang rupanya dengan membawa rantang enamel di tangannya. Yasnina langsung menghampiri eyang, duduk di dekatnya dan mengusap-usap lembut punggung renta eyang. Yasnina mengabaikan keberadaan Devan dan Saskia di sana.
“Eyang, ini Yasnina.”
Mata eyang terbuka. Wanita sepuh itu melihat Yasnina, namun untuk lebih jelas dia mencari kacamatanya. Yasnina dengan sigap mengambilkan kacamata eyang, dan membantunya memakaikan kacamata tersebut. “Sama siapa ke sini?”
“Bawa mobil sendiri, dan Yasnina bawa bubur ayam kesukaan Eyang,” Yasnina mengambil rantangnya. Memisahkan satu persatu wadahnya. “Kata mama, Eyang belum sarapan. Jadi Yasnina buatkan sarapan untuk Eyang. Disuapin ya?”
Eyang mengangguk.
“Terus habis habis sarapan kita ke rumah sakit.”
“Kamu ikut?”
“Tentu,” balas Yasnina dengan seulas senyum. “Nah, ini dia bubur ayam, tapi enggak pakai ayam.”
Eyang dan Yasnina tertawa kecil. Bubur ayam kesukaan eyang adalah tanpa suiran daging ayam. Berasnya dimasak dengan kaldu ayam, diberi bumbu hingga harum aromanya. Yasnina juga menambahi daun bawang tumis kesukaan eyang, lalu kerupuk kuning. Begitu saja sudah enak bagi eyang. Satu suapan masuk ke mulut eyang. Hal itu tentu saja membuat Saskia dan Devan takjub. Mereka sudah membujuk eyang sejak tadi, namun yang berhasil adalah Yasnina yang baru saja datang.
Terselip perasaan cemburu dalam hati Saskia. Devan menyadari hal tersebut, lalu pria itu memilih berdiri menghampiri istrinya. Dia meraih tangan Saskia untuk dibawa ke luar kamar membiarkan Yasnina selesai dengan eyang. Tanpa Devan sadari Yasnina melihatnya lewat ekor mata, melihat dengan terluka pada tautan tangan mereka. Tapi, Yasnina kembali tersenyum saat kembali menyuapi eyang.