Jakarta, Indonesia, 2026
Rizal membuka buku catatan lamanya.
Medan, 1990
Ini kisah yang tak biasa. Namun, pantang menyebutnya luar biasa.
Tentang bumi Melayu yang merana berselimut kabut gelap, padahal nun jauh di atas sana, angkasa merona berhias gemerlap bintang.
Kau akan menemukan perasaan yang seharusnya tak hadir bersamaan. Bukankah bangga dan malu atau bahagia dan marah tak mungkin mengisi hati pada waktu yang sama?
Kisah ini kutulis berdasarkan cerita seorang laki-laki tua yang menuturkan pengalaman masa lalunya.
Sebagian perjalanan hidupnya kutemukan tercatat dalam buku-buku sejarah, sebagian lainnya yang tidak tercatat, juga menyisakan jejak nyata yang bisa kita telusuri.
Namun, sayangnya nama lelaki tua itu tak dikenang, sirna bersama negeri yang menaunginya.
Awalnya aku kecewa pada para penulis sejarah. Namun, usai dia bercerita, kupikir memang sebaiknya begitu.
Rizal
***
Sungai Jaring Alus, Secanggang, Kesultanan Langkat, 1923
Seorang nelayan tua bersama seorang bocah menaiki sampan kecil yang tertambat di pinggir sungai. Warga Kampung Secanggang biasa memanggil nelayan itu dengan sebutan Atuk Deroen.
Tanggalkan sauh simpan di peti.
Biduk mengapung jauhi tepi.
Tengoklah waktu bagai berhenti,
Rupanya malam menahan pagi.
Setelah menyalakan lampu minyak, Atuk Deroen mengayuh sampannya. Sebuah pantun mengalun dengan irama lagu sembarang, mengiringi perjalanan menyusuri sungai sempit yang berkelok-kelok menuju laut lepas.
Atuk Deroen berdendang untuk menenteramkan hati cucunya yang duduk di buritan depan, meskipun bocah bernama Irwansyah itu tampak tenang. Ia justru menikmati suasana hutan gelap yang terbelah oleh aliran sungai, serta suara-suara asing para penghuninya.
Bukan hendak berlaku kejam, melainkan sekadar memberi bekal kehidupan. Atuk Deroen terbiasa mengasah mental cucunya yang sejak masih merangkak telah menjadi yatim piatu.
Bukan pula hendak mendahului garis takdir. Namun, seseorang harus pandai berhitung dalam menjalani hidup. Atuk Deroen merasa usianya telah mendekati ujung senja.
Apabila tiba waktunya menutup mata, ia berharap cucunya memiliki keteguhan hati seorang lelaki dewasa untuk menjalani hidup sebatang kara.
Bukan dukun, apalagi tukang tenung. Namun, nasihat-nasihat Atuk Deroen tentang hari esok sering menjadi kenyataan daripada meleset, sehingga orang-orang kampung menganggapnya sebagai "orang pintar".
Kayuh digenggam membelah air.
Terdengar syahdu memecah sunyi.
Nelayan tua lantunkan syair.
Hati yang sendu bawa bernyanyi
Suara benturan air yang tak seirama dengan ayunan kayuh membuat Atuk Deroen menghentikan senandung. Matanya menyipit, mengamati permukaan sungai yang masih dijangkau cahaya. Tampak riak-riak air bergerak melawan arus menuju sampan.
“Siape rupanye yang nak mengawal kami ni? ” tanya Atuk Deroen.
Sesaat kemudian, seekor buaya besar muncul, mendongakkan kepala ke permukaan sungai. Taringnya tampak tajam menyeringai.
"Oh... engkaulah rupenye. Sesama kerabat Hang Tuah.” Atuk Deroen terkekeh.
Kedua insan di atas sampan tak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Atuk Deroen malah kembali bersenandung sambil menepuk-nepuk perlahan sisi sampan. Sementara itu, Irwansyah memandangi buaya seolah hanya melihat sebatang kayu yang hanyut terbawa arus.
Buaya itu memang mendekat, tetapi tidak mengganggu. Seolah-olah ia hanya ingin memastikan siapa yang melintasi wilayah kekuasaannya.
Tersebut sudah dalam hikayat.
Laksamana Hang Tuah setia amanah.
Menjunjung harkat juga martabat.
Jangan Melayu buang zuriat
***
Laut Selat Malaka
Atuk Deroen mengamati langit sambil mengarahkan layar, sehingga angin menghembus sampan ke arah tengah laut yang diinginkan. Sepanjang berlayar ia menjelaskan kebiasaan nelayan melaut, sementara Irwansyah hanya diam mendengar. Sampai di bagian laut yang dituju, Atuk Deroen menguncupkan layar.
“Sejak awal, kau tak banyak cakap. Risau?”
"Ape nak Irwan cakap, Tuk? Sejak awal semue nampak gelap."