Amarilis

Centrifugal
Chapter #1

Perjalanan 1 - STRAJER

Hancur, itulah satu kata untuk menggambarkan Kerajaan Morgunter. Kerajaan yang kurang dikenal namanya, tetapi sangat berpengaruh besar dalam perburuan monster yang membahayakan ekosistem. Strajer, itulah nama dari kesatria pemburu monster tersebut. Dengan pelatihan dan persenjataan khusus, mereka berhasil menaklukkan banyak monster dan memperbaiki ekosistem yang rusak menjadi semula. Namun, di suatu hari yang sangat damai, muncullah monster yang sangat berbahaya. Monster ini muncul tanpa tanda. Dengan mulutnya yang besar monster ini mencoba melahap satu kerajaan. Hal ini tentu saja tidak mudah. Strajer yang sudah sangat terlatih berhasil mengevakuasi penduduk dan memancing monster itu keluar jauh dari kerajaan. Raja kerajaan ini mengetahui bahwa ancaman ini merupakan hal yang belum pernah dihadapi. Tanpa pikir panjang sang raja mengerahkan semua kekuatan Strajer untuk membasmi monster ini.

Monster ini berwarna putih, terbang tanpa sayap, dan memiliki rahang yang sangat besar. Sangat besar sehingga satu kerajaan sepertinya bisa dilahap dalam satu kedipan mata. Para Strajer bertarung dengan monster ini dari pagi hingga malam, tetapi hasilnya tetap sama saja. Sudah berapa kali mereka menyusun strategi, tetapi tidak ada yang berhasil. Tidak lupa juga banyak korban yang berjatuhan. Pertarungan ini terus berlangsung selama berhari-hari hingga akhirnya para Strajer tumbang dan Kerajaan Morgunter hancur dihadapan monster ini. Kerajaan Morgunter dibangun dan hancur tanpa sepengetahuan siapapun. Tidak ada sejarah yang tercatat dalam buku, gulungan, atau tulisan apapun yang menyebut kerajaan ini dan para kesatria perkasanya.

Namun, ada satu Strajer yang selamat. Diantara reruntuhan, berdirilah figur pria dengan baju zirah yang sudah hancur akibat pertarungan yang dahsyat. Satu kesatria Strajer selamat. Dia melihat sekitarnya yang sudah hancur dan rekannya yang sudah tumbang. Rasa penyesalan, rasa bersalah, rasa kekecewaan semuanya bercampur aduk. Entah sudah berapa hari dia mencari dan mengubur semua jenazah yang bisa ia temukan, mulai dari rekannya, rakyat biasa, hingga keluarga bangsawan termasuk raja. Dia duduk, melihat ke atas langit-langit yang penuh bintang dengan ekspresi yang penuh penderitaan. Air mata tidak mengalir, tetapi kerutan keningnya menunjukkan betapa lelahnya dia dengan semua ini.

Pagi sudah tiba tanpa dia rasakan. Dia kemudian memutuskan untuk pergi dari kerajaan tersebut. Sebelum dia pergi, dia melihat tombak yang masih tertancap di tanah. Sebuah tombak yang masih tajam, tetapi terlihat sangat usang karena peperangan. Dia mencabutnya dari tanah lalu membawanya untuk digunakan dia sebagai senjata…, atau tongkat berjalan. Dia terus berjalan tanpa arah, tujuan, dan arti. Rasa lapar dia tahan. Rasa sakit dia tahan. Semua beban dia pikul dalam perjalanannya tanpa henti. Jalan, jalan, dan terus berjalan hingga pandangan dia kabur. Hal yang terakhir ia lihat sebelum kehilangan kesadaran adalah pepohonan yang sangat hijau dan subur.

.

.

.

Terdengar suara nyanyian samar-samar. Suara Perempuan yang merdu didampingi dengan suara benda yang berbenturan dan juga suara air yang mendidih.

Strajer yang kehilangan kesadaran tadi perlahan bangun dan melihat sekitar. Dia terbangun di rumah atau bisa dibilang gubuk kayu. Dia melihat perempuan dengan rambut berwarna hitam dan mengenakan pakaian yang biasa dipakai orang untuk berkebun.

Perempuan itu menoleh ke arah Strajer yang sudah sadar. “Jangan bangun terlebih dahulu,” katanya dengan cepat langsung berdiri dan membaringkan kembali Strajer, “kau kekurangan nutrisi, jadi jangan bangun. Tunggu aku selesai memasak ini. Jangan gerakan apapun dan berbaring saja,” suruh perempuan ini dengan nada suara yang lembut layaknya udara yang melewati pepohonan di pagi hari.

Strajer terlihat banyak pertanyaan, tetapi karena kondisi tubuhnya sangat buruk dia tidak bisa mengeluarkan suara bahkan membuka mulutpun dia kesusahan. Dia merasa tidak berdaya, tetapi dia bisa melihat dan merasakan semuanya. Dia merasakan bagaimana perempuan ini mengganti posisi tubuhnya supaya bisa makan dengan mudah. Perempuan ini menyuapi makanan yang dia buat. Pada awalnya Strajer kesusahan hingga menelan makanan tersebut, tetapi setiap makanan yang masuk ke dalam mulutnya perlahan membangkitkan tekad hidupnya. Dia merasakan bahwa dirinya tidak ingin mati. Perlahan dia semakin lancer untuk menelan makanan tersebut. Dia terus menelan hingga akhirnya satu porsi makanan habis.

“Aku tidak menyangka dengan kondisi tubuh seperti itu kau bisa menghabiskan satu porsi sup ini,” reaksi perempuan ini dengan senyuman, “sekarang beristirahatlah, kau perlu waktu untuk memulihkan tenagamu.”

Tanpa Strajer sadari, perkataannya membuatnya tertidur.

.

.

.

Beberapa hari berlalu, Strajer akhirnya bangun. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya mulai dari leher, bahu, lengan, hingga kaki. Dia merasa segar, seperti rasa lelah yang dia lalui belakangan ini tidak pernah terjadi.

“Kau sudah bangun,” kata perempuan yang terlihat baru masuk dari pintu gubuk ini. Dia berjalan mendekat ke arah Srajer. Dia memegang dagu Strajer kemudian memutar ke kanan dan ke kiri, sambil melihat kondisi wajahnya. “Sepertinya kau sudah membaik,” kemudian dia mengambil air yang ada di dalam kendi dan ditaruh di cangkir kayu. “Minumlah.”

Strajer meminum air tersebut. “Terima kasih,” jawab Strajer dengan suara yang kurang bertenaga. “Sudah berapa hari aku tertidur?”

“Jika kau menghitungnya dari awal aku memungutmu, sekitar satu minggu lebih lima hari. Jika kau menghitungnya ketika kau setengah sadar, maka itu lima hari,” balas perempuan ini sambil menyiapkan tungku untuk memasak.

Strajer terlihat tidak terlalu terkejut dan hanya menatap ke arah tembok gubuk kayu ini.

“Temani aku bicara, selagi aku memasak,” katanya sambil menyalakan api. “Jadi, kau berasal darimana? Mungkin pulau apa, kerajaan apa, atau apapun itu.”

Strajer diam sejenak untuk mengingat kembali siapa dia. “Aku berasal dari Kerajaan Morgunter.”

Perempuan ini melihat Strajer yang terlihat kesulitan untuk mengingat sesuatu. “Aku baru pertama kali mendengar kerajaan itu. Bahkan aku tidak pernah mendengarnya dari mulut orang lain atau buku manapun.”

Strajer mencoba mengingat sambil melihat ke arah tombak yang ada di belakang pintu gubuk ini. “Tombak itu…, apakah milikku?” Tanya dia karena teralihkan.

“Oh itu, ya itu milikmu. Tapi, jika dilihat-lihat semua perlengkapanmu mulai dari senjata dan baju zirahmu yang sudah rusak itu, aku belum pernah melihatnya.”

Perlahan ekspresi Strajer berubah seperti semua ingatannya perlahan kembali. “Aku ingat. Aku adalah Strajer. Prajurit khusus dari Kerajaan Morgunter.”

“Oh, ya? Menarik. Apa yang kau lakukan di sana?”

“Aku memburu monster.”

“Hmm, monster. Kau pasti sangat kuat dan Strajer merupakan nama yang unik. Sebagai orang yang sudah hidup sangat lama, aku baru mendengar kerajaan itu dan Strajer.”

Lihat selengkapnya