Ambang Senja - Ujung Sejarah Melayu Deli dan Langkat

indra wibawa
Chapter #3

Bab 3. Jatuh Cinta

Madrasah Jam'iyah Mahmudiyah, Tanjung Pura, Kesultanan Langkat, 1934

Lonceng pulang baru saja berbunyi. Sebagian besar murid telah meninggalkan kelas. Mereka yang memiliki sepeda kumbang menuju tempat parkir, sementara yang berjalan kaki langsung melangkah ke luar gerbang sekolah. 

“Pulanglah kau lebih dulu, San,” ujar Irwansyah sambil memegang boncengan sepeda Sani.

“Ape kau masih ade urusan?” tanya Sani.

“Pak Abdullah minte aku menemuinye di ruang guru selepas sekolah.”

Sani meninju pelan bahu saudara angkatnya. “Ah, tak sedap betul jadi anak pandai. Ade saja urusan guru.”

“Kau pun beberapa kali dipanggil ke ruang guru,” balas Irwansyah sambil tersenyum.

“Tapi sebab betumbuk dengan murid lain. Ngejek kali kau!”

Mereka tertawa.

“Itulah kau, San. Buas kali!”

“Halah, kau ni macam tak same?”

“Itu kan jauh dari sekolah.”

Sani mencibir. “Bile kau libas orang di sini dan ade yang melapor?” Ia lalu menirukan suara guru dengan nada dibuat-buat. “Tak mungkinlah muridku yang lembut hati tu berkelahi—”

“Berlebihan kali, kau.”

“Rupe budak ni saje yang macam anak baik-baik. Tapi sekali meletup, beguncang bumi ni. Penipu, kau, Wan!”

Gelak tawa mereka kembali pecah.

Di belakang Irwansyah, serombongan siswi berkerudung berjalan menuju deretan sepeda.

“Aku kan begitu bukan sebab perkare sepele macam kau, San.”

Sani tak lagi mendengarkan. Pandangannya justru mengikuti rombongan gadis itu.

“Eh, San. Aku sedang bicare.” Irwansyah menggoyangkan stang sepeda saudaranya. “Tak usah kau pandangi anak-anak gadis tu.”

Sani menarik bahu Irwansyah hingga berdiri lebih dekat. “Satu daripada gadis-gadis tu sering kujumpe di Istane. Kabarnye die pun pandai di sekolah. Ha, cocok, kan?”

Wajah Irwansyah seketika berubah kikuk. “San, tak usah kau pandangi terus. Nanti ketahuan kau membicarekannye.”

“Menurutku die pun paling cantik. Bile kau suke—”

Irwansyah buru-buru meluruskan posisi sepeda Sani. “Ah, lekaslah kau pulang! Nanti Pak Abdullah mencariku.”

Sani tergelak. “Ah, kau ni! Baru nak kujodohkan dengan yang sepadan, keringat dingin. Tak jadilah!” Ia bersiap mengayuh. “Kau kencing di celana, awak pulak yang ikut malu.”

Masih tertawa, Sani mengayuh sepeda kumbangnya meninggalkan Irwansyah.

Tak lama kemudian, rombongan siswi itu tiba di tempat parkir dan mengambil sepeda masing-masing.

“Assalamualaikum, Bang Irwan,” sapa mereka hampir bersamaan.

“Wa'alaikumussalam, adek-adek. Permisi,” jawab Irwansyah gugup sambil segera menjauh.

Di sekolah ini, ruang belajar murid laki-laki dan perempuan dipisahkan. Karena itu, mereka yang berbeda jenis jarang saling mengenal. Meski begitu, nama Irwansyah cukup dikenal di kalangan siswi. Beberapa guru kerap memintanya membantu mengajar bahasa Belanda di kelas perempuan.

Dari sekian banyak siswi yang pernah diajar, ada satu yang diam-diam selalu mencuri perhatian Irwansyah.

Gadis itu paling aktif berdiskusi. Ia tak segan mengajukan pertanyaan, bahkan berani berdebat dengan argumen yang tajam, karena kemampuan bahasa Belandanya pun hampir menyamai Irwansyah.

Namanya Tengku Farisya. Tanpa pernah berani mengungkapkannya kepada siapa pun, Irwansyah telah lama jatuh hati kepadanya. Sayangnya, keberaniannya hanya muncul ketika menghadapi pelajaran. Untuk urusan mendekati perempuan yang disukainya, ia selalu kehilangan kata-kata.

***


Istana Darussalam dan Darul Aman, Tanjung Pura, Kesultanan Langkat, 1935

Sultan Mahmud Abdul Jalil Rakhmat Shah mengundang beberapa pemuda bangsawan Langkat ke istana untuk beramah-tamah sekaligus berkenalan dengan generasi penerus.

Di antara mereka, Irwansyah merupakan tamu undangan khusus dari Sultan, sebagai penghargaan atas prestasinya sebagai lulusan terbaik Madrasah Jam'iyah Mahmudiyah.

Sepanjang perbincangan, Irwansyah berkali-kali menarik perhatian Sultan. Ia berani mengusulkan agar Kesultanan Langkat memperkuat posisi tawarnya kepada pemerintah Hindia Belanda dalam urusan konsesi minyak di Koninklijke Nederlandsche Petroleum Maatschappij karena kelangkaannya. Ia juga sempat beradu argumen dengan seorang bangsawan bernama Tengku Usman, walau tetap dalam suasana penuh kehangatan.

Seusai pertemuan, Sultan mengajaknya berkeliling istana berdua agar dapat berbincang lebih leluasa tentang masa depan Kesultanan Langkat.

Hari ini menjadi kali pertama Irwansyah menginjakkan kaki di lingkungan istana Langkat, melihat beberapa ruang dan mendengar penjelasannya. Sebelumnya ia hanya melihat dari jauh.

Kesultanan Langkat memiliki dua istana saling berhadapan yang dipisahkan Jalan Raya Tanjung Pura. 

Di satu sisi berdiri Istana Darul Aman, peninggalan Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah, dengan arsitektur bergaya Timur Tengah yang ditandai serambi melingkar dan dua menara berkubah.

Di seberangnya berdiri Istana Darussalam, dibangun Sultan Abdul Aziz, ayahanda Sultan Mahmud. Bangunannya memadukan unsur Melayu dan Tiongkok dengan bentuk atap menyerupai pagoda. Dari halaman belakangnya terbentang sebuah pelabuhan kecil tempat perahu-perahu hilir mudik di Sungai Batang Durian.

Setelah puas berkeliling dan berdiskusi, Sultan mempersilakan Irwansyah pulang. Baru beberapa langkah meninggalkan istana, Irwansyah teringat buku-bukunya yang tadi ditinggalkan di serambi Istana Darul Aman. Ia pun menyeberangi Jalan Raya Tanjung Pura.

Sesampainya di serambi, langkahnya terhenti.

Farisya. Gadis yang selama ini diam-diam memenuhi pikirannya sedang duduk seorang diri, membaca salah satu buku miliknya. Jantung Irwansyah mendadak berdegup lebih kencang. Perlahan ia melangkah mendekat. 

Inilah kesempatannye. Aku harus berani menyape agar kami lebih saling mengenal.

Namun, baru beberapa langkah, keberaniannya mulai runtuh.

Ya Allah... Bukankah berarti die anak bangsawan.

Kakinya melambat. 

Manelah die sudi didekati pemude biase macam aku.

Suara lain seolah berbisik di dalam benaknya. 

Kau ni hanye anak angkat keluarga bangsawan. Tak setetes pun darah Tengku Rasyid mengalir dalam tubuhmu.

Langkahnya benar-benar terhenti.

“Farisya!” Suara seseorang memanggil dari dalam istana.

Farisya menutup buku yang sedang dibacanya. Saat mengangkat kepala, pandangannya bertemu dengan Irwansyah.

Untuk beberapa detik, mereka saling menatap tanpa sepatah kata.

“Farisya! Di mane kau, Nak?”

Tanpa mengalihkan pandangan, Farisya menghadiahkan sebuah senyum kecil kepada Irwansyah. Sesaat kemudian, ia berbalik dan bergegas masuk ke dalam istana, bahkan sebelum Irwansyah sempat membalas senyumnya.

Irwansyah tetap berdiri di tempatnya. Angin sore berembus pelan, tetapi tak mampu mengusir sesak yang memenuhi dadanya.

Beginilah rasanye mencintai seseorang yang begitu jauh untuk digapai.

***


Koninklijke Nederlandsche Petroleum Maatschappij, Pangkalan Brandan, Kesultanan Langkat, 1937

Dua tahun telah berlalu sejak Irwansyah terakhir kali melihat Farisya. Gadis yang dianggapnya terlalu tinggi untuk diraih itu tak pernah lagi hadir dalam hidupnya, tetapi perasaan yang tumbuh di hatinya belum juga pudar. Beruntung, kesibukan perlahan mengalihkan rasa kehilangan itu.

Atas penugasan Sultan Langkat, Irwansyah menghabiskan dua tahun di Pangkalan Brandan sebagai wakil kesultanan di perusahaan Koninklijke Nederlandsche Petroleum Maatschappij. 

Dunia perminyakan membuka begitu banyak pengetahuan baru yang tak pernah ia temui di bangku sekolah. Penugasan itu memang dirancang sebagai bekal sebelum Sultan mengirimnya melanjutkan studi ke Universitas Leiden, Belanda.

Kesibukan pekerjaannya nyaris menyita seluruh waktu Irwansyah. Bahkan untuk mengunjungi keluarga Tengku Rasyid di Medan, ia hanya memiliki kesempatan saat libur panjang atau cuti Hari Raya. Pada saat-saat itulah ia dapat kembali bertemu Sani. 

Kini Sani membantu Tengku Rasyid mengurus Deli Maatschappij, tetapi waktunya lebih banyak dipakai untuk berbisnis sendiri.

***


Irwansyah menyusuri deretan pipa baja sambil berdiskusi dengan seorang insinyur perminyakan asal Belanda. Sesekali ia berhenti mencatat sesuatu di buku kecil yang selalu dibawanya, lalu kembali mengajukan pertanyaan.

Dari balik jendela kaca di lantai atas, seorang pegawai Belanda bertubuh tambun memperhatikannya tanpa berkedip.

“Anak itu belajar luar biasa cepat,” katanya kepada rekan berjanggut lebat yang sedang memeriksa setumpuk dokumen di atas meja. “Belum pernah kulihat orang serajin dia.”

Percakapan mereka berlangsung dalam bahasa Belanda.

Willem van Dijk tidak segera menjawab. Matanya tetap menelusuri lembar demi lembar laporan sebelum akhirnya berkata, “Ya. Dia ingin memahami segalanya. Apa pun yang belum dikuasainya, akan dipelajarinya.” Ia meletakkan dokumen di atas meja. “Masalahnya, aku sendiri tak lagi tahu bidang apa yang benar-benar menjadi keahliannya.”

Pegawai bertubuh tambun terkekeh. “Mungkin semua bidang.” Ia mengambil salah satu laporan keuangan dan mengangkatnya. “Lihat ini. Sejak dia membantu menyusun pembukuan, tak ada lagi angka yang harus kita koreksi.”

“Aku tak membantah.” Dijk merapikan tumpukan dokumen, lalu berjalan mendekati jendela. “Justru itulah yang membuat kantor ini semakin tidak profesional.”

Pegawai bertubuh tambun ikut berdiri di sampingnya. Dari balik kaca, keduanya kembali memperhatikan Irwansyah yang masih tekun berdiskusi di antara jalur-jalur pipa.

“Dia menguasai akuntansi, memahami hukum, bahkan mampu membuat gambar teknik.” Dijk mengembuskan napas pelan. “Dengan cara begini, jangan-jangan sebentar lagi urusan kilang minyak pun akan diserahkan kepadanya.”

“Bukankah itu kabar baik?” Pegawai bertubuh tambun tertawa lepas. “Kalau begitu kita semua bisa tidur siang dengan gaji penuh.”

Seolah menyadari dirinya sedang diperhatikan, Irwansyah mendongak ke arah jendela.

Pegawai bertubuh tambun melambaikan tangan. Irwansyah membalasnya dengan senyum kecil sebelum kembali melanjutkan diskusinya.

“Kenapa kau terdengar tidak menyukainya?” tanya pegawai bertubuh tambun.

Dijk mengusap janggutnya perlahan. “Siapa bilang? Justru aku mengagumi kemampuannya mengambil hati orang.”

“Maksudmu?”

“Bukankah dia berhasil membuat kalian lupa akan sesuatu?”

“Lupa apa?”

“Kalian menghormatinya, bahkan memperlakukannya seolah setara dengan kita.” Dijk tersenyum tipis. “Padahal usianya jauh lebih muda dari kita semua.”

“Jangan jadikan usia alasan untuk berpikiran sempit.” Pria bertubuh tambun menyandarkan punggung ke jendela. “Di kantor ini juga banyak pegawai muda.”

“Benar.” Pria berjanggut mengangguk. “Tapi hanya dia satu-satunya pribumi yang bukan pekerja kasar. Ayehnya, tak seorang pun mempermasalahkan asal-usulnya. Kalian justru melayani setiap pertanyaannya seolah rasa ingin tahunya tak pernah mengganggu.”

Pria bertubuh tambun terkekeh. “Kau masih saja memandang orang dari rasnya. Jangan-jangan kau lebih cocok tinggal di Jerman.”

“Ini bukan soal ras.” Nada suara Dijk tetap tenang. “Jangan lupa tujuan bangsa kita berada di negeri ini. Semakin banyak pribumi terdidik, semakin besar pula kemungkinan mereka mempertanyakan mengapa negeri mereka diperintah bangsa lain. Kesadaran semacam itu selalu melahirkan perlawanan.”

Pria bertubuh tambun menepuk bahunya sambil tertawa. “Tenang saja. Baru satu orang seperti Irwansyah.”

Dijk menggeleng pelan. “Bukan. Baru satu yang kita kenal.”

Tawa pria bertubuh tambun perlahan mereda. “Astaga. Apa sebenarnya yang sedang kau pikirkan?”

“Kewaspadaan.” Ia kembali ke meja kerjanya dan duduk perlahan.

“Sejak Sultan Langkat mendirikan sekolah itu, aku mulai curiga. Pendidikan bukan sekadar mengajarkan orang membaca atau berhitung. Pendidikan membangunkan kesadaran. Dan kesadaran sering kali melahirkan keberanian untuk melawan.”

“Kalau begitu, kau terlalu jauh berpikir.” Pria bertubuh tambun ikut duduk di hadapannya. “Hubungan Kesultanan Langkat dengan pemerintah Belanda sudah terjalin baik selama bertahun-tahun. Lagi pula, apa arti kesadaran tanpa senjata? Aku tak melihat Sultan memiliki kekuatan militer yang mampu menantang kita.”

Dijk tersenyum tipis. “Ternyata bukan aku yang berpikiran sempit.”

“Menurutku kau bersikap tegang, mungkin terlalu banyak memikirkan politik.” Pria bertubuh tambun tertawa kecil. “Kita ini pegawai profesional. Untuk apa ikut memusingkan urusan pemerintah?”

“Lalu menurutmu, apa yang sedang dilakukan pemerintah di sini sehingga mau membayar kita begitu mahal?”

Pria bertubuh tambun terdiam sejenak sebelum tersenyum pahit. “Baiklah, memang untuk mengeruk kekayaan negeri ini.”

“Nah, akhirnya kau mengingat tujuan kita.”

“Maksudku begini.” Pria bertubuh tambun tertawa pelan. “Kita sedang membicarakan Irwansyah. Dia hanya pekerja yang rajin. Selama ini aku tak pernah mendengarnya berbicara tentang politik, apalagi menentang pemerintah.”

“Kau bilang dia cerdas.” Dijk menatap lurus ke arah rekannya. “Menurutmu, orang sepandai itu akan membicarakan isi kepalanya yang berbahaya kepada kita?”

“Kalau aku berada di posisinya, menjadi pribumi dengan jabatan sebagus itu, aku tak akan mencari masalah dengan pemerintah.”

Dijk tersenyum samar. “Menurutmu, dia tampak seperti orang yang mengejar jabatan atau kekayaan?” Ia meraih setumpuk uang gulden dari laci meja, lalu meletakkannya di hadapan rekannya. “Aku mengajakmu bertaruh.”

“Tentang apa?”

“Suatu hari nanti, Irwansyah akan berdiri menentang pemerintah kita. Kalau aku salah, semua uang ini menjadi milikmu.”

Pria bertubuh tambun menatap tumpukan uang itu cukup lama. Kemudian ia mendorongnya kembali. “Simpan saja uangmu.”

“Kenapa?”

Ia tertawa lepas. “Bagaimana mungkin kita bertaruh kalau tebakan kita ternyata sama?”

***


Telaga Tunggal, Kesultanan Langkat

Derit rem memecah kesunyian jalan desa. Sebuah mobil yang di dalamnya ada sepasang bangsawan pribumi melaju kencang sebelum berhenti mendadak dengan posisi menyerong, nyaris berputar setengah lingkaran.

Sebelumnya, pengemudinya asyik bercakap sambil menoleh kepada kekasih yang duduk di sebelahnya. Karena itu, dia tak menyadari serombongan kerbau sedang menyeberangi jalan menuju sawah di seberang.

“Verdomme!” Napasnya memburu. Ia menoleh ke arah kekasihnya. “Kau tak terluke, Dek?”

Perempuan itu tak menjawab. Wajahnya pucat, antara kesal dan ketakutan.

Pria itu segera keluar dari mobil, lalu membanting pintunya keras-keras. “Verdomme!” Dengan langkah lebar, ia menghampiri seorang petani yang sedang sibuk menggiring kerbau-kerbaunya. “Bodohnye kau!”

Tangannya langsung mencengkeram baju lusuh si petani.

“Ampun, Tuan!” pekik petani itu tanpa sedikit pun melawan.

Di seberang jalan, Irwansyah segera turun dari sepeda kumbangnya. Namun, barisan kerbau yang belum selesai menyeberang menghalanginya.

“Kenape kau biarkan lembu-lembu ni memenuhi jalan?” bentak pria itu.

“Kami nak membajak sawah di seberang, Tuan,” jawab si petani lirih.

Pria bersetelan jas itu melepaskan cengkeramannya.

TIN! TIN!

“Bang, lama kali! Lekas!”

TIN! TIN!

Suara klakson dari mobil membuat emosinya kembali memuncak. “Kalau begitu, sorong cepat lembu-lembu ni!”

Ia mendorong tubuh si petani hingga terjerembap ke tanah.

Saat itu pula Irwansyah berhasil melewati kawanan kerbau. Ia bergegas menghampiri petani tersebut.

“Tak ape-ape, Wak?”

“Hanye jatuh. Tak usah kuatir,” jawab lelaki tua itu sambil mengusap pinggangnya yang nyeri.

Irwansyah membantunya berdiri, lalu menoleh kepada pria bersetelan jas. “Janganlah begitu, Bang. Awak tengok motor Abang tadi memang terlalu laju.”

“Siape kau?” bentaknya. “Bijak betul muncungmu.”

“Sudahlah, Bang.” Nada suara Irwansyah tetap tenang. “Daripade kite bertengkar, lebih baik kite same-same halau lembu-lembu ni. Jalan lekas kosong, Abang bise meneruskan perjalanan.”

“Babi! Tak usah kau atur aku!”

Pria itu melangkah maju hendak mendorong Irwansyah. Namun sebelum kedua tangannya sempat menyentuh dada Irwansyah, pergelangan tangannya lebih dulu dikunci. Dalam satu gerakan cepat, tubuh pria itu terangkat lalu menghantam tanah.

Ia segera bergeser mundur dengan wajah terkejut, khawatir akan menerima serangan berikutnya.

Namun Irwansyah justru mengulurkan tangan. “Sudahlah, Bang. Tak perlu ade kekerasan lagi.”

Pria itu menepis uluran tangan tersebut, lalu bangkit sendiri sambil membersihkan pakaiannya.

Perempuan yang sejak tadi berada di dalam mobil akhirnya turun. 

“Hey! Siape kau?” hardiknya sambil menghampiri Irwansyah. “Berani betul kau! Tahu siape kami?”

“Sudahlah, Kak,” jawab Irwansyah tenang.

“Sudah ape? Yang kau sorong tu Tengku Syahroni, anak bangsawan penting di Langkat!”

Irwansyah tidak menghiraukannya.

“Aku pun anak bangsawan Deli! Sebut namamu! Biar nanti hulubalang mencarimu! Kalau perlu, kusuruh tentera Belande menangkapmu!”

“Nama awak Irwansyah, Kak.”

“Di mane kau tinggal?”

“Di asrama Koninklijke Nederlandsche Petroleum Maatschappij.”

Mendengar jawaban itu, pria bersetelan jas segera menarik lengan pasangannya. “Sudahlah.”

“Kenape?”

“Sudah kubilang.”

Lihat selengkapnya