Amarilis

Centrifugal
Chapter #2

Perjalanan 2 - GELOMBANG

Strajer sampai di pelabuhan dengan selamat. Di sana dia mencari dermaga dimana ia bisa menukar uangnya untuk naik kapal. Setelah beberapa saat mencari, dia menemukan antrian yang sepertinya mengarah ke dermaga. Dia masuk ke antrian tersebut, hingga akhirnya giliran dia untuk memberikan sepuluh keping perak yang diberikan oleh Delilah kepada salah satu penjaga yang bertugas di situ.

Salah satu penjaga itu melihat ke arah tombak yang dibawa Strajer. “Senjatamu tolong berikan padaku!” Suruh penjaga ini. Strajer kemudian memberikan tombaknya yang kemudian ditaruh di kotak yang ada di belakang penjaga tersebut.

Strajer kemudian diperbolehkan masuk ke dalam kapal. Dia kemudian diarahkan ke ruangan dimana dia beristirahat oleh salah satu penjaga.

“Terima kasih,” kata Strajer sambil menunduk kepalanya yang kemudian dibalas juga dengan gestur yang sama oleh penjaga tersebut. Dia menaruh tasnya di samping tempat tidurnya. Dia memegang kepala dengan keduanya tangannya seolah-olah ingin melepas helm. Tapi dia lupa bahwa dia sudah tidak mengenakan zirah kesatrianya. Dia lupa bahwa baju zirahnya sudah hancur dan tidak layak pakai. Kebiasaan lama memang susah hilang, pikir Strajer sambil mengusap dahinya. Dia akhirnya memutuskan untuk membaringkan badannya di atas kasur dan memejamkan matanya. Tanpa dia sadari, ia tertidur dengan pulas.

DUUUK! Terdengar suara benturan yang sangat kencang.

Strajer tiba-tiba terbangun dengan perasaan terkejut. “Suara apa itu?” Tanya dia sementara kapal yang dia tumpangi dipenuhi dengan suara hentakan kaki seperti orang sedang berlari. Dia penasaran lalu mencoba keluar untuk melihat apa yang terjadi. Setelah membuka pintu, dia melihat banyak sekali orang yang terlihat panik sedang berlarian ke ruangan yang sepertinya mengarah ke ruangan penyimpanan barang.

Strajer memberhentikan satu orang yang berlari. “Apa yang terjadi?” Tanya Strajer dengan wajah yang penuh waspada.

“A-Ada monster,” jawabnya dengan ketakutan. Setelah itu dia langsung menghempas tangan Strajer dan lanjut lari ke ruangan penyimpanan barang itu.

Monster? Pikir Strajer sambil melihat ke arah jendela kamarnya yang mengarah ke laut lepas. Karena penasaran dia langsung pergi ke atas kapal untuk melihat apa yang terjadi. Dia berjalan melewati puluhan orang yang panik berlarian berlawanan arah dengannya.

Akhirnya dia sampai di atas. Dia melihat monster laut yang besar, sementara para penjaga kapal sedang menyerang dengan cara menembakkan meriam kapal, melempar harpun, dan ada beberapa ahli rapal untuk mengendalikan badai supaya kapal tetap stabil.

Pada situasi ini, Strajer diam. Dia teringat dengan monster yang menghancurkan kerajaannya. Dia meragukan dirinya, apakah dia masih bisa memburu monster seperti dulu?

“APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI? PERGI SANA KE RUANGAN BAWAH!” Teriak salah satu penjaga yang membawa amunisi meriam sambil menyenggol Strajer yang terdiam.

Strajer langsung tersadar. Dia melihat banyak wajah yang penuh ketakutan, khawatir, dan putus asa. Semua orang memiliki perasaan yang sama sepertinya, tetapi hanya dia di sini yang memiliki pengalaman memburu monster. Dia menenangkan pikirannya dan pergi ke arah prajurit yang sedang melempar harpun.

“KAU TAHU DIMANA KAPTEN KAPAL INI?” Tanya Strajer sambil berteriak karena badai di sini sangat kencang.

“APA?” Balas penjaga tersebut karena tidak terdengar.

“KAPTEN DIMANA?” Tanya Strajer lagi dengan pertanyaan lebih singkat.

“ITU,” katanya sambil menunjuk ke arah orang yang terlihat sibuk memberikan instruksi.

Lihat selengkapnya