Ambang Senja - Ujung Sejarah Melayu Deli dan Langkat

indra wibawa
Chapter #4

Bab 4. Sang Penghasut

Penang Hospital, Penang, Malaysia, 1990

Pagi itu, Rizal kembali menjenguk Atuk Irwansyah. Beliau masih tertidur seorang diri di kamar. Sambil menunggu, ia mengambil buku catatannya untuk membaca hal-hal menarik dari kisah hidup Atuk.

Tiba-tiba terdengar salam disusul ketukan di pintu.

Rizal segera membukanya. "Waalaikumussalam."

Rizal dan perempuan yang berdiri di hadapannya sama-sama tertegun.

"Fania?"

Selama lima tahun, berkali-kali Rizal membayangkan seperti apa wajahnya jika mereka bertemu lagi. Namun, tak pernah sekalipun ia bayangkan pertemuan itu terjadi di depan kamar rawat Atuk Irwansyah.

Tatapan Fania tetap dingin. Tanpa sepatah kata, ia melewati Rizal dan masuk ke dalam.

Rizal mengikutinya. "Fan, kamu cucu Atuk Irwansyah?"

Ia tidak menjawab. Langsung menghampiri ranjang, ia mencium tangan Atuk Irwansyah yang baru saja terbangun.

Atuk Irwansyah bangkit lalu bersandar di kepala ranjang.

"Kemari, Zal. Fania, ini—"

"Fania sudah kenal orang ini, Tuk," potong Fania dingin.

***


Rizal dan Fania duduk berhadapan di kantin rumah sakit, berusaha menyelesaikan persoalan yang menggantung di antara kami.

"Maafkan aku, Fania," ucap Rizal lirih.

"Itu udah enggak penting lagi, Zal. Sudah lima tahun berlalu. Kamu minta maaf karena kita enggak sengaja ketemu di sini, kan?" balasnya sambil menatap tajam.

"Kasih aku kesempatan buat ngejelasin kenapa aku tiba-tiba menghilang tanpa kabar."

"Mudah ditebak." Ia menyandarkan tubuh ke kursi. "Kamu selalu minder karena perbedaan ekonomi kita. Kamu ngerasa enggak punya masa depan, lalu menghilang supaya aku bisa dapat pasangan yang lebih sepadan. Itu, kan, yang mau kamu jelasin?"

Rizal terdiam. Memang tidak ada alasan lain.

Tatapan Fania terasa setajam pisau.

"Masalahmu sebenarnya bukan ekonomi." Ia berhenti sejenak, seolah sengaja memberiku waktu mencerna ucapannya. "Tapi sombong."

Dada Rizal seperti dipukul. "Aku sombong?"

"Iya." Nada suaranya meninggi. "Setiap ada yang mau bantu, selalu kamu tolak. Bantuan dari aku, bantuan dari siapa pun. Itu namanya sombong."

Rizal memilih diam.

"Oke, harga dirimu terlalu tinggi buat nerima bantuan uang. Aku coba cara lain. Aku kenalin kamu ke relasi yang bisa ngasih pekerjaan, tetap aja kamu tolak."

Rizal memberi ruang baginya meluapkan semua kekesalan.

"Jangan memonopoli kebaikan, Zal." Suaranya mulai bergetar. "Kamu selalu nolong orang lain. Memangnya apa salahnya kalau sekarang gantian? Kasih juga kesempatan orang lain buat nolong kamu."

Rizal tetap diam hingga ia selesai berbicara.

Hening menyelimuti meja kami.

"Semua yang kamu bilang benar," kata Rizal akhirnya. "Karena itu, sekarang aku cuma bisa berharap kamu mau memaafkan kesalahanku."

Kami kembali terdiam cukup lama.

"Apa kamu akhirnya berhasil mencapai keinginanmu?" tanyanya.

Rizal mengangguk pelan. "Alhamdulillah."

"Dan selama itu kamu enggak pernah kepikiran cari aku?"

"Setiap pulang ke Jakarta, aku selalu nyari kamu."

Fania menggeleng pelan, jelas tidak percaya.

"Fan, keluargamu sudah pindah dari Kemang, kan?"

"Hm, iya. Terus?"

"Orang bule yang beli rumahmu bilang dia enggak tahu alamat baru kalian."

"Terus?"

"Terakhir aku datang ke sana, dia sampai marah. Dia ngancam bakal lapor polisi kalau aku datang lagi."

"Siapa suruh pergi tanpa kabar?"

Sudut bibir Fania terangkat, nyaris tertawa.

"Jadi... kamu mau maafin aku?"

Fania menatap Rizal beberapa detik. Untuk sesaat Rizal mengira ia akan menjawab. Namun akhirnya ia hanya mengembuskan napas pelan, lalu berbalik meninggalkannya.

Rizal tidak mengejarnya.

Selama lima tahun, Rizal selalu menganggap kehilangan Fania sebagai pengorbanan yang harus dia lakukan demi masa depan mereka. Baru hari ini disadarinya, mungkin yang dia lakukan bukan pengorbanan, melainkan pengecut.

Jika Fania belum sanggup memaafkanku, itu adalah harga yang memang harus kubayar.

***


Ketika kembali ke kamar rawat, Atuk Irwansyah memandang Rizal sekilas. Beliau tidak bertanya apa pun, seolah sudah mengetahui apa yang baru saja terjadi.

"Ayo, Zal," ujarnya sambil tersenyum tipis. "Masih banyak cerita yang belum Atuk selesaikan. Kalau kau masih bersedia menemani orang tua ini, kita lanjutkan, tapi tentu tidak di rumah sakit. Aku sudah boleh pulang. Nanti kuminta Fania ikut mendengar, mumpung kuliahnya libur."

Rizal melirik sekilas Fania yang masih cemberut.

“Selama libur kamu mau menemani Atuk, Fan?”

Fania hanya mengangkat alis.

“Fania pasti tak mau Atuk pingsan lagi sendirian, betulkan?” tanya Atuk Irwansyah.

“Fania mau nemenin Atuk.” Jawab Fania sambil mencibir ke Rizal.

“Saya punya usul.” Rizal tersenyum curang “Menurutku, kisah Atuk akan lebih seru jika kami mendengarnya di… Medan.”

“Ah, betul itu!” sambut Atuk Irwansyah antusias.

Rizal tersenyum lalu menoleh Fania yang mendelik padanya sambil menggelengkan kepala.

***


Rumah Tengku Rasyid, Medan, Kesultanan Deli, 1938

Suasana bahagia menyelimuti keluarga Tengku Rasyid. Sani dan Aisyah baru saja merayakan pernikahan mereka. Malam itu, seluruh keluarga berkumpul menikmati makan malam bersama.

Usai makan, Aisyah menggeser mangkuk cuci tangan dan selembar serbet ke hadapan suaminya.

"Makasih, Dek."

Selesai mengeringkan tangan, Sani menoleh ke arah Irwansyah.

"Kuajak bersanding berempat tak mau. Gigit jari lah kau."

Irwansyah hanya tersenyum sambil menggeleng.

"Mulai malam ni, kau betul-betul harus panggil aku Abang, kerana aku lebih dulu menikah. Paham?" godanya.

"Paham, Abangku."

Tengku Rasyid dan istrinya saling bertukar senyum.

Tengku Rasyid kemudian memandang Irwansyah. "Masih ade waktu, Wan. Nak kite pinang Farisya sebelum kau ke Belande?"

"Ha! Apelagi?" seru Sani sambil menepuk meja.

"Memangnye keluarge Farisya dah tahu hubungan anak kite?" tanya istri Tengku Rasyid.

"Sudah, Mak." Sani kembali menyela. "Tapi adek lajangku ni gemar kali menimbang sampai ke hal-hal kecil. Macam pemilik kedai perhiasan emas."

Mereka tergelak.

"Betul, Wan?" tanya sang ibu.

"Betul, Mak."

"Dan nampaknye mereka merestui hubungan kelian?"

"Nampaknye begitu."

"Nah, lekas tentukan tanggal. Kapan kau nak kami antar?" desak Sani.

"Ramai betul kicau burung di sebelah awak ni," balas Irwansyah seraya menutup mulut Sani dengan serbet.

Gelak tawa pun pecah.

"Bukan Irwan tak nak. Tapi abang awak ni kan baru menikah. Manalah elok bile tak berjarak."

"Tak soal," ujar Tengku Rasyid santai.

"Ha!" Sani menepuk bahu Irwansyah.

"Diam kau! Mau kujejalkan tulang ikan ni ke mulutmu?" ancam Irwansyah.

Semua kembali tertawa.

"Lagi pule, pikiran Irwan harus tertuju hanye pade kuliah biar lekas selesai. Habis tu kami bise menikah."

"Wan," ujar istri Tengku Rasyid lembut, "perempuan secantik Farisya pasti banyak yang nak meminangnye. Emak tak nak kau pulang dari Belande dengan hati yang patah."

"Farisya bilang die tak masalah menunggu Irwan."

"Die mungkin nak menunggu. Tapi Tengku Hasyim dan bininye belum tentu berpikiran same. Orang tue perlu mempertimbangkan segale kemungkinan."

Irwansyah terdiam. Ia tak memiliki jawaban.

Tengku Rasyid tersenyum bijak.

"Sudahlah. Jodoh, maut, dan rezeki, Allah yang mengatur. Bile anak kite nak menikah dulu, menikahlah. Bile nak kuliah dulu, kuliah."

"Iyelah."Istri Tengku Rasyid berdiri, lalu mengusap lembut bahu Irwansyah. Selagi ade waktu, pikirkanlah baik-baik. Apa pun keputusanmu, keluarge ni akan tetap mendukung."

"Baik, Mak."

"Satu lagi." Beliau tersenyum hangat. "Kalau memang kalian memilih menunde, jangan buat hati perempuan yang menunggumu kecewe."

"Insya Allah, Mak."

"Ah, mengkek betul si bungsu ni." Sani bangkit lalu menepuk pundak Irwansyah. "Selepas makan, kawani aku cari angin."

Lihat selengkapnya