Ambang Senja - Ujung Sejarah Melayu Deli dan Langkat

indra wibawa
Chapter #2

Bab 2. Uluran Tangan Sang Bangsawan

Medan, Kesultanan Deli, 1924

Kepinding kecil disambar elang.

Lalu jatuh di Inderagiri.

Bile nasib dibawe orang.

Pandai-pandailah membawe diri.

Senandung pantun nasihat Atuk Deroen kembali terngiang di benak Irwansyah. Kini, maknanya benar-benar menjadi kenyataan. 

Baru semalam ia dijemput dari perkebunan untuk tinggal di rumah Tengku Rasyid. Pagi ini, ia dan Tengku Sani yang seusia dengannya diajak berkeliling Kota Medan dengan mobil yang dikemudikan Pak Cik Bujang, sopir keluarga Tengku Rasyid.

Sepanjang perjalanan, Irwansyah lebih banyak diam. Matanya sibuk menyapu setiap sudut kota yang sangat berbeda dari kampung halamannya. Di sampingnya, Sani tertidur pulas. Bocah itu sudah terbiasa dengan hiruk-pikuk Medan, mereka juga baru saja berkenalan sehingga belum cukup akrab untuk saling mengobrol.

Matahari baru merayap naik, tetapi Kota Medan telah menggeliat. Para pemilik rumah toko membuka papan-papan penutup di lantai dasar bangunan yang sekaligus menjadi tempat tinggal mereka.

Di depan sebuah toko bercat merah dengan papan bertulis Tsim Sha Tsui, seorang pedagang keturunan Tionghoa menyalakan dupa. Tak jauh dari sana, pemilik kedai berketurunan India menyuruh anak buahnya mengantarkan teh tarik dan roti cane kepada para petugas KNIL yang berdiri di persimpangan. Para penjaga keamanan yang berlogat khas orang Hindia Belanda di kawasan timur itu menyambut hidangan wangi aroma rempah dengan wajah sumringah.

Tak lama kemudian, laju mobil terhenti. Deretan sado yang mengangkut penumpang pribumi memenuhi jalan. Seorang pedagang berlogat Minang yang baru turun dari sado sibuk mengatur para kuli memindahkan barang dari pedati ke tokonya. Para pedagang pikul berjalan tertatih-tatih sambil sigap menghindari benturan dengan para kuli. Beberapa di antaranya saling berseru dalam bahasa Jawa.

Begitu melewati persimpangan, mobil kembali berhenti. Kali ini, sebuah kereta api melintas.

Tuuut!

Jes! Jes!Jes!  

Irwansyah terpaku menatap rangkaian gerbong panjang yang belum pernah dilihatnya. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti laju kereta hingga menghilang dari pandangan. Tingkah bocah itu membuat Pak Cik Bujang terkekeh.

Tiiin! Tiiin! 

Klakson sebuah mobil milik orang Belanda memekakkan telinga. Rupanya, mobil mereka masih menghalangi jalan setelah kereta lewat.

Semakin jauh meninggalkan pusat kota, bangunan-bangunan bertingkat mulai berganti dengan kawasan permukiman kaum berada. Rumah-rumah panggung khas Melayu berdiri anggun di balik halaman yang luas, dinaungi pepohonan rindang.

Pak Cik Bujang sengaja memperlambat laju mobil agar Irwansyah mengenali kawasan rumah Tengku Rasyid. Padahal, andaikata ditinggalkan sendirian di tengah kota sekalipun, Irwansyah pasti dapat menemukan jalan pulang. Di tengah lautan saja ia mampu menghafal arah, apalagi hanya di daratan.

Beberapa sepeda kumbang yang dikayuh para pemuda berpakaian rapi melintas dari arah berlawanan.

“Siape orang-orang tu, Pak Cik?” tanya Irwansyah.

Pak Cik Bujang melirik melalui kaca spion. “Alamak. Pak Cik tunjukkan kote yang ramai motor, kau tak besuare. Melihat orang mengayuh kerete angin, malah bertanye. Kenape rupenye orang-orang tu?”

“Nampak macam orang pandai.”

“Oh. Mereke memang pemude-pemude pandai. Beberape berasal dari keluarge miskin yang disekolahkan Sultan Deli. Biasanye, yang paling pandai akan dikirim ke Belande untuk melanjutkan pelajaran.”

“Ape Irwan boleh bertemu Sultan?”

“Hah? Untuk ape?”

“Nak tanye ape yang harus dibuat supaye Sultan nak menyekolahkan Irwan.”

Pak Cik Bujang tertawa kecil. “Oh, kau harus jadi anak pandai lah.”

“Tapi, Pak Cik. Macam mane Irwan bise pandai bile belum sekolah?”

“Eh... betul pulak.” Pak Cik Bujang menggaruk kepala yang tidak gatal. “Hmm... mane yang harus dulu? Sekolah atau pandai?”

“Itulah sebab Irwan nak langsung tanye pade Sultan.”

“O, Mak!”

“Ape soal, Pak Cik? Ape orang bodoh tak boleh bertemu Sultan?”

Mulut Pak Cik Bujang menganga. Ia benar-benar kehabisan jawaban.

“Entahlah, Nak. Pak Cik ni pun tak pandai menjelaskan soal tu. Bile pandai, tentulah dah jadi guru macam orang-orang yang naik kerete angin tadi.”

“Oh... orang pandai bise jadi guru. Ape juge bise jadi Sultan?”

Pak Cik Bujang pura-pura bersenandung. Namun, dari kaca spion ia melihat Irwansyah masih menatapnya, menunggu jawaban.

“Dengar, Irwan. Kate orang tue jaman dulu, tak boleh banyak tanye di dalam motor. Bise ditelan hantu.”

“Ah, Irwan tak takut pade hantu, Pak Cik.”

“Hah? Kau tak takut, tapi Pak Cik yang takut. Cemane?”

Irwansyah mengangguk pelan.

Pak Cik Bujang mengembuskan napas lega. Anak siapelah ni? Bijak betul.

“Dah sampai waktunye kite menjemput Entunye Sani. Dengar pesan Pak Cik. Bile nanti nampak Sultan, jangan pulak kau dekati. Ape lagi bertanye.”

“Ape soal Sultan tak mau jumpe dengan seorang anak yang tak jahat?”

Hajap betul budak ni. Pak Cik Bujang berpikir keras. Sesaat kemudian, matanya berbinar seolah menemukan akal. “Ah, ini rahasie. Jangan bilang pade siapepun. Bise berjanji?”

“Janji, Pak Cik.”

“Sultan tu diam-diam biase mengunyah anak kecik,” katanya sambil memasang wajah seseram mungkin. “Biasanye die menyuruh pengawal menangkap budak yang degil, lalu merebusnye dalam kuali. Ha! Jangan sampai kau dibuat gulai untuk makanan Sultan.”

Irwansyah justru tertawa lepas.

“Pade buaye, Irwan tak takut. Apelagi hanye manusie. Mendiang Atuk pun bilang, setinggi apepun kedudukan makhluk, tak kan selamanye berjaye.”

Pak Cik Bujang menjawab dengan gigi terkatup rapat. “Nasihat Atukmu tentu bagus. Tapi tetap tak baik mendekati Sultan.”

“Kenape hanye nak sekolah bise jadi soal tak baik?”

Alamak... peningnyelah kepaleku. “Sebetulnye ade rahasie lain. Sultan tu punye ilmu bise terbang, kebal senjate, hingge mengoyak besi. Tapi ilmunye akan hilang bile ade anak kecik yang tak die kenal datang mendekat. Kalau kau betul-betul nak disekolahkan Sultan, jangan kau buat die jadi lemah macam manusie biase.”

Irwansyah kembali tertawa. “Semue cerite Pak Cik tak masuk akal. Tapi, sebab Pak Cik melarang bersungguh-sungguh, Irwan janji tak kan mendekati Sultan.”

“Ah...” Pak Cik Bujang mengembuskan napas panjang. “Itulah tandenye kau memang anak pandai.”

Mobil kembali melaju meninggalkan jalan yang mulai ramai, sementara Pak Cik Bujang diam-diam bersyukur karena akhirnya berhasil menghentikan rentetan pertanyaan bocah itu.

***


Masjid Raya Al Mashun, Medan, Kesultanan Deli

Di hadapan mereka terbentang jantung Kota Medan. Jalan-jalannya lebar dan tertata rapi. Bangunan-bangunan bergaya Eropa berjajar anggun di kiri dan kanan jalan, menghadirkan suasana yang jauh berbeda dari kampung-kampung Melayu di pesisir. Tak heran jika orang-orang Belanda menjulukinya Paris van Sumatra.

Pada masa itu, Medan dan kawasan Sumatra Timur tumbuh menjadi salah satu pusat ekonomi paling pesat di Semenanjung Malaya. Kemakmurannya menarik orang-orang dari berbagai penjuru—baik dari pelosok Pulau Sumatra maupun negeri-negeri di seberang lautan—untuk datang mengadu nasib.

Di antara bangunan-bangunan megah itu, dua bangunan paling dibanggakan rakyat Melayu Deli menjulang anggun: Masjid Raya Al Mashun dan Istana Maimun.

Keduanya dibangun pada masa pemerintahan Sultan Ma'mun Al Rasyid dengan rancangan arsitek Belanda, Theodoor van Erp, yang kelak juga memimpin pemugaran Candi Borobudur. Perpaduan cita rasa Eropa, Timur Tengah, dan Melayu menjadikan kedua bangunan itu lambang kemegahan Kesultanan Deli.

Di tanah lapang seberang Masjid Raya Al Mashun, Pak Cik Bujang memarkir mobil di antara deretan jip militer Pemerintah Hindia Belanda. Kelak, tanah lapang itu akan disulap menjadi taman kota. Di sekitarnya tampak para opas, serdadu Belanda, serta prajurit Kesultanan Deli bercengkerama dalam kelompok mereka masing-masing. Pak Cik Bujang turun dari mobil sambil mengangkat tangan menyapa beberapa prajurit kesultanan yang dikenalnya.

Suara pintu mobil yang menutup membangunkan Sani.

Bocah itu mengusap matanya, lalu mengintip melalui jendela yang terbuka.

“Eh, Sani dah bangkit. Anak-anak tunggu di motor, ya. Pak Cik nak menjemput Entu sekejap.”

Irwansyah dan Sani mengangguk. Mereka memperhatikan Pak Cik Bujang yang berjalan menyeberangi jalan menuju halaman masjid.

Pandangan Irwansyah segera terpaku pada bangunan berkubah hitam itu. Belum pernah ia melihat masjid sebesar dan semegah itu. Kubahnya menjulang anggun, sementara dinding-dindingnya memancarkan wibawa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Seandainya Pak Cik Bujang tidak melarangnya turun dari mobil, ia pasti sudah berlari mendekat untuk melihatnya dari dekat.

Bertahun-tahun kemudian, Irwansyah akan mengetahui bahwa masjid itu memadukan tiga langgam arsitektur sekaligus—Melayu, Timur Tengah, dan Eropa. Denahnya berbentuk segi delapan, dihiasi marmer yang didatangkan dari Italia dan Jerman, kaca patri dari Tiongkok, serta lampu gantung dari Prancis. Namun pagi itu, ia hanyalah seorang bocah yang hanya bisa memandanginya dari kejauhan.

Perhatiannya kemudian beralih pada kerumunan orang yang keluar dari masjid. Seorang pria berpakaian kebesaran tampak menyalami rakyat satu demi satu.

“Apekah Sani tahu yang mane Sultan?” tanya Irwansyah.

“Itu, Wan. Yang berade di sebelah Entu.”

Irwansyah mengikuti arah telunjuk Tengku Sani.

Sultan Amaluddin Al Sani Perkasa Alamsyah terus melangkah perlahan sambil membalas salam rakyatnya. Sesampainya di depan sebuah Rolls-Royce, beliau menaiki mobil itu, lalu membuka jendela untuk melambaikan tangan kepada orang-orang yang masih berdiri di halaman masjid.

Ketika iring-iringan Sultan mulai bergerak meninggalkan halaman, Pak Cik Bujang datang bersama Tengku Rasyid.

“Anak-anak Entu dah lame menunggu?” tanya Tengku Rasyid begitu pintu mobil dibukakan.

Kedua anak itu segera mencium tangan beliau.

“Sani baru bangkit. Tak tahu lame atau tidak,” jawab Sani polos.

Tengku Rasyid terkekeh. “Tak ape. Biar badanmu segar. Hari ni perjalanan kite masih panjang.” Beliau menoleh kepada Irwansyah. “Ape Irwan dah puas keliling kote?”

“Sudah, Wak... eh... maaf... sudah, Entu.”

Senyum Tengku Rasyid semakin lebar. “Tak soal. Kau belum terbiase.” Beliau mengusap kepala Irwansyah dengan lembut. “Sebentar lagi kau akan melihat Istane Maimun. Nanti kelian boleh bermain di halamannye.”

Irwansyah tampak ingin mengatakan sesuatu. Namun, ia hanya melirik ke arah Pak Cik Bujang, seolah meminta izin.

Pak Cik Bujang langsung mengerti. “Tuanku, tadi Irwan bertanye ape die boleh berjumpe Sultan.”

Tengku Rasyid tersenyum. “Siape pun boleh berjumpe Sultan. Cume, tak mungkin seluruh waktu Baginde dipakai untuk melayani semue orang yang datang. Itulah sebabnye ade kami, pare bangsawan, yang membantu menjalankan tugas-tugas beliau.” Beliau menatap Irwansyah dengan hangat. “Kalau Irwan ingin menyampaikan sesuatu kepada Sultan, cakap saje pade Entu.”

Wajah Irwansyah seketika berbinar. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Medan, ia merasa bahwa impian besarnya untuk bersekolah mungkin bukan lagi sesuatu yang mustahil.

 ***


Istana Maimun, Medan, Kesultanan Deli

Begitu mobil memasuki halaman, Irwansyah kembali dibuat terpana. Istana Maimun berdiri tak jauh dari Masjid Raya Al Mashun. Bertahun-tahun kemudian, Irwansyah akan mengetahui bahwa istana itu juga merupakan karya Theodoor van Erp. 

Bangunan utamanya membentang megah, diapit sayap kiri dan sayap kanan yang berdiri di atas halaman begitu luas hingga rasanya tak habis dipandang.

Dinding-dindingnya didominasi warna kuning keemasan, warna kebesaran bangsa Melayu, sementara lengkung-lengkung bangunannya memadukan cita rasa Melayu, Timur Tengah, dan Eropa dalam satu kesatuan yang anggun.

Di ruang utama bangunan induk, Sultan Amaluddin Al Sani Perkasa Alamsyah tengah berbincang serius dengan Tengku Rasyid. Sebagai salah seorang bangsawan Kesultanan Deli, Tengku Rasyid mengurus urusan konsesi perkebunan tembakau antara kesultanan, pemerintah Hindia Belanda, dan Deli Maatschappij.

Sementara itu, kehidupan di halaman istana berjalan seperti biasa.

Di ujung sayap kanan, Pak Cik Bujang mengelap mobil sambil bergoyang mengikuti alunan musik yang mengalir dari serambi. Seorang pemain akordion, pemain biola, pemain rebab, serta para penari istana sedang berlatih untuk pertunjukan acara resmi kesultanan.

Lihat selengkapnya